Dark/Light Mode

Setahun Asta Cita, Prabowo Dipuji Sukses Memainkan Peran Di Panggung Dunia

Kamis, 30 Oktober 2025 10:55 WIB
Diskusi bertajuk Sketsa Diplomasi dan Pertahanan Nasional sekaligus bedah buku karya Dr. Ngasiman Djoyonegoro (Simon) di kampus UIN Jakarta, Selasa (28/10). Foto: Ist
Diskusi bertajuk Sketsa Diplomasi dan Pertahanan Nasional sekaligus bedah buku karya Dr. Ngasiman Djoyonegoro (Simon) di kampus UIN Jakarta, Selasa (28/10). Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah pakar memuji langkah diplomasi dan pertahanan Presiden Prabowo Subianto dalam satu tahun program Asta Cita. Prabowo dinilai sukses memainkan peran di panggung dunia, memanfaatkan prinsip politik bebas aktif di tengah tatanan global yang berubah.

Pujian itu mengemuka dalam diskusi "Deep Talk" yang digelar PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara ini digelar di kampus UIN Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Diskusi bertajuk "Sketsa Diplomasi & Pertahanan Nasional" itu sekaligus membedah buku karya Dr. Ngasiman Djoyonegoro (Simon). 

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN, Prof. Dr. Muhammad Maksum, membuka diskusi tersebut. Ia mengatakan bahwa hukum erat kaitannya dengan diplomasi dan politik.

Menurutnya, sejumlah kebijakan nasional adalah realisasi dari komitmen global yang dihasilkan berkat diplomasi.

“Hukum tidak bisa dipisahkan dari politik, yang di dalamnya ada diplomasi. Hukum adalah produk politik. Dalam buku yang ditulis Dr. Ngasiman Djoyonegoro ini banyak pelajaran yang dapat diambil," kata Muhammad Maksum.

Baca juga : Revitalisasi Rusun Marunda Dimulai 2024, Bongkar 5 Tower dan Dibangun Ulang

Penulis buku, Simon menyoroti langkah terukur Prabowo sejak dinyatakan sebagai presiden terpilih pada 2024 lalu. Ia mencontohkan kemampuan Prabowo melawat ke China dan Amerika Serikat (AS) dalam satu rangkaian waktu. 

Selain itu, Indonesia juga tergabung dalam BRICS+ sekaligus diterima oleh G7, padahal kedua kubu itu sedang berseteru sengit.

"Presiden berhasil memainkan peran signifikan dan membuat nyata prinsip politik bebas aktif Indonesia,” kata Simon.

Pakar intelijen dan pertahanan nasional, Stepi Anriani, sepakat. Ia menyebut dunia saat ini sedang terbagi dalam kekuatan besar, dan Indonesia memanfaatkan momentum itu.

Menurutnya, Presiden Prabowo sedang menunjukkan bagaimana politik bebas aktif "dimainkan" secara cerdik di panggung global. "Di satu sektor bisa tidak sepakat, tapi di sektor lain kerjasama dengan baik," kata Stepi.

Ia mencontohkan sikap Indonesia terhadap China. Indonesia berseteru di Laut China Selatan, tetapi akur dalam kerjasama ekonomi. “Ini yang sedang dimainkan oleh Presiden Prabowo,” jelasnya.

Baca juga : Di KTT ASEAN, Trump Dan Prabowo Saling Beri Pujian Soal Perdamaian Dunia

Pakar diplomasi dari President University, Abdul Wahid Maktub, menyebut tatanan dunia lama sudah tidak relevan lagi. Ia menilai banyak negara, termasuk kekuatan besar, melakukan kesalahan kalkulasi geopolitik.

“Israel menyerang Hamas, secara kalkulasi militer itu only seminggu selesai. Nyatanya sampai dua tahun,” katanya. Amerika, lanjutnya, juga mengalami salah kalkulasi saat berhadapan dengan China.

Di sisi geoekonomi, pengajar HI UIN Jakarta, Atep Abdurofiq, menilai Indonesia sudah berada di jalur yang tepat. Posisi sentral Indonesia dimanfaatkan Prabowo. 

"Indonesia sedang on the track dengan memanfaatkan daya tawar critical mineral dan hilirisasi,” kata Atep.

Anggota Komisi XI DPR, Hasanuddin Wahid, menyoroti penyeimbangan tiga kekuatan: hard power (militer), soft power (diplomasi), dan smart power (kecerdasan).

Menurutnya, hard power Indonesia telah dibangun lewat industri pertahanan. Sementara soft power Prabowo dinilai kuat karena pengalaman panjangnya di kancah global. Namun, Hasanuddin memberi catatan kritis soal smart power.

Baca juga : Ini Cerita AgenBRILink, Penghubung Akses Keuangan Petani Kakao Di Papua

“Saat ini kita belum melakukannya secara terukur dan sistematis. Tanpa tiga hal ini, kita sulit untuk menjadi negara disegani,” kata Hasan.

Terkait hard power, Staf Ahli KASAL Bidang Keamanan Laut, Dwi Sulaksono, memberi pandangan tegas. Menurutnya, militer harus diperkuat untuk melindungi bangsa. 

“Kalau kita mau membangun perdamaian, kita harus siap perang,” kata Dwi Sulaksono.

Sementara itu, Sekretaris Umum ISNU, Wardi Taufiq, mengungkap alasan diskusi ini. Pihaknya ingin membangun kembali kepakaran di tengah hingar bingar media sosial.

"Di tengah matinya kepakaran, sulit membedakan antara pengetahuan dan opini, antara data dan prasangka," kata Wardi Taufiq.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.