Dark/Light Mode

Sekolah Damai di Bali Bentengi Siswa dari Ideologi Intoleran dan Kekerasan

Jumat, 7 November 2025 09:28 WIB
Kegiatan Sekolah Damai di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Kamis (6/11/2025). (Foto: Dok. BNPT)
Kegiatan Sekolah Damai di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Kamis (6/11/2025). (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam upaya memperkuat ketahanan dunia pendidikan dari ancaman ideologi transnasional seperti intoleransi, kekerasan, dan perundungan (bullying), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyelenggarakan kegiatan Sekolah Damai di Provinsi Bali.

Kegiatan ini digelar di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Kamis (6/11/2025), dengan tema “Menumbuhkan Ketahanan Satuan Pendidikan dalam Menolak Paham Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying di Bali”. Peserta kegiatan berasal dari kalangan guru sekolah menengah atas di seluruh wilayah Bali.

Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Irfan Idris, menegaskan pentingnya menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa yang mempersatukan berbagai perbedaan suku, agama, dan budaya di Indonesia.

“Siswa merupakan kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh ideologi radikal karena mereka masih muda dan sedang dalam masa pencarian jati diri. Di sinilah pentingnya peran guru sebagai pembimbing yang mampu memberikan arah dan teladan yang benar,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (7/11/2025).

Ia mengingatkan para guru agar peka terhadap perubahan perilaku siswanya. “Gejala awal bisa dilihat dari perubahan sikap, bahasa, atau gestur yang tidak wajar dibandingkan dengan siswa lain. Itu bisa jadi indikasi awal adanya pengaruh paham intoleransi, radikalisme, hingga terorisme,” jelasnya.

Baca juga : Strategi Energi Hijau dan Optimisme Migas Indonesia

Prof. Irfan juga menyoroti hasil survei yang menunjukkan sebagian generasi muda mulai meragukan relevansi Pancasila. “Lebih dari separuh generasi muda saat ini beranggapan bahwa Pancasila tidak lagi relevan sebagai ideologi negara. Ini tentu sangat berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan kebangsaan kita,” tegasnya.

Ia menambahkan, penyebaran ideologi radikal kini banyak dilakukan secara daring. “Sekarang, kelompok teror melakukan perekrutan lewat media sosial, platform digital, bahkan permainan daring (game online). Generasi muda jadi makin rentan jika tidak dibentengi literasi digital dan pemahaman kebangsaan yang kuat,” terang Prof. Irfan.

Perwakilan Kepala Disdikpora Bali, A.A. Istri Vera Laksmi Dewi, menegaskan bahwa Bali harus terus menjadi contoh daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebebasan beragama.

“Bali harus memasuki era baru yang menjamin kebebasan beragama dan toleransi, di mana seluruh masyarakat dapat hidup berdampingan dalam suasana damai,” ujarnya.

Ia menambahkan, guru memiliki peran sentral dalam membangun ketahanan peserta didik dari pengaruh ideologi yang menyimpang. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan inklusif.

Baca juga : Kakorlantas Dampingi Kapolri Hadiri Apel Ojol, Kompak Jaga Jatim Aman Dan Tertib

"Guru tak hanya mengajar, tapi juga menjadi teladan dan penjaga moral generasi muda. Mari bersama menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis, tangguh, dan damai, demi generasi Bali yang cerdas, berintegritas, dan cinta damai,” serunya.

Sebagai bagian dari kegiatan Sekolah Damai, BNPT menghadirkan Adnan Salim Kardianto, mantan anggota jaringan kelompok radikal yang kini menjadi mitra deradikalisasi. Ia berbagi kisah bagaimana dulu terlibat aktif dalam penyebaran paham intoleran melalui pesan singkat dan media sosial hingga akhirnya dijerat pidana.

“Kebanyakan yang masuk kelompok teror itu justru orang yang kurang ibadah dan tak punya guru agama yang tepat. Mereka berpikir hitam-putih, benar-salah, tanpa ruang berdialog atau memahami konteks,” ujarnya.

Menurut Adnan, paham seperti itu lahir dari propaganda ideologi transnasional yang menanamkan keyakinan bahwa kebenaran hanya milik kelompoknya sendiri. “Kelompok teror sering memakai dalil agama yang benar, tapi ditafsirkan sempit untuk membenarkan kekerasan atas nama agama,” jelasnya.

Kini, setelah menyadari kekeliruannya, Adnan meyakini kembali Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Ia berpesan agar masyarakat Bali tetap waspada terhadap infiltrasi paham radikal yang sering dikemas lewat narasi agama dan video kekerasan.

Baca juga : Menjaga Nyawa di Balik Api: Disiplin Keselamatan di Kilang Balongan

“Bali punya ketahanan sosial yang kuat. Kalau ada kelompok intoleran, masyarakatnya cepat tahu dan tidak tinggal diam. Ini keunggulan yang harus dijaga,” katanya menutup kesaksiannya.

Kegiatan Sekolah Damai di Bali menjadi bentuk komitmen BNPT memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Tujuannya, menciptakan lingkungan belajar yang aman, harmonis, dan bebas dari pengaruh paham kekerasan, sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda Pulau Dewata.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.