Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menjaga Nyawa di Balik Api: Disiplin Keselamatan di Kilang Balongan
Selasa, 21 Oktober 2025 11:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Udara di Kilang Balongan terasa berbeda. Hangat, bercampur aroma khas minyak mentah yang menyusup di antara kepulan uap putih dari pipa-pipa baja.
Di kawasan seluas 250 hektare itu, aktivitas tak pernah berhenti. Sejak fajar hingga malam, kilang milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terus berdetak—mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar yang menggerakkan negeri.
Namun, di tengah kompleksitas proses dan risiko tinggi di setiap sudutnya, satu hal selalu menjadi pegangan utama seluruh pekerja: keselamatan.
“Keselamatan adalah faktor paling penting dalam operasional, sebab kilang adalah kawasan yang tinggi risiko,” ujar Yulianto Triwibowo, General Manager Kilang Balongan, Jumat (17/10/2025).
Ia bicara dengan nada tegas, tapi tetap hangat.
“Kita kalau mau masuk kilang banyak sekali peraturannya, tidak boleh bawa korek api, telepon selular, lalu wajib memakai alat pelindung diri yang lengkap. Semua itu dilakukan karena operasional kilang berada di lokasi yang tinggi risiko.”
General Manager Kilang Balongan Yulianto Triwibowo, saat menerima kunjungan media nasional, di Balongan, Indramayu, Jumat (17/10/2025) (Foto: Fazry/RM).
Kilang Balongan adalah salah satu aset strategis Pertamina dengan kapasitas pengolahan mencapai 150 ribu barel per hari. Di dalamnya ada sekitar 70 tangki untuk bahan baku dan produk.
Kompleksitasnya diukur melalui Nelson Complexity Index (NCI) yang mencapai 11,9, tertinggi di antara semua kilang milik Pertamina. Nilai itu menunjukkan kemampuan Balongan menghasilkan lebih banyak produk bernilai tinggi melalui proses yang efisien.
Namun, semakin tinggi kompleksitas, semakin besar pula tantangan menjaga keselamatan di setiap unit operasi.
Baca juga : Menjaga Sawah, Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional
Untuk itu, KPI Balongan menerapkan pengawasan berlapis. Setiap hari, tim keselamatan melakukan monitoring rutin di semua unit, mulai dari Distillation Treating Unit (DTU), Naphta Processing Unit (NPU), Atmospheric Hydrotreating Unit (AHU), hingga Processing and Cracking Unit (POC). Setiap titik diawasi, setiap anomali dicatat.
“Unit-unit yang masuk kategori kritikal mendapat perhatian lebih, sementara unit lain tetap dimonitor secara berkala,” kata Yulianto.
Kilang ini ibarat tubuh raksasa yang tak boleh kehilangan keseimbangan sedikit pun. Sistem digital kini menjadi indera tambahan bagi para operator.
Digitalisasi peralatan memungkinkan deteksi dini terhadap kondisi abnormal. Sensor-sensor dipasang untuk membaca tekanan, suhu, dan getaran di berbagai titik.
Jika ada yang tak normal, alarm segera menyala, memberi sinyal agar operator segera bertindak.
“Digitalisasi kami manfaatkan untuk memperkuat aspek keselamatan di kilang,” ujar Yulianto.
“Begitu terdeteksi anomali, langkah penanganan langsung dijalankan. Tak boleh ditunda.”
Selain digitalisasi, KPI Balongan juga menegakkan pemeliharaan berkala secara disiplin. Setiap peralatan utama, mulai dari pompa hingga reaktor, dibongkar, diperiksa, dan diganti komponen pentingnya bila diperlukan.
Semua langkah dilakukan dengan prosedur ketat. “Semua harus dicek, bautnya sudah kencang atau belum, kondisinya sudah standar atau belum, semua harus ada checklist-nya,” kata Yulianto.
Baca juga : Energizing Inklusi: Kedai Kopi Sunyi dan Energi Jelantah Balongan
Sebelum kembali beroperasi, seluruh unit wajib melewati Pre-Start-Up Safety Review (PSSR), proses verifikasi terakhir sebelum mesin kembali berdetak.
Distillation Treating Unit (DTU). (Dok. Kilang Pertamina Internasional)
Bagi Yulianto, keselamatan tak semata urusan prosedur. Ia menanamkan nilai-nilai kearifan lokal dalam sistem kerja di kilang. Filosofi Jawa menjadi pondasi budaya keselamatan: Titen, Open, dan Telaten.
“Titen artinya memperhatikan kondisi kilang, Open berarti memelihara segala sesuatu yang kita miliki, dan Telaten adalah menjaga keberlanjutan,” ujarnya.
Nilai-nilai itu membentuk karakter pekerja yang cermat, sabar, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan kerja.
Filosofi ini dilengkapi dengan pendekatan PIP—Patuh terhadap aturan, Intervensi saat ada kondisi tidak aman, dan Peduli terhadap sesama pekerja. Ketiganya menjadi ruh yang menumbuhkan budaya keselamatan berbasis empati, bukan sekadar kepatuhan.
Namun, di dunia industri pengolahan minyak, kesalahan kecil bisa berujung besar. Karena itu, Yulianto menekankan pentingnya prinsip learning from event, atau belajar dari setiap kejadian. Setiap insiden, baik besar maupun kecil, dievaluasi.
“Prinsip tersebut terus kami terapkan dan menjadi landasan dalam memperbaiki prosedur dan sistem keselamatan di dalam kilang,” ujarnya.
“Lebih baik kami cerewet tapi kilangnya aman, karena nyawa tidak akan ada gantinya.”
Di Balongan, budaya keselamatan dibangun melalui proses panjang. Ia lahir dari kedisiplinan, pengawasan, dan kesadaran bersama. Tak ada ruang untuk kelalaian. Setiap orang punya tanggung jawab yang sama: menjaga diri, rekan kerja, dan kilang. “Kita bukan hanya mengolah minyak,” kata Yulianto, “tapi juga menjaga kehidupan.”
Refinery Unit (RU) VI Balongan Metering System. (Dok. Kilang Pertamina Internasional)
Baca juga : Barcelona Incar Kebangkitan Di Derby Katalonia
Semangat menjaga keselamatan itu sejalan dengan komitmen besar Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai bagian dari Subholding Refining & Petrochemical Pertamina Group.
KPI tak hanya fokus pada efisiensi dan kinerja produksi, tapi juga pada penerapan prinsip Environment, Social & Governance (ESG) dalam setiap lini bisnis.
Sebagai anggota United Nations Global Compact (UNGC), KPI berkomitmen menjalankan Sepuluh Prinsip Universal (Ten Principles) yang mencakup hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi.
Prinsip-prinsip itu menjadi dasar dalam menyusun strategi operasional dan memastikan bahwa setiap aktivitas industri sejalan dengan tanggung jawab sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Bagi KPI, menjadi perusahaan kelas dunia bukan hanya soal kemampuan menghasilkan produk berkualitas tinggi, melainkan juga bagaimana menjaga manusia dan alam di baliknya.
Visi itu diwujudkan melalui manajemen keselamatan yang terus berbenah, mengikuti perkembangan teknologi, dan beradaptasi dengan standar global.
Kilang Balongan menjadi contoh nyata bagaimana disiplin keselamatan dapat menyatu dengan budaya kerja.
Di sana, setiap bunyi alarm, setiap tanda peringatan, bukan sekadar sinyal bahaya, tapi pengingat bahwa keselamatan adalah harga yang tak ternilai.
Ketika malam tiba dan lampu-lampu kilang menyala seperti bintang di tanah Indramayu, pekerja Balongan tahu: di balik nyala api yang menari di cerobong, ada tanggung jawab besar yang mereka jaga bersama. Sebab di Balongan, menjaga kilang berarti menjaga kehidupan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya