Dark/Light Mode

Pasar Lelang Cabe Di Sleman, Transaksi Sehari Capai 150-250 Juta

Selasa, 18 November 2025 08:25 WIB
Pasar Lelang Cabe di Sleman, Yogyakarta. Foto: Ist
Pasar Lelang Cabe di Sleman, Yogyakarta. Foto: Ist

 Sebelumnya 
Sekretaris Koperasi Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi Ardhi Prasetyomenambahkan, pasar lelang cabe ini sebenarnya suda ada sejak tahun 2016. Namun resmi berbadan hukum pada Tahun 2020. Adapun pasar lelang cabe ini diresmikan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada November 2021.

"Ini dari Sleman saja. Cuma (cabe yang terkumpul ) ini belum semuanya. Nanti akan ada mobil yang mutar ambil di 17 titik kumpul khusus di Slemen," ungkapnya.

Satu titik kumpul, kata dia, volumenya variatif. Paling rendah bisa 100 kg. Bahkan di satu titik bisa mencapai 700 kg, tergantung wilayahnya. Makanya di pasar lelang cabai ini, kata dia, transaksinya bisa mencapai ratusan juga.

"Itu paling kecil 5-6 ton setiap harinya atau paling rendah Rp 150 juta sampai 200 juta. Itu minimal transaksinya setiap hari. Itu pun kemarin masih murah, cabe rawit di bawah Rp 20.000 per kg. Yang mahal (cabe) kritingnya. Kalau sama-sama diatas Rp 30 ribu per kg, sudah pasti omsetnya lebih tingg lagi (dari 250 juta)," ungkapnya.

Dia memastikan, pasar lelang cabe ini tidak pernah sepi. Bahkan setiap malam ada transaksi dengan nominal Rp 150 juta - 250 juta setiap malamnya. Bahkan tertinggi pernah mencapai Rp 850 juta hingga mendekati Rp 1 miliar.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga memastikan ketersediaan cabe di Sleman melimpah.

Baca juga : Siapkan Strategi Keuangan 2026, Aman Pinjam Hingga Limit 100 Juta

"Di Sleman ini masih banyak panen pada Desember - Januari. Jadi Insya Allah natal dan tahun baru aman," sambungnya. Bagi pelaku usaa yang mau ikut lelang, kata dia, tidak sulit.

Cukup download Panen.id pada playstore di android smartphonenya. Setelah download, peserta lelang kemudian diverifikasi oleh admin Panen.id, yang dipegang oleh Koperasi PPHPM Sleman. Adapun aplikasi ini adalah hasil inovasi Bank Indonesia (BI).

"Cuma sekarang (lelang cabai Sleman) ini yang didownload adalah PanenSleman. Karena di Panen.id yang versi ini sudah tidak keluar lagi. Tahun depan kita launching PanenSleman semuanya. Panen.id ini akan dipakai di Kulonprogo dan Magelang," sebutnya.

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Sunusi menjelaskan bahwa pasar lelang cabe ini merupakan salah satu inovasi Kementan dalam memantau pasokan dan harga cabe di Indonesia.

Dijelaskan dia, pasar lelang ini digagas ketika dirinya masih menjabat kepala sub di bawah Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat DItjen Hortikultura sekitar tahun 2016 lalu. Pasal lelang cabe ini digagas untuk menjembatani proses tata niaga dan distribusi cabe yang selama ini mata rantainya terlalu panjang.

"Saat itu permasalahan cabe kan pedagangnya terlalu banyak, bisa menentukan harga masing-masing. Sehingga pada saat itu muncullah gagasan pasar lelang ini karena kelompok tani cabe ini kan banyak, potensi lahannya juga luas. Ini kemudian kita support, kita kumpulkan panen-panennya ini di satu tempat gitu," katanya.

Baca juga : BRI Insurance Sabet Dua Penghargaan Di Media Asuransi Award 2025

Pihaknya kemudian menggandeng Petani Champion Cabe yang merupakan binaan Kementan. Melalui petani champion inilah yang menjadi penggerak dalam mengatur tata kelola cabe mulai dari produksi hingga marketnya.

"Pasar lelang itu maksudnya mengumpulkan semua produk-produk kelompok tani binaan Gunung Merapi disini dalam satu tempat, lalu kita cari harga yang terbaik," ujarnya.

Sebelum menerapkan aplikasi Panen.id, sambungnya, dulunya dilakukan secara konvensional. Semua produksi cabe kelompok binaan Kementan dan Dinas Pertanian setempat, dikumpulkan dalam satu pintu, yakni pasar lelang.

Setelah itu, dicarilah pedagang atau pelaku usaha yang tertarik menjadi distributor cabe yang ada baik di Sleman, Semarang, Kulon progo, dan sentra cacbe lainnya. Di pasar lelang cabe inilah, pedagang melakukan penawaran harga secara tertutup.

"Jadi nggak ada seorang pun yang tahu. Dulu harga penawarannya di masukkan dalam kotak, kemudian dituliskan di papan. Harga yang tertinggi, itulah pemenangnya," ujarnya.

Makanya dulu pasar lelang cabe ini, kata Agung, setiap malamnya sangat ramai. Sebab lelang harus dilakukan di tempat. Namun setelah dikontrol melalui aplikasi, kini tak perlu lagi jah-jauh datang ke pasar lelang. Pelaku usaha yang ikut lelang pun bisa berasal dari mana saja, dari Jakarta, Sumatera, bahkan dari Kalimantan.

Baca juga : BMAD Benang POY Dibatalkan, AGTI Ciptakan Investasi & Lapangan Kerja Baru

"Kelebihannya apa pasar lelang, sistemnya Cash and carry. Dibawa, timbang, langsung dapat duit. Yang sebelumnya itu kan harus nunggu 4-5 hari baru ada kepastian harga dari pedagang," sebutnya.

Kelebihan lainnya, sambung dia, ada kepastian harga bagi petani. Sebab harga sudah pasti bersaing.

"Pedagang saat menawar nanti akan harga terbaiknya. Mereka kan pengen dapat barang, jadi tentu penawarannya pasti penawaran yang terbaik," tambahnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.