Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
NTT Genjot Budaya Baca, Perpusnas Bantu Ratusan TBM dan Perpustakaan Desa
Kamis, 20 November 2025 13:32 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perpustakaan dan budaya membaca adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Ketika perpustakaan menyediakan ragam bahan bacaan berkualitas, ide dan kreativitas akan tumbuh dari kebiasaan membaca.
“Kebiasaan membaca harus dilatih sejak dini, meski sekarang penggunaan digital makin marak,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dollyres Chandra, saat membuka Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca, di Kupang, NTT, Kamis (20/11/2025).
Pembangunan literasi dimulai dari kebiasaan membaca. Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tapi tugas bersama.
Baca juga : Fraksi Demokrat Minta Pemerintah Fokus Beri Bantuan Modal Dan SDM Koperasi Desa
Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan, Chrismiljanto P. Rato Pira, mengungkapkan Pemerintah Provinsi NTT sebenarnya telah menyiapkan grand desain pendidikan literasi sejak 2020. Namun, program itu tertunda akibat pandemi Covid-19.
Menurut dia, keberadaan perpustakaan idealnya tidak hanya memberi akses bacaan, tetapi juga menyediakan layanan inklusif yang berorientasi pada masyarakat.
“Layanan perpustakaan di NTT kini telah dilengkapi koleksi bacaan braille dan armada perpustakaan keliling yang masif,” terang Rato Pira.
Baca juga : Tito Minta Kepala Daerah Siaga Dan Petakan Zona Rawan Bencana
Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Fransiskus Bustuan, menyatakan bahwa dulu banyak orang alergi terhadap perpustakaan. Karena itu, perpustakaan harus berupaya keras membangun kesadaran agar masyarakat tidak sekadar datang berkunjung, tetapi juga memanfaatkan layanannya.
Ia mengingatkan, di era post-truth, “kebenaran alternatif” atau kebohongan lebih mudah diterima publik meski tanpa bukti kuat. Karena itu, masyarakat dituntut berpikir kritis, dan kemampuan itu tak mungkin lahir tanpa kebiasaan membaca.
“Literasi adalah jajanan pengetahuan yang memberi manusia kekuatan untuk berpikir kritis,” jelasnya.
Baca juga : Sri Sularsih Berpulang, Perpusnas Kehilangan Pejuang Literasi Terbaiknya
Sementara, pegiat literasi, Robertus Fahik, menyebut literasi sebagai panggilan hati sekaligus cara menjadi manusia seutuhnya. “Berbicara literasi tak bisa dilepaskan dari tiga faktor: keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat,” ucapnya.
Di sela-sela kegiatan sosialisasi, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menyerahkan bantuan simbolis berupa bahan bacaan bermutu kepada 71 perpustakaan desa/kelurahan dan 293 Taman Baca Masyarakat (TBM) di seluruh NTT.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya