Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Dua pakar dari IPB University menyayangkan munculnya tudingan yang mengaitkan bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit tanpa didukung kajian ilmiah yang memadai.
Mereka menegaskan analisis penyebab bencana harus dilakukan secara cermat agar tidak menimbulkan kesimpulan keliru yang dapat menghambat penanganan dan pencegahan bencana ke depan.
Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB University Prof. Sudarsono Soedomo dan Kepala Pusat Studi Sawit IPB Prof. Budi Mulyanto mengatakan dugaan yang terlalu sederhana mengenai penyebab bencana justru berpotensi menyesatkan.
Baca juga : Di Wilayah Banjir Sumatera, Bahlil: Beli BBM Subsidi Nggak Perlu Pakai Barcode
“Saya tidak sependapat dengan adanya tudingan bahwa pembukaan hutan untuk kebun sawit menjadi pemicu banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera,” kata Prof. Budi Mulyanto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Ia menegaskan intensitas hujan ekstrem menjadi faktor utama terjadinya bencana hidrometeorologi tersebut. Pernyataan itu merujuk pada paparan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Senin (1/12/2025),yang menyebut curah hujan pada akhir November mencapai 411 milimeter dalam satu hari atau setara akumulasi hujan satu setengah bulan.
“Dalam ekosistem apa pun, jika hujannya setinggi itu, tanah tidak akan mampu menyerap air dalam waktu singkat. Aliran permukaan pasti besar, bahkan jika kejadian itu terjadi di hutan belantara,” ujarnya.
Baca juga : Peduli Banjir Sumatera, Pemimpin Dunia Tawarkan Bantuan
Prof. Budi menilai bencana tersebut tidak semestinya dijadikan momentum untuk menyudutkan aktivitas penggunaan lahan tertentu. Menurut dia, banjir dan longsor terjadi serentak di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, yang juga dipicu curah hujan ekstrem akibat siklon tropis Senyar.
Sementara itu, Prof. Sudarsono Soedomo menilai persoalan kehutanan Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar isu ekspansi perkebunan sawit. Ia menjelaskan banyak kawasan hutan telah mengalami degradasi sejak lama akibat pembalakan liar, lemahnya tata kelola, serta ketidaktegasan negara dalam menegakkan mandat pengelolaan hutan untuk kemakmuran rakyat.
Menurut dia, masalah utama kerusakan hutan bukan semata alih fungsi menjadi perkebunan, tetapi runtuhnya sistem pengelolaan hutan sehingga banyak kawasan berubah menjadi area tanpa pengelola dan tanpa kepastian hukum.
Baca juga : Soroti Banjir Dan Longsor Sumatera, Hanura Galang Bantuan Untuk Korban Bencana
“Selama bertahun-tahun, kelapa sawit sering dijadikan kambing hitam penyebab hilangnya hutan. Narasi ini terus berulang, padahal faktanya jauh lebih kompleks,” ujar Sudarsono.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya