Dark/Light Mode

Tak Hanya Di Sumatera, Banjir Terjadi Di Mana-mana...

Minggu, 4 Januari 2026 07:20 WIB
Seorang ibu menggendong anaknya melintasi jalan yang terendam banjir di Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (3/1/2026). (Foto: Antara Foto)
Seorang ibu menggendong anaknya melintasi jalan yang terendam banjir di Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (3/1/2026). (Foto: Antara Foto)

 Sebelumnya 
Mayoritas lahan yang terendam merupakan persawahan yang baru ditanami padi dan dikhawatirkan memicu gagal tanam. 

Di Kalimantan Selatan, BPBD Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 67.344 jiwa terdampak banjir yang hampir meluas ke seluruh wilayah kabupaten. 

Plt Kepala Pelaksana BPBD Banjar, Yayan Daryanto, menyebut banjir melanda 14 kecamatan dan 137 desa sejak Rabu (31/12/2025). 

Kelompok rentan turut terdampak, terdiri atas 124 ibu hamil, 307 bayi, 780 balita, 1.121 anak-anak, 1.669 lansia, dan 124 penyandang disabilitas. 

Baca juga : Masdalina Pane: Masyarakat Diminta Serius Jaga Imunitas

BPBD Banjar telah menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian, di antaranya Aula Dinas Pendidikan Banjar, Kodim 1006 Banjar, serta Aula Kantor Desa Pingaran Ulu. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, terjadinya banjir di sejumlah wilayah Indonesia seiring dengan masuknya fase puncak musim hujan awal tahun 2026. 

“Ini banjir periodik yang biasanya terjadi di akhir Februari. Di beberapa wilayah, dapat berlangsung hingga akhir April,” ucap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (3/12/2025). 

Menghadapi potensi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi basah, BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait telah menggelar rapat koordinasi kesiapsiagaan nasional pada 29 Desember 2025 lalu. 

Baca juga : Aji Muhawarman: Kemenkes Tegaskan Masih Kondisi Aman

Rapat koordinasi tersebut melibatkan seluruh pimpinan daerah. mulai dari gubernur, wali kota, hingga bupati di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan itu, Pemerintah Pusat mendorong Pemerintah Daerah untuk segera melaksanakan apel kesiapsiagaan. Tujuannya untuk memastikan kesiapan personel, kelengkapan peralatan, dan dukungan anggaran. 

“Kita ingin memastikan bahwa sumber daya di daerah benar-benar cukup dan tercukupi untuk menghadapi potensi kedaruratan, khususnya yang berkaitan dengan bencana hidrometeorologi basah,” jelas Aam, sapaan Abdul Muhari. 

Ia menegaskan, Pemerintah Pusat siap memberikan dukungan langsung apabila pemerintah daerah hampir menyerah. Adapun strategi antisipasi kedaruratan yang disiapkan pemerintah meliputi dua pendekatan utama. 

Pertama, menurunkan intensitas pemicu bencana, dalam hal ini curah hujan, melalui Operasi Modifikasi Cuaca. 

Baca juga : Perluas Program Kewirausahaan

Kedua, memperkuat kapasitas respons pemerintah daerah dalam menghadapi potensi kedaruratan akibat cuaca ekstrem. 

Terkait banjir yang saat ini terjadi di sejumlah daerah, BNPB telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk mendampingi Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan operasi tanggap darurat. 

“Berdasarkan laporan terkini, kondisi banjir di beberapa wilayah terdampak telah berangsur surut,” pungkas Aam. [MEN/UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.