Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Cerita Wali Asuh Sekolah Rakyat Ubah Bocah Tukang Berkelahi Jadi Berprestasi
Selasa, 13 Januari 2026 21:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sekolah Rakyat bukan sekadar gedung tempat belajar baca-tulis. Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, institusi ini menjelma menjadi ruang pemulihan emosional bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Perubahan drastis pun terlihat pada siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang setelah enam bulan menjalani kehidupan di asrama.
Kisah transformasi ini diceritakan oleh Wali Asuh SRMP 19 Kupang, Miguel Antonio Gusmao. Menurut pria yang akrab disapa Mighy ini, mayoritas siswanya berasal dari keluarga desil 1 dan 2, atau kelompok masyarakat dengan kesejahteraan terendah. Latar belakang ini membawa trauma dan karakter keras pada anak-anak saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.
“Sejak awal mereka masuk memiliki karakter yang sulit untuk dibentuk. Mereka sering emosional, suka berkelahi, suka mencaci maki temannya, suka ribut dengan suara-suara keras, teriak dengan suara keras tanpa terkontrol,” ujar Mighy saat ditemui di Kompleks Setra Efata, Kupang, baru-baru ini.
Baca juga : Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Jatim Jadi Provinsi Terbanyak
Kondisi tersebut merupakan dampak dari pola asuh yang tidak utuh dan minimnya rasa aman di lingkungan asal. Namun, setelah beberapa bulan dalam dekapan pendidikan berasrama, 'tembok' keras itu perlahan runtuh. Anak-anak yang dulunya hobi mencaci, kini lebih tenang dan sopan.
Mighy mengungkapkan, rahasia perubahan ini bukan pada aturan yang mengekang, melainkan pada pendekatan kasih sayang. Ia memosisikan dirinya bukan sebagai pengawas, melainkan sebagai orang tua pengganti.
“Kita melayani mereka dengan penuh kasih sayang, harus merasa bahwa mereka memang benar-benar anak kita. Bukan anak yang kita asuh dari orang lain, tapi memang bagian dari anak kita sendiri,” tegasnya.
Baca juga : Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Prabowo Tinjau Fasilitas Perpustakaan
Hasilnya pun nyata. Konflik antar-siswa kini hampir tidak terdengar lagi. Jika dulu asrama sering diwarnai tangis karena aksi perundungan, kini suasana jauh lebih harmonis. “Kalau dulu di awal-awal pasti ada yang nangis, pasti saja ada yang bilang ini bully, ini bully. Tapi sekarang sudah kita minimalisir. Puji Tuhan cukup baik untuk saat ini,” kata Mighy.
Tak hanya soal karakter, Sekolah Rakyat juga memutus siklus hidup tidak teratur yang selama ini dialami siswa. Di sini, mereka mendapatkan asupan gizi teratur dan lingkungan yang bersih. Mighy menilai program ini sebagai langkah paling strategis untuk memutus rantai kemiskinan yang membelenggu keluarga para siswa.
“Bagi orang-orang yang tidak mampu, jalurnya hanya satu menurut saya, lewat jalur pendidikan,” imbuhnya.
Baca juga : Perpusnas Perkuat Sekolah Rakyat, Salurkan Ribuan Buku dan Anjungan Baca Digital
Apresiasi tinggi pun disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai inisiator program ini. Mighy melihat ada ketulusan untuk mengangkat derajat kelompok masyarakat yang paling rentan.
“Sebagai wali asuh dan sebagai warga negara Indonesia, saya sangat berterima kasih kepada Pak Presiden, Pak Prabowo, karena punya niat baik dan hati yang tulus untuk membangun Sekolah Rakyat. Harapan kami dengan pendidikan ini, mata rantai kemiskinan itu bisa putus,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya