Dark/Light Mode

AGTI Apresiasi Hilirisasi Tekstil-Garmen, Dinilai Dorong Lapangan Kerja

Minggu, 18 Januari 2026 15:33 WIB
Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto. Foto: AGTI
Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto. Foto: AGTI

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat hilirisasi industri tekstil dan garmen nasional. Langkah tersebut dinilai strategis untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, mengingat sektor tekstil dan garmen merupakan industri padat karya yang selama ini menjadi penopang perekonomian nasional sekaligus menjaga stabilitas sosial di berbagai daerah.

Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menilai perhatian langsung Presiden terhadap industri tekstil dan garmen menjadi sinyal politik dan ekonomi yang kuat bagi keberlanjutan sektor tersebut. Menurutnya, penguatan hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perluasan kesempatan kerja formal.

“Industri tekstil dan garmen memiliki peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja serta menjaga stabilitas sosial dan ekonomi nasional,” ujar Anne.

Baca juga : HKI Sambut Arahan Presiden, Hilirisasi Dorong Investasi Dan Lapangan Kerja

AGTI menekankan bahwa penetapan industri tekstil dan garmen sebagai sektor strategis harus segera ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret di tingkat kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah. Komitmen nasional tersebut, kata Anne, perlu diterjemahkan ke dalam regulasi yang berpihak, instrumen fiskal yang tepat sasaran, serta mekanisme pelaksanaan yang efektif agar industri dapat tumbuh berkelanjutan dan menyerap tenaga kerja secara optimal.

Sejalan dengan arahan Presiden mengenai revitalisasi rantai pasok, AGTI memandang penguatan supply chain tekstil perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Struktur rantai pasok yang panjang membutuhkan kebijakan terintegrasi agar industri nasional mampu meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Anne menilai penguatan industri hulu dalam negeri menjadi langkah penting, meskipun dalam jangka pendek impor bahan baku masih diperlukan untuk menjaga kelancaran produksi. “Impor bahan baku bagi produsen yang patuh terhadap aturan perlu berjalan cepat dan efisien agar daya saing industri tetap terjaga,” katanya.

Baca juga : Investasi Hilirisasi 2025 Tembus Rp 584,1 Triliun, Ini 4 Sektor Kontributornya

Selain itu, AGTI menilai hilirisasi industri tekstil dan garmen menjadi kunci peningkatan nilai tambah sekaligus memperkuat peran sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja. Dengan hilirisasi yang konsisten, industri tekstil nasional diharapkan mampu naik kelas, tidak hanya sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai penghasil produk bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Anne juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dan pengembangan industri permesinan dalam negeri. Menurutnya, ketergantungan terhadap mesin impor masih tinggi, sehingga penguatan industri pendukung, termasuk penguasaan teknologi dan semikonduktor, perlu menjadi bagian dari agenda industrialisasi nasional. Langkah ini diyakini dapat mendorong penerapan Industri 4.0 sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja.

Ke depan, AGTI berharap arahan Presiden Prabowo dapat segera diwujudkan dalam kebijakan teknis yang konkret, mulai dari deregulasi perizinan, penyediaan energi yang kompetitif, hingga dukungan fiskal dan pembiayaan yang tepat sasaran. Dengan kebijakan yang terintegrasi dan konsisten, AGTI optimistis industri tekstil dan garmen nasional mampu memperkuat daya saing, memperluas lapangan pekerjaan, serta kembali menjadi tulang punggung manufaktur padat karya Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.