Dark/Light Mode

Kemajuan Pengadaan Alutsista Era Prabowo, Tanpa Impor-Produksi Lokal Suku Cadang

Minggu, 25 Januari 2026 18:28 WIB
Ilustrasi kendaraan tempur buatan Pindad. (Foto : IG PT Pindad)
Ilustrasi kendaraan tempur buatan Pindad. (Foto : IG PT Pindad)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemandirian industri pertahanan menjadi salah satu agenda strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah kemajuan signifikan kini mulai terlihat, terutama pada kategori alat utama sistem senjata (alutsista) yang teknologinya telah sepenuhnya dikuasai industri dalam negeri.

Pengamat intelijen Ridwan Habib menilai capaian tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Regulasi itu menegaskan pemenuhan kebutuhan alutsista TNI dan Polri wajib mengutamakan produksi nasional, yang kemudian diperkuat melalui berbagai kebijakan turunan, termasuk Peraturan Presiden terkait kebijakan umum pertahanan negara dan penguatan ekosistem industri pertahanan nasional.

“Untuk pengadaan tanpa impor, kita sudah mulai dari alutsista yang kita kuasai penuh teknologinya. Contohnya senapan, amunisi, kapal patroli dan kendaraan taktis seperti Maung atau Anoa. Itu sudah mayoritas buatan kita sendiri,” jelas Ridwan Habib dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Sektor senjata ringan menjadi salah satu tulang punggung kemandirian tersebut. PT Pindad (Persero), sebagai BUMN strategis, telah memproduksi berbagai varian pistol seperti G2 Combat dan Magnum, serta senapan serbu seri SS—mulai dari SS1, SS2 hingga model terbaru SS3—yang kini digunakan secara luas oleh TNI dan Polri.

Baca juga : Implementasikan Asta Cita Prabowo, BNN Tuai Apresiasi

Sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertahanan dan Kepolisian dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan senjata ringan standar diarahkan untuk dipenuhi dari produksi dalam negeri selama spesifikasi teknis terpenuhi. Dampaknya, pengadaan pistol dan senapan serbu untuk aparat keamanan tidak lagi bergantung pada impor.

Kemandirian juga terlihat pada sektor amunisi. Untuk kaliber kecil seperti 5,56 mm, 7,62 mm, dan 9 mm, Pindad telah meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan. Pada 2020, kapasitas produksi mencapai 400 juta butir per tahun, naik dari sebelumnya 225 juta butir per tahun.

“Untuk suku cadang (spareparts), kita sudah jauh lebih mandiri. Pesawat, kapal dan tank kita sekarang banyak yang ‘jeroannya’ atau suku cadangnya sudah diproduksi oleh industri dalam negeri maupun UMKM mitra DEFEND ID. Kita tidak mau lagi kalau ada alat rusak, harus nunggu kiriman baut atau komponen kecil dari luar negeri berbulan-bulan,” lanjut Ridwan.

Modernisasi pabrik terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi amunisi hingga ditargetkan mencapai 600 juta butir per tahun. Langkah ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan TNI dan Polri sekaligus menekan harga satuan peluru. Pemerintah turut mendorong investasi penggantian mesin-mesin produksi lama demi meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya.

Meski demikian, Ridwan mengakui tantangan masih tersisa pada komponen kunci berteknologi tinggi, seperti mesin jet dan sensor elektronik. Namun kebijakan pemerintah kini menekankan kewajiban kerja sama produksi lokal bagi setiap pengadaan yang masih membutuhkan impor.

Baca juga : Pendampingan Desa Sejahtera Astra Perkuat Produksi-Kemandirian Batik Singkawang

“Targetnya bukan cuma beli barangnya, tapi kuasai rantai pasoknya. Kita sedang bangun ekosistem supaya ke depan, kalau ada situasi darurat, pertahanan kita tidak bisa ‘dimatikan’ lewat sanksi suku cadang oleh negara lain,” tegasnya.

Penguatan ekosistem industri pertahanan juga ditopang sinergi antara BUMN dan industri swasta nasional. Sejumlah perusahaan swasta kini aktif menjadi pemasok komponen, suku cadang presisi, hingga alutsista pendukung.

Salah satunya PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (PT NKRI). Perusahaan swasta nasional ini telah mengantongi lisensi resmi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata dan amunisi, serta suku cadang presisi bagi pesawat, kapal, dan kendaraan taktis.

Pabrik PT NKRI di Bandung kini menjadi bagian penting rantai pasok industri pertahanan nasional, dengan kemampuan memproduksi selongsong peluru, proyektil, hingga komponen mekanik presisi. Keberadaan fasilitas tersebut memperkuat kemandirian industri hulu-hilir serta mendukung pemeliharaan alutsista tanpa ketergantungan pada pemasok luar negeri.

Peran PT NKRI mencerminkan implementasi nyata Pasal 11 dan Pasal 12 UU Industri Pertahanan yang membuka ruang luas bagi Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) untuk terlibat langsung dalam pengembangan industri pertahanan nasional.

Baca juga : ISSC Nyatakan Kesiapan Bangun 100 Jembatan Bailey Per Bulan, Tanpa Produk Impor

Selain itu, PT Republik Defensindo tercatat aktif memproduksi kendaraan khusus militer, mulai dari truk militer, rantis 4x4, hingga kendaraan amfibi berantai. Pada 2020, perusahaan ini juga bekerja sama dengan BUMN pertahanan membangun fasilitas produksi amunisi kaliber 9x19 mm secara terpadu.

Di sektor amunisi, pabrik swasta pertama Indonesia milik PT Sapta Inti Perkasa telah beroperasi sejak 2024 di Malang. Fasilitas ini mampu memproduksi hulu ledak, selongsong, serta merakit amunisi kaliber 5,56 mm dan 9 mm dengan target awal masing-masing 100 juta butir per tahun, yang akan ditingkatkan bertahap hingga 500 juta butir per tahun.

Langkah tersebut dinilai krusial mengingat kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 5 miliar butir per tahun, jauh melampaui kapasitas produksi tunggal Pindad. Kehadiran lini produksi swasta diharapkan mampu menutup kesenjangan sekaligus menghapus ketergantungan impor amunisi di masa depan.

Tren kemandirian serupa juga terlihat pada produksi suku cadang kendaraan tempur, kapal patroli, drone, hingga sistem elektronik seperti Remote Control Weapon Station (RCWS) yang telah digunakan Kementerian Pertahanan.

Secara keseluruhan, kemajuan ini menandai pergeseran strategis: sejumlah item krusial pertahanan kini 100 persen diproduksi di dalam negeri, sehingga anggaran pengadaan tidak lagi mengalir ke luar negeri. Lebih dari itu, Indonesia secara bertahap tengah membangun kedaulatan rantai pasok pertahanan sebagai fondasi ketahanan nasional jangka panjang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.