Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap bahan baku makanan sejak awal untuk mencegah terjadinya insiden keamanan pangan di dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG).
Nanik menegaskan pengawas gizi, pengawas keuangan, dan asisten lapangan (Aslap) harus melakukan pengecekan bersama saat bahan baku datang, guna memastikan seluruh bahan makanan yang akan diolah dalam kondisi layak konsumsi.
“Jika sejak awal sudah terlihat bahan tidak sehat, seperti ayam, sayuran, atau tahu, maka harus segera dikembalikan ke mitra,” ujar Nanik saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Koordinasi dan Evaluasi bagi ahli gizi, akuntan, dan juru masak se-Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek di Pacitan, akhir pekan lalu.
Ia juga meminta para pengawas gizi dan pengawas keuangan untuk menolak segala bentuk intervensi dari mitra SPPG, khususnya yang berkaitan dengan penyusunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga : Industri Plastik Hilir Minta Kebijakan Bahan Baku Jaga Daya Saing
Menurut Nanik, penyusunan menu sepenuhnya menjadi kewenangan ahli gizi dan tidak boleh diubah oleh mitra dengan alasan apa pun. Ia menegaskan akan memberikan sanksi tegas apabila terjadi intervensi tersebut.
“Penyusunan menu tidak ada urusannya dengan mitra. Jika ada yang berani mengubah menu yang telah disusun ahli gizi, akan kami tindak tegas,” kata Nanik.
Ia menilai anggapan bahwa pengelola dapur MBG masih belum berpengalaman sering dijadikan dalih oleh mitra untuk melakukan intervensi, padahal berpotensi menurunkan kualitas bahan pangan demi keuntungan.
“Ini berbahaya karena pemilihan bahan baku yang tidak sesuai standar dapat memicu keracunan pangan,” ujarnya.
Baca juga : BMKG Minta Warga Terdampak Bencana Waspadai Risiko Listrik
Selain pengawasan bahan baku, Nanik menekankan pentingnya pemahaman teknis dalam penanganan bahan makanan dan penggunaan peralatan dapur. Ia mencontohkan kasus penyimpanan ayam yang tidak sesuai standar suhu, yang dapat memicu pertumbuhan bakteri berbahaya seperti salmonella.
“Penyimpanan ayam di chiller harus di bawah lima derajat Celsius. Jika tidak, risiko keracunan sangat besar,” katanya.
Nanik juga menyoroti insiden keamanan pangan di salah satu SPPG di Boyolali yang disebabkan penggunaan chiller dan lemari pendingin bekas dalam kondisi tidak layak. Ia meminta para juru masak untuk berani melaporkan kondisi peralatan yang tidak sesuai standar kepada kepala SPPG.
Menurut dia, mitra SPPG bertanggung jawab menyediakan peralatan dapur yang baru dan berkualitas. Mitra yang tidak memenuhi kewajiban tersebut akan dikenakan sanksi hingga penghentian sementara operasional.
Baca juga : Wulan Guritno, Disuruh Anak Kawin Lagi
“Peralatan yang tidak layak jangan dipaksakan untuk digunakan. Mitra wajib mengganti dengan peralatan sesuai petunjuk teknis,” ujar Nanik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya