Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Panggil Menteri Ke Hambalang, Prabowo Minta Negosiasi Dengan AS Untungkan RI
Minggu, 15 Februari 2026 20:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri terkait ekonomi ke kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/2) sore. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Negara memberikan arahan tegas terkait posisi Indonesia dalam perundingan ekonomi global, khususnya menghadapi negosiasi dengan Amerika Serikat.
Arahan Presiden tersebut disampaikan oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya melalui unggahan di akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, Minggu (15/2).
Teddy mengungkapkan, Presiden Prabowo menekankan agar Indonesia mengambil posisi tawar yang kuat dan tidak merugi dalam setiap kesepakatan internasional.
Baca juga : PM Albanese Puji Kepemimpinan Prabowo, Komit Jaga Keamanan Kawasan
"Memastikan posisi yang diambil Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi dengan siapapun, khususnya dalam waktu dekat dengan Amerika Serikat adalah yang terbaik dan paling menguntungkan untuk Indonesia," tulis akun @sekretariat.kabinet mengutip pernyataan Teddy.
Selain soal posisi tawar, Teddy menyampaikan bahwa Presiden juga menginginkan agar setiap kesepakatan yang dibuat harus berdampak langsung pada penguatan sektor riil di Tanah Air, bukan sekadar perjanjian di atas kertas.
"Presiden menginginkan perundingan harus sebanyak-banyaknya meningkatkan produktivitas industri dalam negeri serta memperkuat global supply chain atau rantai pasok industri," lanjut keterangan tersebut.
Baca juga : IHSG Masih Merah, Pemerintah Tenangkan Investor
Menutup arahannya, Presiden mewanti-wanti jajarannya agar kebijakan yang diambil harus berdampak cepat dan nyata bagi masyarakat.
"Presiden Prabowo menginginkan setiap kebijakan yang diambil harus segera dan sebanyak mungkin memberi keuntungan konkret untuk Indonesia," pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, meyakini hubungan personal erat antara Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump menjadi faktor kunci keberhasilan diplomasi tersebut. Kendala teknis yang sempat muncul dipastikan masih berada dalam kendali tim perunding Indonesia di bawah komando Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Baca juga : Tinjau Bantaran Ciliwung, Pramono Pastikan Normalisasi Bakal Dilanjutkan
Dokumen final Agreement on Reciprocal Tariff (ART) pun dijadwalkan siap ditandatangani kedua kepala negara di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace (BoP), menandai babak baru kerja sama ekonomi strategis kedua negara.
Dalam kerangka perjanjian tersebut, Amerika Serikat berkomitmen memberikan pengecualian tarif bagi komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di sana, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh. Sebagai timbal balik, Indonesia sepakat membuka akses pasar bagi produk AS serta memperkuat kerja sama di sektor perdagangan digital dan keamanan.
Hingga saat ini, tim perunding Indonesia telah mencatatkan kemajuan signifikan dengan berhasil menekan tarif resiprokal dari posisi awal 32 persen menjadi 19 persen, sembari merampungkan tahap akhir penyusunan draf perjanjian atau legal drafting sebelum penandatanganan resmi dilakukan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya