Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Susu MBG di Negeri Kepulauan: Antara Pasokan, Mesin, dan Kemasan
Senin, 23 Februari 2026 21:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menguji komitmen negara memenuhi gizi anak, tetapi juga ketahanan sistem pangan di negara kepulauan.
Keterbatasan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN), kapasitas mesin pengolahan, serta tantangan distribusi lintas pulau berpotensi menekan pasar susu nasional jika tidak diantisipasi sejak awal.
Pemberian susu setiap hari kepada seluruh siswa, misalnya, dapat menyerap lebih dari separuh produksi SSDN nasional.
Kondisi ini membuat distribusi susu MBG bukan sekadar persoalan volume, melainkan soal keseimbangan pasokan, kesiapan industri, dan keandalan teknologi pengemasan untuk menjangkau wilayah kepulauan tanpa mengorbankan kualitas gizi.
Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu Fakultas Peternakan IPB University Prof. Epi Taufik menyebutkan, produksi SSDN Indonesia saat ini mencapai 808.352.840,61 kilogram per tahun atau setara sekitar 2.215 ton per hari.
Produksi tersebut berasal dari 211.739 ekor sapi betina laktasi dengan rata-rata produksi 12,47 liter per ekor per hari.
Baca juga : Komdigi Siapkan 8.000 Akun Canva Pro Gratis untuk UMKM dan Kreator Digital
“Jika susu sekolah diberikan setiap hari, maka kebutuhan susu segar bisa mencapai 444 juta liter per tahun, atau sekitar 55 persen dari total SSDN nasional. Kondisi ini akan memicu kompetisi tinggi dalam mendapatkan susu segar dan mengganggu pasar susu reguler,” ujar Epi dalam dokumen yang diterima RM.id, Senin (23/2/2026).
Dalam skema MBG saat ini, kandungan minimal susu segar ditetapkan sebesar 20 persen atau sekitar 23–25 mililiter dari porsi 115–125 mililiter per siswa.
Dengan cakupan sekitar 60 juta penerima, kebutuhan susu segar mencapai 144 juta liter per tahun, setara 17,81 persen SSDN yang selama ini diserap pasar komersial.
Epi menegaskan kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai kelangkaan susu segar. “Yang terjadi saat ini bukan kelangkaan susu segar, melainkan persaingan untuk mendapatkannya karena sebagian jatah SSDN dialihkan ke susu MBG,” jelasnya.
Tekanan juga terjadi di sektor hilir. Kapasitas mesin produksi susu Ultra High Temperature (UHT) nasional tercatat hanya 360 juta kemasan per bulan atau sekitar 4,32 miliar kemasan per tahun.
Sementara kebutuhan kemasan susu MBG diperkirakan mencapai 5,76 miliar kemasan per tahun untuk 60 juta siswa dan meningkat menjadi 7,1 miliar kemasan per tahun jika mencakup 74 juta siswa.
Baca juga : Menperin: Business Matching Jadi Strategi Perkuat Rantai Pasok Pati Ubi Kayu
“Akibat keterbatasan mesin, yang menjadi langka saat ini adalah susu UHT full cream plain karena proses produksi harus antre,” kata Epi.
Di tengah tekanan pasokan dan keterbatasan mesin, teknologi pengemasan menjadi faktor penentu distribusi susu di wilayah kepulauan.
Direktur Utama PT LamiPak Indonesia Hongbiao Li menegaskan bahwa menjaga kualitas nutrisi hingga ke tangan penerima adalah misi utama, terutama bagi siswa dan ibu hamil di daerah terpencil.
“Di sinilah peran teknologi kemasan menjadi kunci. Kami ingin memastikan bahwa 'Satu Kotak Susu' yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” tutur Public Relations Manager LamiPak Indonesia Ahmad Rizalmi dalam jumpa pers, di Pabrik PT Lami Packaging Indonesia, Cikande, Serang, Banten, Selasa (20/1/2026).
Teknologi kemasan aseptik memungkinkan susu tetap layak konsumsi meski didistribusikan ke wilayah yang tidak memiliki fasilitas rantai pendingin.
Dengan kapasitas produksi kemasan nasional mencapai 21 miliar unit per tahun, kesiapan industri dinilai memadai untuk menopang distribusi susu MBG secara nasional.
Baca juga : RUU Propaganda Asing Tidak Bungkam Kritik
“Sejalan dengan program Pemerintah, dalam hal ini Program Makan Bergizi Gratis, yang di dalamnya ada elemen susu yang dibagikan kepada siswa, wanita hamil,” kata Hongbiao.
“Memang Indonesia baru mulai, tapi tidak ada kata telat. Kami sangat siap dan bergembira mendukung program MBG ini,” ungkapnya.
Dalam konteks negara kepulauan, kemasan bukan lagi sekadar pelindung produk. Ia menjadi penentu keberhasilan distribusi gizi nasional—menjaga susu tetap aman, bergizi, dan setara kualitasnya, dari pusat produksi hingga ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya