Dark/Light Mode

Waspada Aritmia, Gangguan Irama Jantung Mematikan

Kamis, 5 Maret 2026 22:45 WIB
Peluncuran Kampanye Lets Check The Beat, dari kiri: Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (di layar); dr Grace Frelita, MM, Chief of Medical Officer Siloam International Hospitals; dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS); Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA, Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang/ahli aritmia; Mada Shinta Dewi, CEO Siloam Hospitals TB Simatupang; Iwet Ramadan, Penyintas Stroke/Campaign Ambassador; dr. Hans Lie - CEO Premium Generalist Network Siloam Hospitals. [Foto: Dok]
Peluncuran Kampanye Lets Check The Beat, dari kiri: Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (di layar); dr Grace Frelita, MM, Chief of Medical Officer Siloam International Hospitals; dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS); Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA, Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang/ahli aritmia; Mada Shinta Dewi, CEO Siloam Hospitals TB Simatupang; Iwet Ramadan, Penyintas Stroke/Campaign Ambassador; dr. Hans Lie - CEO Premium Generalist Network Siloam Hospitals. [Foto: Dok]

 Sebelumnya 
Sementara itu, temuan dari Siloam Hospitals TB Simatupang menunjukkan hubungan kuat antara aritmia dan stroke.

Pada periode 2024–2025, rumah sakit tersebut menemukan sekitar 33 persen pasien stroke yang diperiksa menggunakan monitor ambulatori (Holter) terbukti memiliki aritmia. Menariknya, sekitar 37 persen pasien stroke yang dirawat merupakan kelompok usia produktif.

Dalam periode yang sama, tercatat sekitar 1.723 pasien aritmia berhasil dideteksi dan ditangani.

Baca juga : PLN Nyalakan Serentak 1.400 Pelanggan Jakarta, Pastikan Ramadan Terang

Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) dr. Erika Maharani mengatakan jumlah pasien aritmia terus meningkat, sementara sistem pelayanan kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan.

“Keterbatasan infrastruktur, distribusi tenaga subspesialis aritmia yang belum merata, hingga akses terhadap terapi seperti ablasi jantung dan perangkat implan masih menjadi tantangan,” katanya.

Sebagai respons, organisasi profesi tersebut menyusun Cetak Biru Pengembangan Aritmia Nasional yang menekankan penguatan deteksi dini, perluasan akses layanan, serta pengembangan registri nasional berbasis data.

Teknologi Ablasi Jantung Semakin Maju

Baca juga : PW HIMA Persis DKI Jakarta Audiensi dengan Pramono Anung di Balai Kota

Dokter spesialis jantung Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi menjelaskan bahwa hingga 40 persen kasus stroke iskemik berkaitan dengan Atrial Fibrillation (AF).

Menurutnya, terapi AF mencakup pengendalian faktor risiko, pencegahan stroke, serta pengaturan laju dan irama jantung. Salah satu terapi yang semakin berkembang adalah tindakan catheter ablation.

“Ablasi pada AF terbukti lebih efektif dan aman dibandingkan terapi obat-obatan, terutama bila dilakukan dalam waktu kurang dari satu tahun sejak diagnosis,” ujarnya.

Baca juga : Bank Jakarta Gandeng Jakmania Wujudkan Inklusi Keuangan

Di Siloam Hospitals TB Simatupang, prosedur ablasi menggunakan teknologi Radio Frequency Ablation (RFA), Cryo Balloon Ablation (CBA), dan Pulse Field Ablation (PFA) telah menjadi standar terapi aritmia.

Rumah sakit ini juga mengembangkan metode non-fluoroscopic ablation, yaitu tindakan ablasi tanpa penggunaan sinar-X sehingga dapat mengurangi paparan radiasi pada pasien.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.