Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Swasembada Pangan Diperdebatkan, Petani Justru Dukung Pemerintah
Minggu, 12 April 2026 12:48 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pernyataan yang meragukan capaian swasembada pangan di era Prabowo Subianto menuai bantahan luas, terutama dari kalangan petani dan warganet.
Di berbagai platform media sosial, publik menilai tudingan tersebut tidak berdasar karena dianggap mengaburkan data resmi pemerintah serta tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Sejumlah warganet bahkan menyebut narasi yang disampaikan bertentangan dengan pengalaman langsung para petani.
Sebelumnya, pengamat Feri Amsari mempertanyakan klaim swasembada pangan, termasuk penghentian impor beras yang dinilainya tidak masuk akal. Namun, pernyataan itu langsung direspons oleh akun TikTok @izin_berpendapat yang menegaskan bahwa capaian swasembada beras justru sudah dimulai sejak 2025.
“Bukan 2026 kita swasembada pangan itu mulai tahun 2025, jadi tolonglah kalau mau cari data atau kalau mau bohong yang lebih rapih sedikit gitu ya,” ujar akun tersebut.
Baca juga : Israel Serang Lebanon, Pengamat: Ancaman Serius Bagi Perdamaian
Bantahan juga menyasar klaim terkait penyusutan lahan sawah. Data yang beredar menunjukkan bahwa luas panen padi nasional justru mengalami peningkatan signifikan.
“Luas panen padi kita pada tahun 2024 itu 10,05 juta hektar. Di 2025 ketika kita swasembada beras itu angkanya naik 12,69 persen jadi 11,32 juta hektar,” lanjutnya.
Selain faktor luas lahan, kebijakan pemerintah disebut menjadi kunci keberhasilan. Program pembelian gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram dinilai mampu meningkatkan motivasi petani sekaligus mendorong kenaikan produksi.
“Program utama untuk swasembada beras itu membeli mahal gabah dari petani. Efeknya petani lebih termotivasi, produksinya naik, dan petani juga lebih sejahtera,” tambahnya.
Baca juga : KSP Luncuran Buku Saku 0%, IJTI: Perkuat Transparansi Program Pemerintah
Akun tersebut juga menyebut capaian ini mendapat pengakuan dari Food and Agriculture Organization (FAO), bahkan berdampak pada pasar global.
“FAO mengakui swasembada beras Indonesia. Gara-gara Indonesia stop impor itu harga beras dunia turun sebesar 44 persen,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah petani dari berbagai daerah turut membagikan pengalaman langsung mereka. Mayoritas mengaku merasakan peningkatan kesejahteraan, baik dari sisi harga jual gabah maupun kemudahan akses pupuk subsidi.
“Aku petani muda ucapkan terima kasih BPK Presiden Prabowo, 3 bulan lagi panen,” ujar Rohman Abdi Minah.
Baca juga : Johan Rosihan Dorong Swasembada Pangan Perkuat Produksi Dalam Negeri
“Sebelum Presiden Prabowo, saya jual gabah kering 570 ribu–580 ribu per kuintal, sekarang tiap panen minimal 700 ribu per kuintal, harga pupuk juga makin murah,” ungkap akun salep888.
“Saya petani bro, sekarang petani lebih diperhatikan pemerintah bro, pupuk turun harga jual gabah naik,” komentar Rohman Ardianto.
“Saya percaya pemerintahan kita swasembada beras, karena di lapangan panen terus berhasil dan melimpah di kampung saya, harga gabah pun meningkat dari tahun sebelumnya, pupuk subsidi pun gampang didapat,” kata Made Darmawan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya