Dark/Light Mode

Prioritaskan Kesehatan, Jemaah Diimbau Tak Memaksakan Arbain

Selasa, 28 April 2026 07:25 WIB
Petugas Tusi (Tugas dan Fungsi) Lansia Dan Disabilitas, Dita Prihastika. (Foto: MCH Kemenhaj)
Petugas Tusi (Tugas dan Fungsi) Lansia Dan Disabilitas, Dita Prihastika. (Foto: MCH Kemenhaj)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jemaah haji Indonesia, khususnya lanjut usia (lansia), diimbau tidak memaksakan diri menjalankan ibadah Arbain di Masjid Nabawi. Kesehatan menjadi prioritas utama, terutama karena jemaah harus mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji dalam waktu dekat. 

Imbauan tersebut disampaikan Petugas Pembimbing Ibadah PPIH Arab Saudi Daker Bandara, Anis Diyah Puspita, Minggu (26/4/2026). Menurutnya, banyak jemaah berusia lanjut, sehingga tidak perlu memaksakan diri menuntaskan Arbain. 

“Ibadah Arbain tidak termasuk dalam rukun maupun wajib haji, sehingga tidak memengaruhi keabsahan ibadah haji jemaah,” ujar Anis. 

Arbain sendiri merupakan pelaksanaan salat fardu berjamaah selama 40 waktu tanpa terputus di Masjid Nabawi. Meski memiliki keutamaan, dia menegaskan, ibadah tersebut bukan bagian dari rangkaian utama haji. 

Baca juga : Idham Holik: Penataan Dapil Wajib Ikuti Perundang-undangan

Anis mengingatkan, kondisi fisik jemaah harus tetap prima untuk menghadapi puncak haji, yakni wukuf di Arafah di Makkah. 

“Jangan sampai karena memaksakan Arbain, jemaah justru kelelahan atau sakit saat puncak haji. Prioritas kita adalah jemaah bisa melaksanakan wukuf dalam kondisi sehat,” tegasnya. 

Petugas juga terus mengingatkan jemaah agar mengatur ritme ibadah. Jika kondisi tubuh tidak fit, jemaah dianjurkan beristirahat dan melaksanakan salat di hotel. 

“Kalau sehat, silakan ke Masjid Nabawi. Tapi jika lelah, sebaiknya istirahat dulu. Insyaallah tetap berpahala,” kata Anis.

Kisah Ketulusan Petugas Layani Lansia di Bandara Madinah 

Baca juga : Wibi Andrino: Selama Ini, Aspirasi Warga Kurang Terakomodasi

Di sisi lain, pelayanan penuh empati ditunjukkan para petugas haji di Bandara Madinah, terutama dalam menangani jemaah lansia dan disabilitas. 

Salah satunya dilakukan Dita Prihastika, Petugas Tugas dan Fungsi (Tusi) Lansia dan Disabilitas. Ia mengaku kerap membantu jemaah dalam kondisi lemah setelah perjalanan panjang, termasuk mengganti popok dan membersihkan najis. 

“Alhamdulillah, kami melayani sepenuh hati, seperti melayani orang tua sendiri,” ujar Dita di Terminal Haji Madinah. 

Menurut dia, banyak jemaah lansia tiba dalam kondisi kelelahan, bahkan popok sudah penuh karena keterbatasan fasilitas selama penerbangan. Setibanya di darat, petugas langsung sigap membantu. 

Baca juga : DPR Ingatkan Pemerintah, Waspada Potensi Karhutla

“Kami bawa ke toilet, kami bersihkan. Kadang mereka merasa malu, tapi kami yakinkan bahwa ini bagian dari pelayanan,” tuturnya. 

Bagi Dita, pengalaman paling berkesan adalah doa yang dipanjatkan jemaah setelah dibantu. “Sering mereka mendoakan kami. Itu yang membuat hati tersentuh,” katanya dengan mata berkaca-kaca. 

Ia menambahkan, seluruh petugas haji bekerja secara terkoordinasi dan tanpa pamrih. Tidak ada biaya tambahan yang dibebankan kepada jemaah untuk layanan khusus tersebut. 

“Kami tidak mengambil satu sen pun. Kami melayani dengan tulus. Harapannya bisa terus bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.