Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M kian mengandalkan kerja kolektif. Sebanyak 1.100 warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari mahasiswa di kawasan Timur Tengah dan mukimin di Arab Saudi dilibatkan sebagai tenaga pendukung (Tepung) guna memperkuat layanan operasional haji di Tanah Suci.
Keterlibatan mereka ditandai dengan bimbingan teknis Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang digelar di Al-Wehda Tower Hotel, wilayah Jarwal, Makkah, Senin (27/4/2026), serta dibuka langsung oleh Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B. Ambary.
Dalam arahannya, Yusron menegaskan, bahwa keberhasilan layanan haji tidak ditentukan oleh individu, melainkan kekuatan tim yang solid. “Saya tidak pernah percaya yang namanya superman, yang ada adalah super tim,” ujarnya.
Baca juga : Boyamin Saiman: Pembatasan Uang Kurangi 90 Persen Money Politics
Menurut dia, seluruh unsur PPIH, baik dari pusat maupun tenaga pendukung, merupakan satu kesatuan yang harus saling menguatkan demi memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia.
Data Kementerian Haji dan Umrah RI mencatat, dari total 1.100 tenaga pendukung, sebanyak 133 orang merupakan mahasiswa dari berbagai negara Timur Tengah, antara lain Mesir, Libya, Yaman, Yordania, Maroko, dan Suriah. Selebihnya merupakan mukimin yang telah lama tinggal di Arab Saudi.
Sebanyak 423 orang ditempatkan di Madinah dan 677 lainnya di Makkah. Mereka bertugas sebagai penerjemah sekaligus tim komunikasi yang mendukung berbagai layanan teknis, mulai dari pengaturan hotel, konsumsi, transportasi, hingga pengawasan di kawasan Markaziah untuk mengantisipasi jemaah tersesat.
Baca juga : Titi Anggraini: Ini Kebutuhan Struktural Tutup Pembiayaan Gelap
Yusron menilai keunggulan utama para tenaga pendukung terletak pada kemampuan berbahasa Arab serta pemahaman medan yang baik. Hal ini dinilai krusial dalam memperlancar koordinasi dengan otoritas setempat.
Ia juga memperkenalkan filosofi “Tepung” sebagai gambaran karakter kerja para petugas. “Tepung itu siap berantakan, bekerja keras, bahkan pontang-panting di lapangan. Namun dari proses itu akan lahir hasil terbaik, yakni jemaah haji yang terlayani dengan baik,” katanya.
Selain itu, Yusron mengingatkan, pentingnya kemampuan komunikasi dalam menangani persoalan di lapangan, termasuk kasus hukum. Ia menyebut, persoalan yang dikomunikasikan dengan baik sejak awal umumnya dapat diselesaikan tanpa harus masuk ke proses formal.
Baca juga : Industri Tekstil Nasional Hadapi Tekanan Berlapis
Sementara Wakil Ketua II PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Layanan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, Budi Agung Nugroho menekankan, bahwa tugas para petugas merupakan bagian dari ibadah.
“Setiap pelayanan yang memudahkan jemaah bernilai pahala, bahkan hal sederhana seperti menunjukkan arah atau membantu ke klinik,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar seluruh petugas mematuhi aturan yang berlaku, baik dari PPIH maupun otoritas Arab Saudi, termasuk kewajiban memiliki dokumen resmi seperti tasreh, visa haji, dan aplikasi Nusuk.
Dengan penguatan tenaga pendukung ini, pemerintah berharap layanan bagi jemaah haji Indonesia dapat berjalan optimal, aman, dan memberikan kenyamanan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya