Dark/Light Mode

Ahli Gizi: MBG Penuhi Sepertiga Kebutuhan Gizi Anak, Sorong Generasi Muda Sehat

Sabtu, 16 Mei 2026 10:25 WIB
Pekerja menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)
Pekerja menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya menyediakan makanan di sekolah, melainkan intervensi strategis untuk memutus rantai masalah gizi pada kelompok rentan.

Hal ini disampaikan Dewi Marfuah, S.Gz., M.P.H., perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Dewan Pimpinan Cabang Kota Surakarta, sekaligus dosen Program Studi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta (UMPKU).

Menurut Dewi, salah satu persoalan yang masih banyak ditemui di lapangan adalah banyaknya anak sekolah yang berangkat tanpa sarapan akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

“Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026). 

Berdasarkan pengalamannya saat melakukan pengabdian di sekolah, jumlah siswa yang tidak sarapan kerap lebih banyak dibandingkan yang sarapan.

Kondisi ini juga diperkuat data Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada awal Februari 2026, yang mencatat 81 persen keluarga rentan mendukung keberlanjutan program MBG.

Baca juga : Masuki Usai 25 Tahun, President University Konsisten Bangun Generasi Muda Global

Di berbagai kota kecil, program ini dinilai mampu memberikan kepastian nutrisi bagi anak-anak mereka.

Dampak positif program ini juga dirasakan langsung oleh para orang tua. Salah satunya diungkapkan Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, yang anaknya, Antonio Adrian Stefanus, merupakan siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II.

Menurut Adriana, MBG membawa perubahan nyata pada semangat belajar dan kondisi fisik anaknya.

“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat, mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajar di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Saat menerima rapor, nilainya meningkat dengan rata-rata delapan. Fisiknya juga terlihat lebih segar dan berenergi,” tuturnya.

Dewi menjelaskan, secara ilmiah program MBG memang dirancang untuk memenuhi sekitar seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian penerimanya.

“Dengan menu gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayur, hingga buah, siswa diharapkan memiliki energi yang cukup untuk berkonsentrasi belajar tanpa rasa lemas,” jelasnya.

Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Baca juga : Pakar: Pak JK Semestinya Lebih Bijak, Jangan Menakut-nakuti Masyarakat

Meski saat ini perhatian publik banyak tertuju pada anak sekolah, Dewi menegaskan bahwa keberlanjutan program melalui Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) juga menyasar kelompok rentan lainnya, seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

“Kita tidak ingin lagi melihat ibu hamil mengalami kekurangan gizi karena nutrisinya habis terserap janin tanpa ada asupan pengganti yang memadai. Begitu pula dengan balita; pemberian makanan bergizi secara rutin, bukan sekadar sebulan sekali saat Posyandu, menjadi kunci utama dalam menekan angka stunting di Indonesia,” katanya.

Di tengah masih adanya keraguan masyarakat terkait keamanan pangan dan risiko makanan basi, Dewi memastikan setiap unit SPPG wajib memiliki ahli gizi yang bertanggung jawab penuh terhadap kualitas makanan.

Ia menjelaskan, standar operasional prosedur (SOP) dalam program ini diterapkan secara ketat, termasuk pengaturan rentang waktu antara proses pengolahan hingga makanan dikonsumsi agar kualitas tetap terjaga.

“Ada batas waktu yang ketat antara proses memasak hingga makanan disantap untuk mencegah makanan basi akibat pengemasan saat masih panas. Sebelum dibagikan kepada siswa, guru juga bertindak sebagai tester untuk memastikan rasa dan kualitas makanan aman dikonsumsi,” terangnya.

Dewi juga mendorong keterlibatan aktif orang tua dan guru dalam memberikan masukan kepada SPPG apabila menemukan menu yang kurang sesuai atau tingkat penerimaan anak terhadap makanan yang dibagikan rendah.

Baca juga : Buka Puasa Bareng PB SEMMI, Kapolri Ajak Generasi Muda Bangun Bangsa

Ahli gizi di lapangan bertugas melakukan edukasi sekaligus memantau food waste atau sisa makanan. Jika sisa makanan banyak, berarti ada yang harus dievaluasi dari daya terima menu tersebut,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengawal keberhasilan MBG. Menurutnya, program ini merupakan investasi bersama dalam membangun fondasi generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.

“Dengan asupan yang aman, sehat, dan bergizi, kita sedang menyiapkan anak-anak Indonesia untuk tumbuh menjadi generasi unggul,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.