Dark/Light Mode

Dimulai Bulan Depan, Jokowi Start Blusukan Dari NTT

Selasa, 19 Mei 2026 08:04 WIB
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau jokowi. (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau jokowi. (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bulan depan, Presiden RI ke-7 Jokowi akan kembali blusukan. Start dari Nusa Tenggara Timur (NTT), selanjutnya akan dilakukan ke daerah lain di Indonesia.

Agenda blusukan Jokowi ini diungkap Sekjen Projo, Freddy Alex Damanik. Dia mengungkapkan, seiring kondisi kesehatannya yang mulai pulih, Jokowi sudah siap kembali turun ke lapangan.

“Bocorannya Pak Jokowi akan ke NTT mengunjungi budi daya rumput laut dan menyapa masyarakat NTT,” kata Freddy, Senin (18/5/2026).

Meski begitu, Freddy menegaskan agenda tersebut masih bersifat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu. Ia pun mengatakan, langkah Jokowi kembali blusukan dilakukan untuk menjaga koneksi emosional dengan masyarakat meski sudah tak lagi menjabat sebagai presiden.

Selain itu, Jokowi juga dinilai ingin mempertahankan komunikasi dengan relawan, kepala daerah, tokoh masyarakat, hingga kelompok akar rumput agar pengaruh politiknya tetap relevan.

Baca juga : Resmikan Museum Marsinah, Prabowo Komit Bela Buruh

"Karena itu Pak Jokowi harus tetap menjaga loyalitas relawan,” ujarnya.

Saat ditanya apakah agenda keliling Indonesia itu menjadi langkah awal menuju Pemilu 2029, Freddy menjawab diplomatis. Menurutnya, keterlibatan mantan presiden di ruang publik merupakan hal biasa dalam negara demokrasi. Apalagi, sambung Freddy, Jokowi datang ke NTT karena mendapat undangan menghadiri pengembangan komoditas rumput laut yang dibangun masyarakat.

“Dalam demokrasi, tokoh nasional tetap boleh berinteraksi dengan masyarakat. Semua mantan Presiden dunia juga tetap aktif berbicara, memberi inspirasi, menghadiri forum, atau turun ke masyarakat. Selama tidak melanggar,” katanya.

Sementara itu, Juru Bicara DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Faldo Maldini mengklaim, blusukan Jokowi untuk kepentingan partainya. Dengan terjun ke lapangan dan bertemu masyarakat, Jokowi akan mengangkat nama PSI.

Faldo menjelaskan, hal tersebut sejalan dengan pesan Jokowi saat menghadiri Rakernas PSI untuk turun ke desa-desa demi memenangkan partai. “Terkait Pak Jokowi turun ke lapangan adalah perwujudan seruan tersebut dan seluruh struktur kami menantikan hal itu,” kata Faldo kepada Rakyat Merdeka.

Baca juga : Pelemahan Rupiah Harus Dimitigasi

Faldo memastikan seluruh kader PSI siap menyambut kehadiran Jokowi di lapangan. Menurut dia, semangat kerja Jokowi akan menjadi energi tambahan bagi kader PSI.

“PSI akan mengawal Pak Jokowi dan Pak Jokowi akan bersama PSI turun ke berbagai daerah. Kami percaya kepercayaan masyarakat harus dijemput dengan keringat sendiri, melalui kerja lapangan yang konsisten,” cetusnya.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno belum mau berspekulasi soal rencana Jokowi kembali blusukan. Alasannya, hingga kini belum ada pernyataan resmi langsung dari Jokowi terkait rencana keliling Indonesia tersebut.

“Soal rencana keliling Indonesia ini baru sebatas pernyataan Projo,” kata Adi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Meski begitu, Adi menilai jika Jokowi benar kembali blusukan, publik kemungkinan akan membaca langkah itu sebagai upaya menjaga pengaruh politiknya setelah tak lagi menjadi presiden. “Apakah cara ini tetap efektif atau tidak, waktulah yang akan menjawab,” ujarnya.

Baca juga : Jokowi Siap-siap Keliling Indonesia

Di sisi lain, Adi melihat ada kesan persaingan antara Projo dan PSI untuk menunjukkan siapa kelompok yang paling dekat dengan Jokowi. Menurutnya, PSI menilai Projo tak bisa merepresentasikan Jokowi. Kenapa? Karena beberapa waktu lalu, organisasi itu sempat menyatakan bukan lagi Pro Jokowi, melainkan bermakna negara atau rakyat.

“Ini yang sepertinya membuat PSI anggap Projo tak merepresentasikan Jokowi, tapi PSI lah yang paling Jokowi. Karena Jokowi adalah imam besar PSI,” imbuhnya.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang ada, Adi mengakui popularitas Jokowi masih cukup kuat di masyarakat. Namun, soal seberapa besar pengaruh politik dan magnet elektoralnya, menurut dia, masih harus dibuktikan waktu.

Adi menambahkan, hingga kini belum ada alat ukur yang benar-benar efektif untuk mendeteksi seberapa besar pengaruh Jokowi setelah tak lagi menjabat sebagai presiden. Meski demikian, Adi menilai agenda blusukan mantan presiden tidak otomatis memengaruhi peta politik nasional.

“Blusukan semacam itu perkara biasa. Peta politik tak ada kaitannya dengan blusukan, tapi soal kesamaan chemistry,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.