Dark/Light Mode

Raksha Loka Angkat Aksi Komunitas Jaga Lingkungan

Rabu, 20 Mei 2026 07:25 WIB
Dari kiri, Anggota Panitia Pengarah GEF SGP Indonesia Latipah Hendrarti, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan sekaligus Hosting Program GEF SGP Indonesia Yani Witjaksono, GEF Focal Point Indonesia Erik Teguh Primiantoro dan Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat konferensi pers di Jakarta. (Foto: GEF SGP Indonesia)
Dari kiri, Anggota Panitia Pengarah GEF SGP Indonesia Latipah Hendrarti, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan sekaligus Hosting Program GEF SGP Indonesia Yani Witjaksono, GEF Focal Point Indonesia Erik Teguh Primiantoro dan Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat konferensi pers di Jakarta. (Foto: GEF SGP Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Global Environment Facility Small Grants Programme Indonesia atau GEF SGP Indonesia akan menggelar Festival Raksha Loka pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Mengusung tema “Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan” (Protecting Nature, Protecting the Future), festival ini menjadi penanda penutupan Fase Operasional ke-7 periode 2021–2026 sekaligus wadah kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.

Festival tersebut hadir di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, degradasi lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Melalui Raksha Loka, GEF SGP Indonesia ingin menegaskan bahwa komunitas lokal memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus menciptakan solusi ekonomi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

GEF SGP Indonesia merupakan program hibah lingkungan berskala kecil yang didukung Global Environment Facility, diimplementasikan oleh United Nations Development Programme, dan dijalankan secara nasional oleh Yayasan Bina Usaha Lingkungan. Program ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat akar rumput dan organisasi sipil dalam isu konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, pengelolaan hutan berkelanjutan, hingga perlindungan kawasan pesisir dan perairan.

GEF Focal Point Indonesia, Erik Teguh Primiantoro menegaskan, pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya berhenti pada romantisme pelestarian alam. Menurutnya, masyarakat harus merasakan langsung manfaat ekonomi agar tumbuh rasa memiliki terhadap lingkungan.

“Kalau kita bicara lingkungan hanya romantisme, masyarakat akan lapar. Karena itu, pengelolaan lingkungan harus mampu menciptakan ekonomi baru yang membuat masyarakat merasa memiliki dan menjaga alamnya sendiri,” ujar Erik.

Baca juga : Jasa Raharja Dan Korlantas Ajak Komunitas Driver Peduli Keselamatan Lalu Lintas

Ia mencontohkan sejumlah praktik kreatif masyarakat seperti wisata edukasi mangrove hingga transplantasi terumbu karang berbasis wisata selam di Bali. Pendekatan itu dinilai mampu menjadikan konservasi sebagai aktivitas produktif yang menghasilkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga ekosistem.

Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala mengatakan, pihaknya juga menyiapkan strategi keberlanjutan bagi kelompok masyarakat penerima hibah agar tidak berhenti setelah program selesai.

Salah satunya melalui skema Bantuan Usaha Melalui Investasi (BUMI) yang memberi peluang tambahan pendanaan bagi komunitas yang dinilai berhasil mengembangkan usaha berbasis lingkungan.

“Program ini tidak berhenti setelah hibah selesai. Kami punya strategi keberlanjutan agar kelompok masyarakat bisa naik kelas dan terus berkembang,” kata Sidi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), Yani Witjaksono menilai, berbagai komunitas dampingan telah membuktikan potensi sumber daya alam lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Baca juga : Dubes Djauhari Oratmangun Terima Kunjungan Delegasi Komunitas Muslim Medan

Mulai dari madu hutan, hasil laut, hingga koperasi nelayan berbasis energi terbarukan disebut menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat bisa terhubung dengan pasar yang lebih luas.

Menurut Yani, pendekatan “Local Action, Global Impact” menjadi bukti bahwa solusi krisis lingkungan global dapat dimulai dari aksi lokal yang dekat dengan budaya dan kebutuhan masyarakat setempat.

Di sisi lain, Anggota Panitia Pengarah GEF SGP Indonesia, Latipah Hendrarti menilai pelibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan gerakan lingkungan.

Dalam Festival Raksha Loka, para pelajar dan anak muda akan dikenalkan pada empat bentang alam dampingan GEF SGP Indonesia melalui berbagai kegiatan edukatif dan interaktif.

“Anak muda perlu melihat langsung bahwa mereka bagian dari ekosistem. Karena itu pendekatan pendidikan lingkungan harus terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari dan konteks lokal masyarakat,” ujarnya.

Baca juga : Persib Vs Bhayangkara FC, Misi Kunci Gelar Juara

Selama Fase Operasional ke-7, GEF SGP Indonesia telah menyalurkan dana hibah lebih dari USD 2,8 juta dengan melibatkan lebih dari 80 mitra aktif dari unsur komunitas, organisasi masyarakat sipil dan akademisi.

Program tersebut dijalankan melalui empat bentang alam prioritas, yakni DAS Bodri di Jawa Tengah, DAS Balangtieng di Sulawesi Selatan, kawasan Nantu dan Tahura di Gorontalo, serta Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.

Festival Raksha Loka nantinya menghadirkan pameran inisiatif komunitas, diskusi publik, pertunjukan seni budaya hingga forum kolaborasi multipihak yang menampilkan praktik baik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.