Dark/Light Mode

Hadapi Gejolak Global, Industri Agro Pacu Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan

Selasa, 21 April 2026 19:06 WIB
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika. (Foto: DIT/RM)
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika. (Foto: DIT/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan industri agro nasional, khususnya sektor makanan dan minuman, tetap mampu menjaga keberlanjutan produksi di tengah dinamika global yang memengaruhi harga bahan baku plastik.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah justru menjadi momentum untuk mendorong efisiensi sekaligus mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan.

“Industri makanan dan minuman merupakan pengguna produk plastik untuk berbagai kebutuhan kemasan. Situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Putu di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Menurut dia, pelaku industri mulai melakukan diversifikasi material kemasan dengan memanfaatkan kertas, kaca, logam, serta plastik hasil daur ulang seperti recycled PET (rPET).

Baca juga : Wamen Stella Minta Industri Jaga Produksi dan Tekan Emisi

Kemenperin menilai industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat dalam mendukung transformasi kemasan, khususnya berbahan dasar kertas. Pada 2025, sektor ini didukung oleh 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun.

Selain itu, nilai ekspor industri pulp dan kertas tercatat mencapai 8,2 miliar dolar AS dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1,48 juta orang.

“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar, terutama untuk kebutuhan ritel, industri makanan dan minuman, e-commerce, serta logistik. Saat ini kami juga fokus pada pengembangan aseptic packaging untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dingin,” kata Putu.

Ia menambahkan, inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating, dan active paper packaging perlu terus diperkuat melalui riset dan investasi ke depan.

Baca juga : Sosialisasi 4 Pilar Lewat Film, Nilam Sari Ajak Warga Palu Peduli Lingkungan

Selain kemasan berbasis kertas, Kemenperin juga mendorong pengembangan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut. Sejumlah pelaku industri dalam negeri telah mulai memproduksi kemasan ramah lingkungan berbasis pati singkong maupun rumput laut.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan industri tersebut, mengingat posisinya sebagai salah satu produsen utama ubi kayu dan rumput laut dunia.

“Berdasarkan data SIINas, total kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu mencapai 8 ribu ton per tahun, sedangkan berbahan baku rumput laut sebesar 28 ton per tahun,” ungkap Putu.

Kemenperin menegaskan akan terus memantau perkembangan global dengan fokus kebijakan pada penguatan struktur industri nasional melalui diversifikasi bahan baku, penguatan industri hulu, serta pengembangan produk kemasan.

Baca juga : Hadapi Geopolitik Global dan El Nino, Pemprov DKI Siapkan Relaksasi Pajak

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing sekaligus menjaga ketahanan industri agro Indonesia terhadap gejolak eksternal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.