Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- AS Vs Bosnia-Herzegovina, Tuan Rumah Punya Rekor Buruk Lawan Tim Eropa
- RD Kongo Vs Inggris, Tiga Singa Diancam Macan Tutul
- Mesin Hidrogen 100 Persen Diuji Di Laboratorium Bermeo Spanyol Milik Wartsila
- Menteri Dody Usulkan Tiga Isu Prioritas Masuk Agenda World Water Forum ke-11
- Apresiasi Catatan Seskab Teddy, TII Minta Perluasan Kuota Magang Transparan
KPAI Desak Audit Keselamatan Proyek Usai Balita Tewas Di Lubang Galian
Senin, 29 Juni 2026 13:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang balita berusia empat tahun yang terperosok ke dalam lubang proyek pembangunan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. KPAI menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh standar keselamatan proyek di ruang publik.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra mengatakan maraknya proyek galian di ruang publik selama ini telah banyak dikeluhkan masyarakat karena mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Galian untuk saluran air, jaringan kabel, utilitas, PAM, kabel optik, hingga proyek penataan taman menyebabkan kemacetan, menghambat aktivitas masyarakat, serta meninggalkan banyak lubang di ruang publik. Keluhan tersebut bahkan menjadi perbincangan luas di berbagai media," kata Jasra dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Baca juga : PLN EPI Perkuat Literasi Keuangan Pegawai Lewat Financial Wellbeing
Menurut KPAI, seluruh proyek konstruksi yang berada di ruang publik wajib menerapkan standar keselamatan yang memperhatikan karakteristik anak sebagai kelompok paling rentan terhadap kecelakaan.
"Bahaya lubang proyek berlangsung selama 24 jam. Pengamanan tidak cukup hanya dengan garis pembatas atau papan peringatan, tetapi harus benar-benar mampu mencegah anak memasuki area berbahaya," tegas Jasra.
KPAI juga mengingatkan agar proses penyelidikan terhadap tragedi di Tebet tidak mengaburkan penyebab utama peristiwa tersebut.
Baca juga : PLN Berusaha Keras Mengatasi, Kelistrikan Jawa Bali Mengalami Gangguan
"Misalnya hanya menekankan bahwa korban masih hidup saat dievakuasi lalu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Perspektif kita harus sepenuhnya menyadari bahwa bayi, balita, dan anak-anak tidak sekuat orang dewasa. Karena itu, tidak tepat jika dinarasikan bahwa kematian korban bukan akibat lubang tersebut," ujarnya.
Jasra menambahkan, peristiwa di Tebet mengingatkan pada kasus meninggalnya seorang anak di Taman Radio Dalam, Jakarta Selatan, yang diduga akibat tersengat aliran listrik di area taman. Menurutnya, kedua kasus tersebut harus menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan ruang publik agar kejadian serupa tidak terulang.
"Jika dua kejadian besar ini tidak menghasilkan evaluasi menyeluruh, pembenahan sistem, serta penegakan hukum yang tegas, maka dikhawatirkan akan muncul korban-korban berikutnya," katanya.
Baca juga : GKR Hemas Ingatkan Potensi Bahaya AI Bagi Generasi Muda Bangsa
Sebelumnya, seorang balita berinisial I (4) meninggal dunia setelah terjebak sekitar empat jam di dalam lubang proyek pembangunan lapangan multifungsi di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Korban sempat berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup, namun meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya