Dark/Light Mode

Museum ITB, Ruang Baru Membaca Masa Lalu Dan Merajut Masa Depan

Minggu, 5 Juli 2026 14:56 WIB
Peresmian Museum ITB di lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (3/7/2026). Foto: ITB
Peresmian Museum ITB di lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (3/7/2026). Foto: ITB

 Sebelumnya 
Ia memberi contoh sederhana: konsep gaya dalam ilmu fisika atau teknik. Di kelas, gaya bisa terasa abstrak. Namun, di museum, konsep itu dapat dihubungkan dengan jembatan, beban, struktur, atau simulasi visual.

“Katakanlah orang belajar gaya. Gaya itu apa? Gaya yang terjadi dalam jembatan itu apa yang harus dihitung? Apa yang terjadi jika bebannya terlalu berat? Mereka bisa melihat film-filmnya sehingga mereka merasa mendapatkan contoh nyata,” kata Dermawan.

Di titik ini, Museum ITB mengambil posisi sebagai jembatan antara teori dan pengalaman. Ia tidak menggantikan kelas, tetapi memperluas cara belajar. Ia menumbuhkan imajinasi teknis, bukan hanya ingatan historis.

Dermawan kemudian membawa gagasan itu ke wilayah yang lebih luas: rasa percaya diri bangsa. “Nilai pertama adalah bahwa kita bukan bangsa yang lebih rendah dari bangsa lain. Kita memiliki competitiveness dari segi kemampuan. Karena itu kita ingin membuat generasi berikutnya memiliki daya juang yang tinggi, tidak minder, memiliki kemampuan kompetisi yang bagus, dan juga fairness,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi salah satu inti narasi Museum ITB. Museum tidak hanya menyampaikan apa yang pernah dicapai ITB, tetapi juga membisikkan kepada generasi muda bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bukan wilayah yang jauh. Ia bisa dipelajari, disentuh, dipahami, dan dilanjutkan.

Baca juga : Bantai Tunisia 4-0, Samurai Biru Jaga Asa Lolos 32 Besar

Secara kuratorial, Museum ITB dibagi ke dalam empat zona utama. Zona Akar Sejarah ITB membawa pengunjung menelusuri perjalanan dari Technische Hoogeschool te Bandoeng hingga menjadi ITB. Zona Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan menampilkan proses lahirnya riset dan inovasi.

Zona Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa merekam dinamika sivitas akademika. Sementara Zona Inspirasi Masa Depan memperkenalkan tokoh-tokoh, gagasan, dan kontribusi ITB bagi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kemanusiaan.

Di luar empat zona itu, ada 360° Teater Dome yang menjadi daya tarik utama. Fasilitas ini menghadirkan pengalaman imersif sinematik melalui perpaduan visual dan audio, sehingga pengunjung dapat merasakan perjalanan sejarah kampus dan simulasi riset para ilmuwan.

Bagi Dermawan, museum ini harus terus bergerak agar tidak menjadi ruang yang beku. Ia menyebut adanya area pamer nonpermanen yang dapat berganti tema sesuai program studi atau fakultas.

“Koleksinya nanti akan komprehensif, menyangkut semua sisi dari program studi: science, technology, engineering, human resource, dan sebagainya. Itu lengkap, sehingga seimbang,” katanya.

Baca juga : Menuju Era Baru Trans Semarang: Hijau, Jalur Khusus, dan Berkeadilan

Ia menjelaskan bahwa keseimbangan itu dimungkinkan karena ada ruang pamer non permanen. “Setiap program studi akan pameran di situ. Katakanlah ada 12 fakultas, tiap bulan fakultasnya berbeda-beda sehingga mendapat giliran. Orang mendapatkan gambaran yang komplet tentang semua fakultas di ITB,” ujar Dermawan.

Gagasan ini membuat Museum ITB tidak semata menjadi museum sejarah institusi, tetapi juga etalase hidup dari dinamika keilmuan kampus. Sejarah ditempatkan bukan sebagai halaman terakhir, melainkan sebagai pintu masuk menuju percakapan baru.

Dermawan juga menyebut ambisi menjadikan Museum ITB sebagai “edu-fun center” baru di Bandung. Istilah itu menarik karena memadukan dua hal yang sering dipisahkan: pendidikan dan rekreasi.

“Kita ingin menjadikan ini edufun center baru di Bandung, sehingga ini menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat, tetapi yang mengandung edukasi,” katanya. Menurut Dermawan, museum idealnya menjadi pusat pengetahuan sekaligus tempat belajar yang menyenangkan. “Jadi kita belajar dengan senang,” ujarnya.

Namun, ia juga realistis. Pada tahap awal, segmentasi pengunjung masih perlu disempurnakan. Display yang terlalu akademis mungkin cocok untuk mahasiswa atau siswa SMA, tetapi belum tentu mudah dipahami anak SD dan SMP.

Baca juga : Dasco: Tak Ada Merger Antara Gerindra Dan NasDem

“Segmentasinya bagi saya masih berat ke akademis, universitas atau SMA. Yang SD-SMP mungkin masih belum mudah memahami display yang kita setel,” katanya.

Karena itu, ia membayangkan pengembangan area interaktif yang lebih sesuai bagi anak-anak: bermain sambil memahami gaya dorong, gaya gesek, beban, atau konsep dasar sains lain.

“Kelak mungkin diberikan sesuatu yang lebih interaktif. Katakanlah bermain di suatu tempat, tetapi ada gaya dorong, gaya gesek, dan sebagainya, sehingga lebih menarik untuk setiap segmen,” ujarnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.