Dark/Light Mode

Museum ITB, Ruang Baru Membaca Masa Lalu Dan Merajut Masa Depan

Minggu, 5 Juli 2026 14:56 WIB
Peresmian Museum ITB di lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (3/7/2026). Foto: ITB
Peresmian Museum ITB di lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (3/7/2026). Foto: ITB

 Sebelumnya 
Dalam wawancara, Dermawan juga menyinggung rencana awal ticketing. Ia menyebut berbagai kemungkinan: tiket museum, tiket dome theater, tiket paket, tiket grup, atau tiket perorangan. Angka Rp 50.000 disebut sebagai pembicaraan awal, bukan keputusan final yang diumumkan resmi.

“Dari ticketing nanti, apakah full, apakah ada paket—paket dome theater saja, paket museum saja, grup, atau perorangan. Dalam obrolan ringan, kira-kira Rp 50.000 HTM-nya,” katanya.

Informasi ini sebaiknya dibaca sebagai rencana internal awal, bukan tarif resmi operasional. ITB juga menjadi cerita tentang gotong royong. Dalam sambutannya, Tatacipta berulang kali menyebut dukungan para donatur, alumni, dan keluarga besar ITB.

Ia secara khusus menyapa tokoh-tokoh yang hadir, termasuk Sinta Nuriyah Wahid, Fadli Zon, Dato’ Low Tuck Kwong, Purnomo Yusgiantoro, keluarga Medco, keluarga Paragon, Yani Panigoro, dan Nyoman Nuarta.

“Terima kasih sekali kepada semua pihak yang telah membantu memberikan kepercayaan, donasi, kontribusi kepada perwujudan museum ini,” ujar Tatacipta.

Secara resmi, ITB sebelumnya juga mencatat adanya kerja sama dengan Purnomo Yusgiantoro Center dan Dato’ Dr. Low Tuck Kwong terkait donasi renovasi Museum ITB. Kerja sama itu ditandatangani pada 14 November 2025, dan disaksikan antara lain oleh Prof. Purnomo Yusgiantoro serta perwakilan Dato’ Low Tuck Kwong.

Baca juga : Bantai Tunisia 4-0, Samurai Biru Jaga Asa Lolos 32 Besar

Dermawan menyebut dukungan alumni sebagai salah satu energi utama museum. “Alumni ITB itu pada dasarnya generous. Kalau kita memberikan suatu ide, mereka akan dengan senang hati membantu,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut, pada tahap awal pembangunan museum, para alumni memberikan dukungan tanpa banyak syarat. “Kita tidak menjanjikan apa-apa, mereka langsung memberikan Rp 12 miliar sampai Rp 14 miliar,” katanya.

Dermawan lalu memberi contoh spontanitas dukungan itu. “Saya hanya menelepon Pak Nyoman Nuarta, dia langsung (menyumbanag-red) 100 juta. Tidak ngomong apa-apa, tidak tanya apa-apa,” ujarnya.

Kehadiran Nyoman Nuarta di acara peresmian pun menjadi simbol kuat. Ia bukan hanya seniman besar Indonesia, tetapi juga bagian dari jejak alumni dan dunia kreatif yang memperluas makna ITB di luar sains dan teknik semata.

Bagi Dermawan, Museum ITB baru berada di tahap pertama. Ia menyebut fase berikutnya akan berjalan bertahap, mungkin dalam kurun satu sampai dua tahun, lalu berkembang lebih jauh dalam lima tahun.

“Ini baru tahap pertama, starting point-nya. Tahap kedua nanti setelah ada orang masuk, ada income yang kita dapatkan, mudah-mudahan berikutnya bisa meng-create hal-hal yang kita rencanakan. Tahap kedua mungkin berlangsung sekitar satu-dua tahun. Kemudian tahap ketiga dan sebagainya, kira-kira selama lima tahun sampai kita mendapatkan posisi sebagai host internasional museum,” katanya.

Baca juga : Menuju Era Baru Trans Semarang: Hijau, Jalur Khusus, dan Berkeadilan

Yang ia maksud bukan hanya memperluas ruang fisik, tetapi membangun jejaring. Dermawan membayangkan Museum ITB menjadi simpul yang bisa terhubung dengan museum lain di luar negeri.

“Menjadi pusat dunia dalam hal kita memiliki host yang bisa terhubung secara online dengan berbagai museum di luar negeri. Sehingga orang Indonesia tidak perlu pergi ke Tokyo, London, atau New York. Bisa langsung klik saja dari sini,” ujarnya.

Dia juga menyebut peluang kerja sama dengan museum dan universitas di Belanda, Jepang, Inggris, dan negara lain. Salah satu yang disebutnya adalah dokumen teknis Aula Barat yang masih tersimpan di Delft, Belanda. “Kita mendapatkan gambar Aula Barat asli, masih gambar teknis itu, dari Delft, Belanda. Di sana masih ada dokumentasinya asli,” kata Dermawan.

Arah ini menunjukkan bahwa Museum ITB tidak ingin berhenti sebagai ruang nostalgia internal kampus. Ia ingin menjadi simpul pengetahuan, menghubungkan arsip lokal dengan jaringan global.

Tatacipta menyebut Museum ITB sebagai museum yang akan terus tumbuh. Menurut dia, setelah tahap pertama dibuka, akan muncul kebutuhan untuk menambah pojok-pojok sejarah dari berbagai fakultas dan program studi.

“Ini baru tahap satu. Nanti akan ada tahap dua. Pasti nanti kalau sudah lihat ini, ada yang bertanya, kok farmasi belum ada, kok arsitektur belum ada. Nanti kita akan isi pojok-pojok berikutnya untuk setiap sejarah yang ada,” ujarnya.

Baca juga : Dasco: Tak Ada Merger Antara Gerindra Dan NasDem

Tatacipta menggambarkan museum sebagai sesuatu yang ‘tidak akan pernah selesai’.

“Mudah-mudahan ini akan menjadi museum yang tidak akan pernah selesai. Ini akan menjadi museum yang terus tumbuh, museum yang terus bertambah koleksinya, terus memperkaya pengetahuan, terus membangun dialog dari generasi ke generasi,” katanya.

Bagi Tatacipta, membangun museum bukan sekadar membangun ruangan. “Ini kita sedang membangun peradaban, membangun budaya. Ini adalah investasi jangka panjang bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pendidikan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi penutup yang tepat bagi grand launching Museum ITB. Di hadapan para tokoh, donatur, penggagas, akademisi, alumni, dan masyarakat, museum ini mengajukan satu cara pandang: sejarah bukan sekadar apa yang telah lewat, tetapi bahan bakar untuk bergerak.

Di Bandung, pada lantai atas Sabuga, masa lalu ITB kini memiliki ruang baru. Di sana, buku induk Bung Karno, jejak riset, kisah para alumni, teknologi dome, hingga imajinasi tentang museum yang terhubung ke dunia, bertemu dalam satu narasi besar: bahwa pendidikan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menyimpan, merawat, dan mewariskan peradaban. Dan seperti dikatakan Dermawan, museum ini adalah titik mula. Bukan garis akhir.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.