Dark/Light Mode

GSI Dorong Regulasi Dukung Ekosistem Perfilman Hingga Ke Daerah

Minggu, 19 Juli 2026 14:55 WIB
Ketua Umum GSI Hj. Dewie Yasin Limpo, saat menghadiri acara Peluncuran Official Poster dan Official Trailer film Ibadah & Cinta di Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Foto: GSI
Ketua Umum GSI Hj. Dewie Yasin Limpo, saat menghadiri acara Peluncuran Official Poster dan Official Trailer film Ibadah & Cinta di Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Foto: GSI

RM.id  Rakyat Merdeka - Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) mendorong hadirnya regulasi yang mampu memperluas ekosistem perfilman nasional hingga ke daerah.

Salah satu gagasan yang disuarakan adalah penyediaan bioskop di setiap kabupaten agar masyarakat di luar ibu kota memiliki akses terhadap tontonan berkualitas sekaligus membuka ruang bagi berkembangnya industri kreatif lokal.

Dorongan tersebut disampaikan Ketua Umum GSI Hj. Dewie Yasin Limpo, saat menghadiri acara Peluncuran Official Poster dan Official Trailer film Ibadah & Cinta di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).

Dewie menilai perfilman nasional tidak boleh hanya berkembang di kota-kota besar. Menurutnya, film dapat menjadi sarana hiburan sekaligus media pendidikan, dakwah, pembelajaran, dan pengenalan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat.

"Gerakan Srikandi Indonesia ingin memohon kepada pemerintah bahwa saatnya sekarang film-film ini harus ada bioskop-bioskop di setiap kabupaten," kata Dewie.

Baca juga : Kakang Rudianto Di Persib Hingga 2029

Ia menegaskan, pembangunan ekosistem perfilman di daerah harus mendapat perhatian yang sama dengan berbagai program pembangunan lainnya.

Menurutnya, masyarakat di daerah juga membutuhkan hiburan berkualitas yang dapat membuka wawasan sekaligus memperkenalkan keragaman Indonesia.

"Bukan saja koperasi-koperasi, bukan saja dapur-dapur (Makan Bergizi Gratis), tapi juga kita berikan tontonan kepada masyarakat. Kita hadirkan di setiap kabupaten saja satu bioskop," usulnya.

Dewie mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan budaya, suku, tradisi, dan keindahan alam yang sangat besar. Kekayaan tersebut, kata dia, harus digali dan diangkat melalui karya-karya film yang diproduksi oleh anak bangsa.

"Apapun produk yang ada di negeri ini harus kita cintai. Apa yang tidak ada di negara kita? Budayanya, sukunya, pemandangan alamnya, semua ada. Kenapa tidak digali dengan baik," tegasnya.

Baca juga : Menkop Resmi Buka Pelatihan Manajer Kopdes Merah Putih

Karena itu, GSI mendorong agar para produser, pekerja seni, dan pelaku industri kreatif diberikan ruang yang lebih besar untuk mengembangkan bakat sekaligus mengangkat potensi daerah melalui perfilman.

Dewie bahkan mengusulkan agar agenda tersebut diperjuangkan melalui jalur legislatif, dengan melibatkan Komisi VI DPR RI. Ia berharap ke depan dapat lahir kebijakan yang memastikan setiap kabupaten memiliki akses terhadap fasilitas bioskop dan ekosistem perfilman.

"Ke depan kita bersama-sama memperjuangkan untuk bisa di setiap kabupaten. Mungkin terkait Komisi VI DPR, bisa ada satu kabupaten, satu bioskop," katanya.

Bagi Dewie, kehadiran bioskop di daerah bukan sekadar membangun tempat hiburan. Lebih jauh, fasilitas tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menggali potensi budaya, ekonomi kreatif, dan talenta lokal yang selama ini belum mendapatkan ruang yang memadai.

Ia juga memberikan apresiasi kepada produser, pemilik produksi, kru, serta para pemain film Ibadah & Cinta. Film tersebut dinilai dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda untuk ikut mengembangkan dunia perfilman nasional.

Baca juga : MBG Diawasi Ketat Pemerintah Pusat-Daerah

Dewie menilai, film yang mengangkat tema cinta dan nilai-nilai keagamaan itu memiliki pesan yang relevan bagi masyarakat. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai pendidikan dan inspirasi.

"Film dan novel Ibadah & Cinta ini adalah satu inspirasi yang tentunya bisa menjadi motivasi buat anak-anak generasi muda kita dalam mengangkat dunia perfilman dalam negeri," katanya.

Dewie menegaskan, Indonesia merupakan bangsa besar yang memiliki modal budaya dan sumber daya manusia yang sangat kuat. Menurutnya, masa depan industri perfilman nasional harus dibangun oleh anak bangsa sendiri dengan dukungan regulasi dan infrastruktur yang merata.

"Bangsa ini bangsa yang besar, dan yang bisa membesarkan adalah anak bangsa sendiri," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.