Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- PMI Manufaktur Juli Kembali Ekspansi, Kadin Minta Tren Positif Dijaga
- Taipei Open 2026, Kalahkan Malaysia, Ganda Garuda Juara
- Kapal Pertamina Patra Niaga Selamatkan 17 Korban KMP Mutiara Sentosa 2
- Jasaraharja Putera Pastikan Perlindungan Bagi Korban KMP Mutiara Sentosa II
- Kasus Bupati Pemalang, KPK Sita Moge hingga Emas dari Penggeledahan
Menag Dorong Perluasan Fungsi Masjid, Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat
Senin, 3 Agustus 2026 14:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan, masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah. Menurutnya, fungsi masjid perlu terus diperluas agar memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial, kemanusiaan, hingga pembangunan bangsa.
Pernyataan itu disampaikan Menag dalam kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, di Masjid Al Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026). Acara dihadiri sekitar 20.000 jamaah.
"Bukan umat yang memberdayakan masjid tapi masjid yang memberdayakan umat," ujar Menag, seperti dimuat di laman kemenag.go.id.
Baca juga : M4CR Percepat Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan Timur
Menurut Menag, transformasi fungsi masjid telah mulai berjalan di Indonesia. Ia mencontohkan ribuan masjid yang dimanfaatkan sebagai posko pelayanan masyarakat selama arus mudik 2026.
"Mari kita fungsikan masjid-masjid di Indonesia sebagai contoh. Sekarang masjid memiliki fungsi baru yaitu posko mudik, 6.000-an masjid menjadi posko mudik," terangnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengatakan, perluasan fungsi tersebut sejalan dengan teladan yang dicontohkan pada masa Rasulullah SAW, ketika masjid menjadi pusat penyelenggaraan berbagai urusan masyarakat dan pemerintahan.
Baca juga : Kemenag Ajak Warga Berbondong-bondong Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
"Kita lihat masjidnya Rasulullah berfungsi sebagai sekretariat negara. Semua persoalan-persoalan pemerintahan diselesaikan di masjid. Jadi, masjid itu adalah rumah besar untuk kemanusiaan," ungkapnya.
Dalam konteks itu, Menag menilai, peran imam masjid menjadi semakin strategis. Imam tidak hanya memimpin ibadah, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan fungsi sosial masjid sehingga menjadi pusat pelayanan, pemberdayaan, dan penyebaran nilai-nilai perdamaian di tengah masyarakat.
Hal tersebut, kata dia, menjadi salah satu semangat penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang akan mempertemukan para imam dari berbagai negara.
Baca juga : Stafsus Menag Paparkan Konsep Kerukunan Prabowo di Forum Internasional
"Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia," tegas Menag.
Selain itu, pada September nanti ada penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta. Konferensi internasional tersebut ditargetkan menghadirkan sekitar 400 imam besar dari berbagai negara sebagai wadah memperkuat jejaring dan pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan masjid serta penguatan peran imam di tingkat global.
"Termasuk kita usahakan, insya Allah, Sheikh Sudais akan datang. Kemudian juga imam besar yang lain, termasuk Grandsheikh Al-Azhar kita juga undang. Dari Amerika, dari Eropa, dari Jepang, Korea, semua imam-imam besar pada negara-negara terutama negara-negara besar itu akan datang secara simbolik di Indonesia," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya