Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kemenag Terbitkan 40 Buku Digital PAI untuk Siswa PAUD hingga Mahasiswa
- Investasi 6 Perusahaan TPT Berpotensi Ciptakan Hampir 10.000 Lapangan Kerja
- Bos Toyota: Solusi Atasi Krisis Iklim Bisa Dari Lingkungan Sekitar
- Transjakarta Gandeng APKI-PERDOKI, Perkuat Standar Kesehatan Pramudi
- Umuh Muchtar Optimistis Maung Bandung Makin Kuat
Dari Peluncuran Buku ke Kedaulatan: Sumitro, UU Perekonomian & Indonesia Emas
Rabu, 5 Agustus 2026 20:13 WIB
Sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui pergantian pemerintahan atau pertumbuhan ekonomi semu. Bangsa dibangun oleh gagasan yang mampu melampaui zamannya, menjadi kompas bagi arah pembangunan, sekaligus menjadi fondasi bagi lahirnya kedaulatan.
Atas keyakinan itulah, Nusantara Centre menyelenggarakan Deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila, peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia, serta Simposium Nasional bertema "Urgensi Undang-Undang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial dalam Menata Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045", di Auditorium Yusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Momentum tersebut bukan sekadar peluncuran sebuah buku. Ia merupakan ikhtiar intelektual untuk menghidupkan kembali diskursus mengenai arah pembangunan Indonesia di tengah perubahan geopolitik dunia, fragmentasi rantai pasok global, disrupsi teknologi, serta meningkatnya persaingan ekonomi antarbangsa. Di tengah tantangan tersebut, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi apakah Indonesia akan tumbuh, melainkan apakah Indonesia mampu bertumbuh sebagai bangsa yang berdaulat.
Acara peluncuran buku Sumitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia
Acara ini dihadiri oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Tenaga Ahli Utama KSP Guruh Muamar Khadafi, Prof. Didin S. Damanhuri, CEO Nusantara Centre Prof. Yudhie Haryono, Dirut RRI Ignatius Hendrasmo, Mukit Hendrayatno, Laksamana Pertama Salim, dua penulis buku Sumitro Anti Penjajahan Agus Rizal dan Dedi Setiadi, serta perwakilan dari keluarga Profesor Sumitro.
Kehadiran para narasumber mencerminkan kesadaran bersama bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya memerlukan instrumen pasar, tetapi juga kepemimpinan negara, kepastian hukum, dan visi kebangsaan yang utuh. Dalam pidatonya, Agus Rizal menegaskan bahwa pemikiran Soemitro Djojohadikusumo merupakan salah satu manifestasi paling penting dari tradisi Ekonomi Pancasila.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Gelar Bright Gas Cooking Competition 2026
Dalam buku itu, tertuang konsep sebagai trias ekonomika yang diinspirasi pemikiran Prof Yudhie Haryono dalam riset mendalam di Nusantara Centre. Trias ekonomika sendiri adalah negara sebagai pengarah strategis, BUMN sebagai instrumen kepentingan nasional, swasta nasional sebagai kekuatan produksi dan inovasi, serta koperasi sebagai pilar pemerataan. Dalam buku yang diluncurkan, gagasan itu dibaca kembali melalui perspektif Indonesia Incorporated, sebuah paradigma yang menempatkan seluruh kekuatan ekonomi nasional bekerja secara sinergis untuk mencapai tujuan konstitusional negara.
Menurut Agus Rizal, membaca Soemitro pada abad ke-21 tidak cukup berhenti sebagai biografi sejarah. Yang lebih penting adalah menerjemahkan pemikirannya menjadi agenda pembangunan yang konkret. Karena itu, Nusantara Centre menawarkan lima agenda transformasi struktural sebagai fondasi menuju kebangkitan ekonomi nasional.
Agenda pertama adalah nasionalisasi, yakni mengembalikan penguasaan sektor-sektor strategis kepada kepentingan nasional. Namun nasionalisasi, tegas Agus Rizal, harus dibarengi tata kelola yang bersih dan profesional agar tidak sekadar mengganti pemilik, melainkan benar-benar menghadirkan kedaulatan ekonomi.
Agenda kedua ialah rekapitalisasi, melalui mobilisasi tabungan nasional, penguatan pembiayaan produktif, optimalisasi peran BUMN, swasta nasional, koperasi, serta sistem keuangan yang berpihak pada industrialisasi. Indonesia, menurutnya, tidak mungkin membangun industri berdaya saing apabila pembangunan terus bergantung pada modal eksternal.
Agenda ketiga adalah redistribusi, yang dimaknai sebagai perluasan akses terhadap modal, teknologi, pendidikan, tanah, kesempatan usaha, dan nilai tambah ekonomi sehingga kesejahteraan tidak terkonsentrasi pada segelintir kelompok.
Agenda keempat adalah restrukturisasi, yakni membangun arsitektur ekonomi baru yang sesuai dengan tantangan abad ke-21. Struktur ekonomi yang selama ini bertumpu pada ekspor komoditas mentah dinilai tidak lagi memadai untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
Baca juga : Umara Group Buka Restoran Keluarga Bernuansa Nusantara
Puncaknya adalah reindustrialisasi. Indonesia dipandang harus bergerak dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis nilai tambah melalui hilirisasi, penguasaan teknologi, pembangunan industri strategis, dan inovasi nasional. Dalam paradigma ini, negara bukan sekadar regulator, melainkan aktor strategis yang mampu menciptakan ekosistem industri nasional yang tangguh.
Atas dasar pemikiran tersebut, Simposium Nasional menghasilkan Maklumat Merdeka Barat 4 Agustus 2026 yang memuat lima rekomendasi strategis
Pertama, mendorong segera disusunnya Undang-Undang Perekonomian Nasional sebagai instrumen hukum untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi, menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, serta memperkuat negara yang berdaulat dan sejahtera.
Kedua, mempercepat transformasi struktural melalui nasionalisasi, rekapitalisasi, redistribusi, restrukturisasi, dan reindustrialisasi sebagai fondasi kebangkitan ekonomi nasional.
Ketiga, menegaskan kembali peran negara sebagai pengendali strategis atas sumber daya alam, cabang produksi penting, dan pasar nasional agar seluruhnya dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Keempat, menjadikan arsitektur ekonomi nasional sebagai bagian utama dari perjuangan kebangsaan dengan menempatkan kedaulatan ekonomi, penghapusan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan, dan penguasaan pasar nasional sebagai agenda strategis negara.
Baca juga : Kepala KSP Jenderal Dudung Akan Hadiri Peluncuran Buku dan Simposium Nasional
Kelima, mendukung penuh upaya pemerintah dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme, menghapus praktik rente, monopoli, kartel, serta berbagai bentuk rent-seeking yang menggerogoti daya saing nasional, sekaligus membangun tata kelola ekonomi yang bersih, transparan, berkeadilan, dan berpihak pada kepentingan nasional.
Deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila ini juga menjadi ajakan untuk membaca kembali arah perjalanan Indonesia. Di tengah ketidakpastian global, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi; Indonesia membutuhkan fondasi kelembagaan yang mampu menyatukan industrialisasi, inovasi, pemerataan, dan keadilan sosial dalam satu kerangka pembangunan nasional.
Peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan menjadi simbol bahwa gagasan memiliki daya hidup yang melampaui zamannya. Pemikiran besar tidak berhenti sebagai arsip sejarah, melainkan menjadi energi yang menggerakkan perubahan. Dari ruang-ruang diskusi, gagasan menjelma menjadi kebijakan; dari kebijakan lahir institusi; dan dari institusi yang kuat tumbuh peradaban yang berdaulat.
Dengan semangat itulah, Nusantara Centre mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Undang-Undang Perekonomian Nasional bukan sekadar produk legislasi, melainkan kontrak sosial baru yang menghubungkan amanat Proklamasi, nilai-nilai Pancasila, dan visi Indonesia Emas 2045. Karenanya kemerdekaan politik hanya menemukan maknanya ketika disempurnakan oleh kemerdekaan ekonomi. Ekonomi yang berdiri di atas kedaulatan, keadilan, dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Forum Literasi
Pegiat Forum Literasi
Pegiat Forum Literasi
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya