Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kabar Haji Isam Pimpin Operasi Karhutla Dibantah Mensesneg: Tidak Benar Itu!
- Selain Upah Pungut, KPK Juga Usut Dugaan Korupsi Proyek di Kabupaten Bogor
- Cegah Karhutla Meluas, 8 Desa Di Cengal Perkuat Sinergi
- Prabowo Dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Rizky Irmansyah
- KPK: OTT Rektor Unsoed Jadi Momentum Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
Sepeda Solusi Nyata NZE: Perbaikan Kualitas Udara Dan Dekarbonisasi
Jumat, 21 Agustus 2026 18:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kualitas udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya kembali menjadi perhatian. Konsentrasi polutan partikulat halus atau PM2.5 dilaporkan berada pada level yang mengkhawatirkan dan disebut melampaui ambang batas aman yang digunakan sebagai acuan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun standar nasional.
Kondisi tersebut mendorong Bike to Work (B2W) Indonesia, dengan dukungan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) dan Koalisi Pejalan Kaki, kembali menyerukan penggunaan sepeda sebagai bagian dari solusi transportasi perkotaan.
B2W Indonesia bersama KPBB dan Koalisi Pejalan Kaki menilai sektor transportasi darat yang masih bergantung pada bahan bakar fosil menjadi salah satu sumber penting pencemaran udara di Jakarta.
“Polusi udara di Jakarta adalah krisis kesehatan masyarakat yang nyata. Naik sepeda bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bentuk aksi penyelamatan iklim dan pengendalian polusi udara paling efektif dan dapat dilakukan oleh setiap warga kota hari ini juga,” tegas Sanny Tanuwijaya, perwakilan Bike to Work Indonesia.
Menurut B2W Indonesia, penggunaan sepeda untuk mobilitas harian pada jarak yang terukur, terutama perjalanan first-mile dan last-mile, dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor berbahan bakar fosil.
Baca juga : Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
“B2W Indonesia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai memprioritaskan sepeda dalam aktivitas harian dan bersama-sama merebut kembali hak atas udara bersih di langit Jakarta”, tegas Hendro Subroto, Ketua Umum B2W Indonesia.
Penggunaan sepeda tidak menghasilkan emisi gas buang dari pembakaran bahan bakar kendaraan. Karena itu, peralihan sebagian perjalanan menggunakan sepeda dinilai dapat menjadi langkah langsung dalam upaya dekarbonisasi sekaligus pengendalian sejumlah parameter pencemaran udara, seperti HC, CO, NOx, SOx, PM10, dan PM2.5.
Selain mengurangi emisi, penggunaan sepeda juga dinilai memiliki manfaat dari sisi efisiensi ruang dan lalu lintas. Sepeda membutuhkan ruang yang lebih kecil dibandingkan kendaraan bermotor sehingga berpotensi membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
B2W Indonesia, KPBB, dan Koalisi Pejalan Kaki juga menyoroti persoalan emisi yang muncul ketika kendaraan bermotor terjebak kemacetan dan mesin tetap menyala dalam kondisi berhenti atau idling.
Kondisi tersebut dinilai membuat penggunaan bahan bakar menjadi tidak efisien. Penggunaan sepeda juga dinilai tidak harus berdiri sendiri.
Baca juga : Kendaraan Bermotor Dominasi Jalur Sepeda Sudirman
B2W Indonesia dan kelompok pendukungnya mendorong integrasi sepeda dengan transportasi publik seperti MRT, LRT, dan TransJakarta. Integrasi tersebut diharapkan dapat membentuk sistem mobilitas perkotaan yang lebih ramah lingkungan. Sepeda dapat digunakan untuk menjangkau titik transportasi publik, kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan umum massal.
Untuk mendukung target net zero emission 2060 atau lebih cepat, B2W Indonesia bersama KPBB dan Koalisi Pejalan Kaki mendorong pemerintah serta pemangku kepentingan memperkuat infrastruktur dan kebijakan yang mendukung mobilitas rendah emisi.
Kedua, fasilitas pendukung bagi pesepeda juga dinilai perlu diperbanyak. Fasilitas tersebut mencakup parkir sepeda yang aman serta ruang bilas di gedung perkantoran, stasiun, halte angkutan umum, dan pusat perbelanjaan.
Sementara itu, aktivis Koalisi Pejalan Kaki (KoPEKA) sekaligus Indonesia Council for CMC SEA (Clean Mobility Coalition South East Asia), Amalia S Bendang, menilai persoalan transportasi perkotaan bukan semata-mata mengenai menghilangkan kendaraan bermotor pribadi, melainkan menyediakan pilihan mobilitas yang lebih beragam dan berkeadilan.
Amalia menilai warga perlu memiliki pilihan transportasi yang proporsional, dengan berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum massal menjadi bagian penting dari sistem mobilitas perkotaan.
Baca juga : Percantik Jalur Sepeda
"Untuk itu, moda transportasi kota utk perjalanan warga harus proporsional dengan mengutamakan moda berjalan kaki, bersepeda dan angkutan umum masal, sehingga warga punya pilihan dalam bermobilitas yang manusiawi dan berkeadilan," katanya.
Advocacy Program Manager KPBB Alfred Sitorus menambahkan bahwa pengembangan transportasi umum perlu berjalan beriringan dengan penyediaan infrastruktur yang aman bagi pesepeda dan pejalan kaki.
"Kota harus menyediakan transportasi umum masal yang aman, nyaman dan terjadwal dan dilengkapi lajur sepeda serta fasilitas pejalan kaki yang aman," penegasan Alfred Sitorus, Advocacy Program Manager KPBB.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya