Dark/Light Mode

Daryono: Suara Gemuruh di Flores Bukan Pertanda Gempa Besar

Minggu, 30 Agustus 2026 13:49 WIB
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono (Foto: BMKG)
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono (Foto: BMKG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyampaikan penjelasan soal munculnya suara gemuruh pasca gempa M7,7 Flores yang sempat memicu kekhawatiran warga. Suara gemuruh itu berasal dari bawah permukaan di pesisir utara Flores.

"Gemuruh di zona gempa pada dasarnya adalah suara berfrekuensi rendah yang dapat terdengar atau terasa seperti dentuman, deru, atau suara benda berat bergemuruh," kata Daryono via X, Sabtu (29/8/2026).

Dalam seismologi, fenomena ini dapat berkaitan dengan gelombang seismik yang merambat melalui batuan dan kemudian menimbulkan getaran pada permukaan tanah, bangunan, atau benda-benda di sekitar. Sebagian energi getaran tersebut dapat dikonversikan menjadi gelombang akustik di udara, sehingga manusia mendengarnya sebagai suara gemuruh.

"Fenomena ini sering muncul menjelang, saat, atau sesudah gempa, tetapi tidak berarti gemuruh merupakan pertanda pasti akan terjadi gempa besar. Mohon Saudara-saudaraku, khususnya yang tinggal di pesisir utara Flores, jangan cemas dan takut," terang Daryono via X, Sabtu (29/8/2026).

Baca juga : Pertamina Pulihkan Energi Flores Pascagempa, 56 SPBU Kembali Beroperasi

Daryono yang juga mantan Direktur Gempa bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan, pada saat patahan batuan mengalami ruptur/rekah, energi dilepaskan dalam bentuk gelombang P, S, dan gelombang permukaan. Gelombang P datang lebih dahulu dan bersifat kompresional/menekan.

'Karena kecepatannya tinggi, gelombang ini kadang dapat menghasilkan getaran kecil atau suara seperti gemuruh sebelum guncangan utama yang lebih kuat dirasakan," ujarnya.

Namun, pada banyak kejadian, suara gemuruh justru muncul bersamaan dengan guncangan karena sumber suaranya berasal dari interaksi gelombang seismik dengan permukaan dan lingkungan sekitar. Secara fisika, gelombang seismik dan gelombang suara di udara berbeda, tetapi keduanya dapat saling berinteraksi.

Getaran tanah dapat membuat bangunan, atap, jendela, pepohonan, atau permukaan tanah bergetar dan menghasilkan suara. Gempa dangkal juga cenderung lebih mudah menghasilkan efek akustik yang kuat karena sumber energinya relatif dekat dengan permukaan.

Baca juga : BNPB Catat 175.909 Warga Masih Mengungsi Akibat Gempa NTT

Karena itu, masyarakat di sekitar episenter gempa dangkal kadang melaporkan suara seperti "blumm", "duumm", "kereta lewat" atau "guntur yang panjang".

Daryono menuturkan, selain berasal langsung dari sumber gempa, suara gemuruh dapat diperkuat oleh kondisi geologi setempat. Lapisan sedimen lunak, batuan gamping, lahan karst yg berongga dapat memperkuat amplitudo gelombang seismik melalui efek tapak (site amplification).

Topografi, lembah, dan struktur bangunan juga dapat mempengaruhi bagaimana getaran tersebut diterima dan kemudian terdengar.

Dalam kondisi tertentu, kata Daryono, frekuensi rendah bahkan dapat terasa sebagai getaran atau tekanan sebelum telinga manusia mampu mengenalinya sebagai suara.

Baca juga : Uniqlo Salurkan Bantuan Rp 750 Juta Untuk Korban Bencana Flores & Lombok

"Yang penting secara seismologi, gemuruh bukanlah indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi gempa. Secara ilmiah, mendengar gemuruh tidak berarti pertanda gempa besar akan terjadi," urainya.

Daryono menuturkan, gemuruh harus dipandang sebagai salah satu manifestasi fisik dari aktivitas seismik atau respons lingkungan terhadap gelombang gempa. Menurutnya, untuk menentukan apakah benar berkaitan dengan gempa, perlu dikonfirmasi dengan rekaman seismograf, waktu kejadian, lokasi sumber, kedalaman, magnitudo, serta karakteristik frekuensi sinyalnya.

"Masyarakat Flores jangan khawatir, cemas dan takut. Gempa susulan sudah meluruh, dan akan kembali stabil aman kembali," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.