Dark/Light Mode

Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (3): AGH Baharuddin HS, Ulama Kaligrafer

Minggu, 30 Agustus 2026 21:38 WIB
AG. Dr. KH Baharuddin HS, MA. Foto: RM.id
AG. Dr. KH Baharuddin HS, MA. Foto: RM.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang kembali menegaskan bahwa jamiyah ini adalah rumah besar bagi ulama dari seluruh penjuru Nusantara. Setelah representasi kiai dari Jawa Timur dan Aceh menempati urutan pertama dan kedua, perolehan suara terbanyak ketiga untuk anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) mantap diraih oleh tokoh karismatik dari Indonesia Timur, tepatnya Sulawesi Selatan. 

Mengantongi 392 suara atau setara 8,3 persen dari panel tabulasi muktamar, AG. Dr. KH Baharuddin HS, MA., secara meyakinkan melenggang ke dalam majelis kiai sepuh yang akan menjadi penentu nakhoda baru PBNU.

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (2): Waled NU, Pengayom Yatim Dan Santri Aceh

Keterpilihan Syekh Baharuddin—begitu ia akrab disapa di Makassar—bukanlah sebuah kejutan bagi nahdliyin. Ulama ini memiliki rekam jejak panjang di pucuk pimpinan struktural, mulai dari posisinya sebagai Mustasyar PBNU masa khidmah 2021-2026, hingga dipercaya memimpin sebagai Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan untuk periode 2024-2029 setelah turun dari kursi Rais Syuriyah PCNU Makassar. 

Akar keilmuannya menancap kuat dari didikan keluarga. Di masa kecilnya, ulama asal desa Cakkeware, Kabupaten Bone ini, ditempa dengan mengaji langsung kepada sang ayah, AGH Abduh Shafa, seorang kiai berprinsip baja yang sangat disegani masyarakat setempat.

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (1): KH Nurul Huda Djazuli, Sang Pengampu Ngaji

Tradisi intelektual tersebut terus ia asah dari bilik ke bilik pesatren melalui bimbingan ulama-ulama besar seperti AGH Ilyas Salewe dan AGH Abunawas Bintang. Dahaga keilmuannya juga diperkuat lewat forum kajian bersama dua saudaranya yang juga tokoh agama terkemuka, yakni AGH Muh. Harisah AS dan Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. KH Najamuddin HS. Namun, ada satu nilai tambah yang membuat sosok Syekh Baharuddin begitu istimewa. 

Di luar kepakarannya membedah literatur syariat, ia diakui secara luas sebagai seniman sekaligus ahli kaligrafi Arab. Tangan dinginnya tidak hanya menelurkan karya-karya kaligrafi yang elok dipandang, tetapi juga membukukan literatur penting terkait kaidah seni huruf Hijaiyah tersebut.

Baca juga : Besok Pagi, Presiden Prabowo Dijadwalkan Tutup Muktamar Ke-35 NU

Di tengah padatnya jadwal keorganisasian, termasuk perannya sebagai Ketua Umum MUI Kota Makassar yang dijabatnya sejak 2015 serta pengalamannya menakhodai Direktur IMMIM Tamalanrea (2003-2007), denyut nadi Syekh Baharuddin tetaplah berada di arena pendidikan. 

Ia tidak pernah absen mengasuh pengajian kitab kuning, seperti rutinitas majelis takhassus di kediamannya setiap Jumat pagi. Kapasitasnya sebagai Syaikhul Ma’had di Pesantren An-Nahdlah juga terus diabdikan untuk membimbing para santri menyelami kedalaman kitab tasawuf klasik seperti Khasinatul Asrar dan Al-Hikam, menjadikannya oase spiritual yang menyejukkan di pusaran modernitas metropolis Makassar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.