Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Manchester Siap Jadi Tuan Rumah KTT G20 2027
- Laga Indonesia Vs Malaysia, Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas & Kantung Parkir
- Siapkan 2.373 Personel, Polri Pastikan Keamanan & Kelancaran FIFA ASEAN 2026
- Tiket Kapal PELNI Kini Bisa Dipesan H-60 Sebelum Berangkat
- PSS Sleman Terpuruk, Pieter Huistra Manfaatkan Jeda FIFA Matchday
Kuasai 41 Persen Nikel Olahan Dunia, Ekonom Apresiasi Hilirisasi Bahlil
Senin, 28 September 2026 17:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah ekonom mengapresiasi kebijakan hilirisasi yang dijalankan Pemerintah di bawah komando Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan konsistensi Pemerintah menjalankan kebijakan hilirisasi telah mengubah posisi Indonesia dalam industri nikel global.
Menurut Yusuf, peningkatan pangsa pasar nikel olahan Indonesia menunjukkan kebijakan larangan ekspor bijih berhasil menarik investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
"Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," kata Yusuf dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Indonesia diketahui telah menggeser China sebagai produsen nikel olahan terbesar dunia setelah mencatat pertumbuhan pesat dalam satu dekade terakhir.
Pangsa produksi nikel olahan Indonesia melonjak drastis, dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen dari total produksi dunia. Besarnya pangsa produksi tersebut sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global.
Baca juga : BBM Subsidi Untuk Rakyat Kecil, Orang Kaya Tolong Pakai Hati
Karena itu, Yusuf menilai langkah Bahlil menata produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Menurutnya, pengendalian produksi dapat membantu menjaga harga nikel sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.
Namun, penetapan kuota tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan agar aktivitas smelter di dalam negeri berjalan optimal.
"Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku," ujarnya.
Yusuf menilai manfaat hilirisasi sejauh ini telah terlihat dari peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, serta penciptaan lapangan kerja di kawasan industri. Ke depan, manfaat tersebut dapat diperkuat melalui pengendalian produksi yang tepat, insentif fiskal yang terarah, serta peningkatan standar lingkungan dan ketenagakerjaan.
Yusuf menambahkan, pangsa produksi sekitar 41 persen menjadi modal besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam industri nikel global.
"Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," katanya.
Baca juga : Wadirut MIND ID Dorong Lampung Perkuat Hilirisasi Komoditas Pertanian
Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai kebijakan hilirisasi telah menghasilkan transformasi struktural terhadap industri nikel nasional.
Mengacu pada data Our World in Data berbasis British Geological Survey, Ronny menyebut produksi nikel olahan Indonesia melonjak lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.
"Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural," ujar Ronny.
Ronny juga menyoroti besarnya dampak ekonomi dari kebijakan tersebut. Pada semester I 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Sementara sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp 584,1 triliun.
"Masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional," jelasnya.
Ke depan, menurut Ronny, manfaat hilirisasi dapat diperbesar melalui transfer teknologi, peningkatan keterlibatan pemasok domestik, penguatan kualitas tenaga kerja, serta peningkatan penerimaan negara.
Baca juga : Dies Natalis ke-61 Unila, Dua Orasi Soroti Hilirisasi Dan Dampak Riset
Ronny menilai posisi sebagai produsen nikel terbesar memberikan fondasi bagi pemerintah untuk membawa hilirisasi menuju tahap deep industrialization.
Pengembangan teknologi high pressure acid leach (HPAL), nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling, hingga industri baterai dinilai penting agar Indonesia tidak hanya dominan dari sisi produksi, tetapi juga semakin kuat dalam penguasaan teknologi dan penciptaan nilai tambah.
"Gelar 'raja nikel' baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting, apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi dan kekuatan industri dari nikelnya," pungkas Ronny.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya