Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pesan Presiden Ke Kepala Bakom Baru: Dengarkan Keluhan Dan Kritik Masyarakat
Selasa, 6 Oktober 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sebelum menjalankan tugasnya, Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Syahganda Nainggolan dapat pesan khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Tak cuma harus menjelaskan program pemerintah, Bakom diminta rajin mendengar keluhan dan kritik masyarakat, lalu menyampaikannya kepada Presiden.
Pesan itu disampaikan Presiden saat memanggil Kepala Bakom yang baru, Syahganda Nainggolan dan Wakilnya, Fadli Tri Hartono, Minggu (4/10/2026). Keduanya diminta menghadap ke kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Dalam foto yang diunggah akun resmi Instagram Sekretariat Kabinet, Presiden Prabowo didampingi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat bertemu Syahganda dan Fadli di sebuah ruangan.
Teddy mengungkapkan, Prabowo berdiskusi tentang penguatan peran Bakom dalam menyampaikan program, hasil, dan manfaatnya kepada masyarakat. Kata Teddy, saat bertemu Syahganda dan Fadli, Prabowo menekankan, komunikasi Pemerintah wajib mudah diterima dengan bahasa yang sederhana.
“Presiden meminta Bakom membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat,” kata Teddy dalam siaran persnya dikutip Senin (5/10/2026).
Baca juga : Sumber Impor Hilang 25 Persen, Tapi Stok BBM Aman Sampai 20 Hari
Presiden Prabowo, sambung Teddy, tidak ingin Bakom hanya menyampaikan apa yang dikerjakan Pemerintah saja, tapi harus mampu menjelaskan arah dan pemikiran di balik setiap kebijakan.
“Juga agar mendengarkan masukan, keluhan, dan kritik masyarakat untuk kemudian diteruskan kepada kementerian dan lembaga terkait, termasuk kepada Presiden,” tutur Teddy.
Teddy berharap, Bakom di bawah Syahganda dapat memperkuat komunikasi Pemerintah yang lebih terbuka, dialogis, dan berkesinambungan antara Pemerintah, media, dan masyarakat. Agar, setiap kebijakan dan pemikiran Presiden dapat dipahami secara utuh.
“Sekaligus memastikan suara dan aspirasi masyarakat dapat didengar oleh Pemerintah,” tekan Teddy kembali.
Sebelumnya, usai dilantik, Syahganda bilang, Presiden meminta Bakom menjadi instrumen untuk memperkuat persatuan nasional. “Bagaimana caranya komunikasi ini menjadi alat persatuan nasional,” kata Syahganda di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Baca juga : Perdana Ke Rusia, Nelayan Ternate Bengong & Kaget
Diakuinya, tantangan komunikasi kepada publik adalah menjelaskan gagasan dan pemikiran yang menjadi dasar kebijakan Presiden. “Pikiran-pikiran beliau adalah pikiran-pikiran konstitusional. Dan itu penting sampai rakyat tahu semua,” sambungnya.
Selain itu, Bakom akan memberi perhatian terhadap perkembangan algoritma dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut Syahganda, perkembangan teknologi menjadi tantangan baru dalam komunikasi. Sebab, kebijakan pemerintah seringkali terdistorsi teknologi AI.
“Dengan kehadiran saya dan Pak Fadli Tri Hartono, kita akan mengombinasikan dengan teknologi yang berkembang sekarang ini,” yakinnya.
Sementara itu, Pendiri GREAT Institute Abdullah Rasyid menilai, panggilan khusus Presiden Prabowo kepada pimpinan Bakom yang baru memberi arah penting. Menurutnya, Presiden meminta komunikasi Pemerintah memakai bahasa sederhana, menjelaskan pemikiran di balik kebijakan, serta mendengarkan masukan, keluhan, dan kritik masyarakat.
Arahan tersebut patut menjadi pegangan kerja Bakom. Sebab, selama ini, Pemerintah telah bekerja keras, namun masyarakat belum tentu memahami arah kerjanya.
Baca juga : Kasus Iklan BJB, KPK Telusuri Pembelian Mobil Volvo Mantan Gubernur Jabar
Kebijakan diumumkan, anggaran disiapkan, program dijalankan. Namun, pertanyaan sederhana sering tertinggal, mengapa kebijakan itu diperlukan, siapa yang memperoleh manfaat, dan kapan hasilnya bisa dirasakan?
“Ketika jawaban terlambat datang, dugaan dan kecemasan lebih dahulu mengisi percakapan publik,” kata Abdullah Rasyid, dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, publik membutuhkan penjelasan agar memahami keputusan Pemerintah. Presiden juga membutuhkan gambaran jujur tentang keadaan warga. Bakom, kata dia, berada di antara dua kebutuhan itu. Membawa kebijakan kepada masyarakat dan membawa pengalaman masyarakat ke meja pengambil keputusan.
Karena itu, kandidat doktor ilmu pemerintahan IPDN ini menilai, dipilihnya Syahganda menjadi Bos Bakom membuka kesempatan membenahi komunikasi Pemerintah. Pengalamannya dalam aktivisme dan perdebatan publik dapat membantu menjangkau beragam kelompok masyarakat.
Abdullah menjelaskan, pembenahan perlu dimulai sejak kebijakan dirumuskan. Sebab, jika penjelasan baru disiapkan setelah masalah meledak, pejabat akan terus mengejar kegaduhan, sementara warga menunggu kepastian. Di sinilah, menurutnya, orkestrasi diperlukan. Bakom perlu memastikan siapa menjelaskan apa, dari mana datanya berasal, serta siapa yang menjawab ketika muncul persoalan. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya