Dark/Light Mode

Kisah Seru Dari Negeri Beruang Merah (1)

Perdana Ke Rusia, Nelayan Ternate Bengong & Kaget

Selasa, 6 Oktober 2026 07:40 WIB
Jurnalis Rakyat Merdeka Anggowo Adi (kiri) bersama dua nelayan dari Ternate, jurnalis BeritaSatu dan penerjemah, Karen (tengah). (Foto: Anggowo Adi/RM.id)
Jurnalis Rakyat Merdeka Anggowo Adi (kiri) bersama dua nelayan dari Ternate, jurnalis BeritaSatu dan penerjemah, Karen (tengah). (Foto: Anggowo Adi/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka Anggowo Adi berkesempatan mengikuti IV International Fishing Tournament yang digelar Rosatom State Atomic Energy Corporation di Rusia. Bersama dua nelayan asal Ternate, Maluku Utara, perjalanan sepekan itu diwarnai cerita lucu, kejutan budaya, hingga pengalaman pertama menginjakkan kaki di Negeri Beruang Merah. Berikut laporannya.

Ini adalah perjalanan pertama saya ke Rusia. Negeri Beruang Merah, yang selama ini hanya saya kenal lewat berita, film, dan cerita orang. Begitu penugasan datang, tanpa berpikir panjang, langsung saya sambut. Excited, tentu saja. Berbagai persiapan pun dilakukan. Mulai dari administrasi, visa, hingga urusan tiket yang dikirim super dadakan.

Peserta dari Indonesia tak hanya Rakyat Merdeka. Ada juga jurnalis BeritaSatu, Iqbal Suwitamihardja, serta dua pemancing asal Ternate, Maluku Utara. Mereka adalah Nurdjan Soleman (67) dan Nasrun Masraoly (48).

Jumat, 25 September 2026, kami meninggalkan Tanah Air. Lucunya, kami baru benar-benar berkenalan setelah berada di dalam pesawat Maskapai Etihad. Saya langsung tertawa ketika melihat Nasrun yang bertubuh besar kesulitan memundurkan kursi pesawat. Tak mau menyerah, ia kemudian bertanya kepada penumpang bule yang duduk di sebelah kirinya.

Dengan logat khas Timur yang kental, Nasrun kemudian menyapa saya. “Wah, kamu wartawan? Salam kenal ya. Kami jauh dari Ternate ini,” katanya sambil membetulkan kupluk khas nelayan yang dikenakannya.

Dari situ perjalanan pun dimulai. Dari Laut Ternate, Jakarta, ke Danau Rusia.

Tujuan utama kami melakukan perjalanan ini adalah mengikuti IV International Fishing Tournament (Turnamen Memancing Internasional Ke IV) yang digelar Rosatom State Atomic Energy Corporation, perusahaan negara Rusia.

Turnamen tersebut berlangsung pada 28-29 September 2026 di Distrik Udomlya, Wilayah Tver, Rusia. Sebanyak 22 pemancing serta 28 jurnalis dan perwakilan komunitas ahli dari 11 negara mitra Rosatom, ikut ambil bagian. Mereka berasal dari negara-negara yang telah menjalankan atau merencanakan proyek energi nuklir.

Antara lain Bangladesh, Belarus, Hongaria, Vietnam, Mesir, India, Malaysia, Turki, Uzbekistan, dan Afrika Selatan.

Bukan Cuma Memancing

Bagi saya, turnamen ini bukan sekadar urusan memancing. Ada perjalanan, ada perkenalan budaya, dan tentu saja ada kesempatan melihat Rusia dari dekat.

Kami tak hanya memancing di Danau Kalinin NPP, yang menjadi bagian penting dari kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kalinin. Kami juga diajak mengunjungi ibu kota Moskow. Termasuk Red Square dan Museum Atom.

Sementara di Kota Udomlya, kami berkenalan dengan suasana kota kecil Rusia yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk Moskow. Termasuk melihat salah satu ikon musik tradisional Rusia, balalaika, gitar berbentuk segitiga yang khas itu.

Baca juga : Kasus Iklan BJB, KPK Telusuri Pembelian Mobil Volvo Mantan Gubernur Jabar

Bagi Nurdjan dan Nasrun, perjalanan ini bahkan terasa lebih istimewa. Maklum, keduanya bukan pelancong internasional. Bahasa Inggris saja nyaris tak bisa. Urusan paspor dan visa pun sebelumnya masih asing buat keduanya. Mereka juga agak gaptek soal ponsel. Soal mata uang Rusia? Bikin keduanya garuk-garuk kepala.

Tapi soal semangat dan keberanian, jangan ditanya. Mereka nekat berangkat jauh-jauh dari Ternate demi satu pengalaman: melihat Rusia dengan mata kepala sendiri.

“Awalnya saya mendapat informasi lomba dari bos tambang kami. Kebetulan saya juga sering melaut,” ungkap Nurdjan.

Mantan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memahami bidang kelistrikan itu punya alasan lain untuk antusias.

Kunjungan ke PLTN Kalinin menjadi pengalaman tersendiri baginya.

“Ini pengalaman pertama kali kami ke Rusia. Kami biasanya hanya memancing di laut. Tapi kali ini di danau. Hebatnya lagi, danau ini menjadi sumber air utama PLTN,” katanya.

Bagi seorang nelayan, berpindah dari laut ke danau saja sudah menjadi pengalaman baru. Apalagi danaunya berada di kawasan pembangkit nuklir.

Nasrun punya cerita yang tak kalah seru dan menarik. Ia lahir dari keluarga nelayan. Profesi itu diwariskan turun-temurun. Dari nenek moyang, buyut, kakek, hingga orang tuanya.

Kini, ia menjadi pemilik kapal ikan. Sehari-hari laut adalah dunianya. Namun kali ini, laut membawanya lebih jauh dari biasanya. Bukan sekadar berpindah pulau. Bukan pula sekadar menyeberang provinsi. Nasrun terbang ribuan kilometer hingga Rusia.

“Saya sangat bangga. Dari sekian banyak manusia yang ada di Indonesia, saya bisa mewakilinya,” tuturnya.

24 Jam Menuju Moskow

Perjalanan dari Jakarta ke Moskow ternyata tidak sebentar. Total sekitar 24 jam kami habiskan di perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, termasuk transit selama sembilan jam di Bandara Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Setelah perjalanan panjang itu, akhirnya kami mendarat di Bandara Internasional Sheremetyevo, Moskow. Bandaranya futuristik. Proses imigrasinya pun sangat ketat. Di sana, kami bertemu dengan delegasi dari berbagai negara serta staf Rosatom.

Baca juga : Gelar Perpisahan Atase Pers Bersama Media

Dari Bandara Sheremetyevo, kami menuju pusat Kota Moskow. Tujuan berikutnya adalah Artcourt Moscow Center, hotel bintang empat di Voznesensky Lane 7. Lokasinya strategis. Tak jauh dari sejumlah ikon Kota Moskow seperti Lapangan Merah, Kremlin, Teater Bolshoi, dan Moscow Conservatory.

Malam itu, di tengah udara dingin Moskow yang menusuk tulang, kami lebih banyak bengong. Maklum, yang kami lihat semuanya serba baru. Kami duduk di dalam bus Yutong, bus buatan China yang mengantar rombongan menuju hotel.

Dari balik kaca, pemandangan perlahan berubah. Bandara modern berganti gedung-gedung tua. Bangunan dengan arsitektur khas Rusia bermunculan. Lampu kota mulai menyala. Dan satu hal lagi yang terasa sangat familiar. Macet. Ya, lalu lintas Moskow malam itu mengingatkan kami pada Jakarta.

Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan, rombongan berhenti di sebuah pertigaan. Suasana malam langsung terasa. Di deretan kafe, anak-anak muda Rusia yang tampil fashionable dengan mantel tebal, tampak masih ramai bercengkerama.

Nasrun langsung melambaikan tangan. “Halo. Wah sudah malam masih ramai saja ya,” celetuknya.

Nurdjan tak mau kalah. “Bagus ini dunia malamnya,” sahutnya. Kami pun tertawa.

Sekitar 300 meter dari tempat kami berhenti, tampak Artcourt Moscow Center. Hotel tersebut sebelumnya dikenal sebagai Courtyard by Marriott Moscow City Center.

Bukan kemewahan hotel yang paling membuat kami terkesan. Tapi lokasinya yang sangat strategis di pusat kota.

Sambil memanggul ransel dan menarik koper, kami hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit berjalan kaki dari Bolshaya Nikitskaya menuju hotel. Sementara ke Red Square dan Patriarch Ponds, cukup berjalan sekitar 15 menit ke arah berlawanan.

Kesulitan Internet

Setelah tiba di hotel, kami menemukan persoalan baru: internet. “Lho, kok internetnya susah?” keluh kami berempat.

Bagi rombongan yang terbiasa hidup dengan internet, persoalan jaringan terasa seperti kembali ke zaman lain. Jaringan seluler di Rusia ternyata tidak semudah yang kami bayangkan.

Bukan hanya bagi warga asing. Ternyata warga lokal pun menghadapi pembatasan akses internet tertentu. Kami harus melakukan registrasi manual melalui operator lokal. Untuk mengakses sejumlah layanan, Virtual Private Network (VPN) menjadi andalan.

Baca juga : Golkar: Mengkritik Tak Harus Selalu Di Luar Pemerintahan

Wi-Fi hotel pun tak selalu bisa diandalkan. WhatsApp masih bisa digunakan untuk mengirim teks, tetapi ketika harus mengunggah foto atau video, lemot banget. Yang bikin nyesek, roaming internet seharga sekitar Rp 300-400 ribu yang sudah kami aktifkan sejak Indonesia, praktis tak banyak membantu.

Kejutan berikutnya datang saat kami mulai berinteraksi dengan warga Rusia. Ternyata banyak yang tidak mengerti atau tidak bisa berbahasa Inggris. Sebagian dari mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Rusia maupun bahasa dari berbagai latar etnis di wilayah bekas Uni Soviet.

Di meja resepsionis hotel, kami mendapat ucapan selamat datang. “Dobro pozhalovat v Rossiyu!” Kami saling pandang, karena tak mengerti apa maksudnya.

Untungnya, tak lama kemudian muncul seorang pria yang menjadi “juru selamat” bagi rombongan Indonesia. Namanya Karen. Ia adalah penerjemah lepas yang bekerja bersama Rosatom.

“Hai, nama saya Karen. Saya berasal dari Moskow. Keluarga saya berasal dari Armenia, sebuah negara kecil di dekat Turki dan Rusia. Jadi saya tumbuh dengan dua identitas budaya yang cukup kuat, sebagai orang yang lahir dan besar di Rusia, tapi juga memiliki akar Armenia,” ujar Karen memperkenalkan diri.

Usianya baru 21 tahun. Yang membuat kami makin terkejut, Karen cukup fasih berbahasa Indonesia. Ternyata ia pernah belajar di Universitas Negeri Moskow, tepatnya di Institut Negara-Negara Asia dan Afrika. Di sana, ia mempelajari bahasa Indonesia sekaligus sejarahnya.

“Sebelumnya, saya belajar di Universitas Negeri Moskow, Institut Negeri Negara Asia dan Afrika, dan saya mempelajari bahasa Indonesia dan sejarahnya. Jadi hubungan saya dengan Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa kuliah,” terang Karen.

Bukan cuma bahasa Indonesia yang ia pelajari. Karen juga mengenal sastra Indonesia. Bahkan ia menyukai karya Pramoedya Ananta Toer, termasuk Bumi Manusia.

Malam pertama di Moskow pun ditutup dengan satu kesimpulan sederhana. Perjalanan ini baru dimulai. Kami datang dari Ternate dan Jakarta dengan bekal cerita tentang Rusia. Tapi setelah menginjakkan kaki di Moskow, justru Rusia yang mulai memberi kami cerita. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.