Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Arema FC Dibantai Persija, Walisson Maia Minta Maaf kepada Aremania
- Inter Milan Tekuk Shakhtar Donetsk, Carlos Augusto Jadi Penentu
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Banyak Diserang Secara Politik, Gibran Tetap 4 Besar Survei Capres
Rabu, 21 Oktober 2026 16:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka tetap bertahan di jajaran empat besar survei elektabilitas calon presiden (capres), meski terus diterpa kritik dan polemik politik sejak Pilpres 2024. Tingginya popularitas itu dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat nama Gibran masih diperhitungkan dalam peta persaingan politik nasional.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai, posisi Gibran dalam sejumlah survei tidak terlepas dari tingkat pengenalan publik terhadap dirinya yang telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia.
Dalam sejumlah survei, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan. Namun, dia masih mengungguli sejumlah figur nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
"Kita tahu popularitas Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, di atas 90 persen. Dibandingkan dengan yang lain masih 70-80 persen," kata Adi dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Baca juga : 2 Tahun Prabowo-Gibran: Politik Keamanan Terkendali, Ekonomi Penuh Tantangan
Menurut Adi, tingkat pengenalan publik menjadi salah satu faktor penting dalam mengukur elektabilitas. Terutama ketika responden diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan.
Tokoh yang sudah dikenal luas cenderung lebih mudah muncul dalam jawaban responden dibandingkan figur politik lain yang tingkat popularitasnya belum merata. Faktor tersebut turut menjelaskan mengapa nama Gibran masih bertahan di jajaran teratas survei, meskipun kritik terhadap dirinya terus bermunculan.
Adi mengakui, serangan politik terhadap Gibran memang terlihat cukup menonjol dibandingkan sejumlah figur lainnya. Namun, dia menilai fenomena tersebut bukan hal baru karena telah terjadi sejak proses pencalonan pada Pilpres 2024.
"Ya, kalau serangan memang kelihatan fokus ke Gibran itu bukan perkara aneh. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi," ungkapnya.
Baca juga : BIMA: Arah Pembangunan Prabowo-Gibran On The Track, Berpihak Kepada Rakyat
Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa popularitas yang tinggi tidak serta-merta berbanding lurus dengan elektabilitas. Menurutnya, tingkat pengenalan Gibran yang telah melampaui 90 persen belum sepenuhnya berhasil dikonversi menjadi dukungan politik.
"Jadi wajar kalau kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi, lima besar, ya artinya apa? Bahwa yang tahu terhadap Wapres itu ya ternyata tidak dominan yang milih, kira-kira begitu," jelas Adi.
Ia menilai, berbagai isu dan sentimen politik yang berkembang di masyarakat, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), berpotensi memengaruhi preferensi pemilih terhadap Gibran.
Berdasarkan hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada Minggu (18/10/2026), Gibran menempati urutan keempat dengan elektabilitas 6,9 persen dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.
Baca juga : Ada Penumpang Gelap di Kasus Ijazah Gibran
Posisi serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu (17/10/2026).
Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas 8,4 persen dan berada di urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei SMRC tersebut dilakukan pada 1-10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden.
Hasil kedua survei itu menunjukkan bahwa Gibran masih menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam bursa capres. Namun, tingginya tingkat pengenalan publik masih menjadi modal yang perlu diikuti dengan kemampuan mengubah popularitas menjadi dukungan elektoral yang lebih besar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya