Dark/Light Mode

Survei KedaiKOPI: 81,5 Persen Pemuda Bangga Jadi WNI

Jumat, 30 Oktober 2026 21:45 WIB
Foto: Ist
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebanyak 81,5 persen pemuda Indonesia mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia (WNI), tetapi di sisi lain 75,2 persen di antaranya memiliki keinginan bekerja di luar negeri jika mendapat kesempatan.

Temuan tersebut merupakan hasil survei terbaru Lembaga Survei KedaiKOPI yang dirilis dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 melalui diskusi bertajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029" di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah mengatakan tingkat kebanggaan pemuda terhadap identitas Indonesia masih tergolong baik. Dalam survei dengan skala penilaian 1-10, rata-rata tingkat kebanggaan responden mencapai 7,51.

Bahkan, sebanyak 28,7 persen responden memberikan nilai tertinggi untuk kebanggaan sebagai WNI.

"Jadi memang sebenarnya secara nasionalisme, identitas sebagai Indonesia, pemuda ini masih baik. Mereka tidak malu dan cukup bangga punya identitas Indonesia itu sendiri," kata Ashma.

Meski demikian, Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio menilai masih adanya 18,5 persen pemuda yang tidak bangga menjadi WNI merupakan persoalan serius.

Menurut dia, kebanggaan terhadap identitas bangsa seharusnya dimiliki seluruh pemuda Indonesia.

Senada, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli mengatakan kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah dan partai politik untuk terus memperkuat nasionalisme.

Di sisi lain, sebanyak 71,3 persen responden menilai nilai-nilai Sumpah Pemuda, yakni satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, masih relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan di era digital.

Ingin Bekerja Di Luar Negeri

Ashma menjelaskan, keinginan bekerja di luar negeri tidak serta-merta menunjukkan lunturnya nasionalisme pemuda.

Baca juga : KedaiKOPI Ungkap Tantangan Ekonomi dan Pekerjaan Pemuda

Dari hasil survei, sebanyak 61,6 persen responden mengaku bangga menjadi WNI sekaligus ingin bekerja di luar negeri. Bahkan, 77,8 persen responden yang memiliki keinginan tersebut berencana kembali dan menetap di Indonesia.

Alasan utama keinginan bekerja di luar negeri adalah memperoleh penghasilan lebih tinggi, sebagaimana disampaikan 78,2 persen responden.

Ashma mengatakan temuan tersebut perlu dipahami sebagai keinginan mencari peluang ekonomi dan pengalaman, bukan keinginan meninggalkan Indonesia secara permanen.

"Bekerja di luar negeri itu bukan berarti permanen. Mereka mungkin mencari modal dulu, kekayaan dulu, ilmu dulu, untuk nanti dibawa lagi ke Indonesia," ujarnya.

Karena itu, KedaiKOPI merekomendasikan Pemerintah memberikan alasan ekonomi yang kuat bagi pemuda untuk tinggal maupun kembali ke Tanah Air, termasuk melalui penyaluran pekerjaan dan bantuan modal usaha bagi pekerja migran yang pulang.

Kesulitan Mendapatkan Pekerjaan

Di balik kebanggaan terhadap Indonesia, survei juga menemukan persoalan ekonomi yang dihadapi pemuda, terutama dalam memperoleh pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup.

Sebanyak 74,7 persen responden menilai mencari pekerjaan di Indonesia saat ini sulit. Tingkat kemudahan mendapatkan pekerjaan bahkan hanya memperoleh skor rata-rata 4,29 dari skala 10.

Hambatan terbesar yang dirasakan pemuda adalah kebutuhan memiliki koneksi atau orang dalam untuk mendapatkan pekerjaan, sebagaimana disebutkan 56 persen responden.

Selanjutnya, sebanyak 48 persen responden menilai lapangan pekerjaan masih terbatas, 41,3 persen menyebut persaingan ketat, dan 39,2 persen menyoroti batasan usia.

Tekanan ekonomi juga terlihat dari kondisi pendapatan. Sebanyak 60,2 persen responden merasa penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidup.

Baca juga : Survei KedaiKOPI: Mayoritas Orang Tua Dukung SPMB, Kepercayaan Masih Rendah

Selain itu, 84,8 persen responden mengaku sering kehabisan uang menjelang akhir bulan, sementara 79,6 persen belakangan kerap menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga muncul. Sebanyak 64,4 persen responden khawatir pekerjaannya pada masa mendatang akan tergantikan oleh teknologi tersebut.

Ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati mengatakan temuan mengenai sulitnya mencari pekerjaan sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan tingkat pengangguran usia muda meningkat meskipun rata-rata pengangguran menurun.

Ia juga menyoroti persoalan ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri atau mismatch.

Sementara itu, sebanyak 43,9 persen responden menyatakan ingin membuka usaha sendiri. Namun, Ninasapti mengingatkan perlunya dukungan modal agar keinginan tersebut dapat direalisasikan.

Tertarik Politik, tetapi Merasa Tidak Terwakili

Survei KedaiKOPI juga menunjukkan pemuda Indonesia masih memiliki ketertarikan terhadap politik. Sebanyak 64,6 persen responden mengaku tertarik mengikuti isu politik.

Namun, sebanyak 62,7 persen merasa suara mereka belum terwakili dalam kebijakan pemerintah.

Ketidakpuasan terbesar terlihat pada pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang mencapai 65,8 persen. Sementara itu, sebanyak 62,8 persen responden tidak puas terhadap jaminan kebebasan menyampaikan kritik.

Ketika ditanya mengenai perubahan yang paling diharapkan, sebanyak 53,8 persen responden menginginkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Berikutnya, 50,5 persen mengharapkan ketersediaan lapangan kerja dan upah layak.

Survei juga mencatat 65,9 persen responden menilai demonstrasi sebagai cara paling efektif untuk menyampaikan aspirasi. Sebaliknya, kanal pengaduan resmi pemerintah menjadi saluran yang paling sedikit dinilai efektif, yakni 51,6 persen.

Baca juga : Presiden Yakinkan Masyarakat

Peneliti BRIN Lili Romli menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ketertarikan pemuda terhadap politik dan keyakinan bahwa suara mereka dapat menghasilkan perubahan.

Menurut dia, demonstrasi menjadi salah satu bentuk partisipasi ketika pemuda merasa aspirasi mereka tidak didengar melalui saluran politik konvensional.

Optimisme Indonesia Emas 2045 Terbelah

Di tengah tingginya kebanggaan terhadap Indonesia, keyakinan pemuda terhadap masa depan bangsa masih terbelah.

Survei mencatat hanya 54,4 persen responden optimistis Indonesia Emas 2045 dapat tercapai. Sementara itu, 45,6 persen lainnya menyatakan pesimistis.

Ashma mengatakan kondisi tersebut menunjukkan tingginya nasionalisme pemuda belum sepenuhnya diikuti optimisme terhadap pencapaian target pembangunan nasional.

Keterlibatan pemuda dalam kegiatan sosial dan organisasi juga masih rendah. Hanya 8,8 persen responden yang mengisi waktu luang dengan berorganisasi atau mengikuti kegiatan relawan.

Sebaliknya, aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah mengakses media sosial, yakni 58,1 persen responden.

Survei KedaiKOPI tersebut dilakukan secara daring pada 23-29 September 2026 terhadap 1.213 WNI berusia 17-45 tahun dari 36 provinsi.

Responden terdiri atas kelompok Generasi Z berusia 17-29 tahun dan milenial berusia 30-45 tahun. Data kemudian dibobotkan menggunakan metode iterative proportional fitting (IPF) berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi agar mendekati komposisi populasi berdasarkan data BPS.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.