Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Cerita Tim Pemadam Karhutla Berjuang Selama 40 Hari
Napas Sudah Bengek, Jatuh Dari Motor, Masuk Ke Parit
Minggu, 1 November 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan perkara mudah. Para petugas harus merintis jalan di tengah hutan, berjalan kaki sambil memanggul peralatan berat, hingga berjibaku dengan api selama berhari-hari. Napas sampai bengek, jatuh dari motor, bahkan nyemplung ke parit menjadi bagian dari perjuangan mereka.
Kisah perjuangan para pemadam karhutla itu diunggah Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melalui akun Instagram @rajaantoni. Ia membagikan ulang video dari akun @gakkum_kehutanan, Jumat (30/10/2026).
Dalam video tersebut, sejumlah petugas Manggala Agni Daops Sumatera VII Rengat, TNI, Polri, BPBD Indragiri Hulu, serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) bergantian menceritakan pengalaman mereka memadamkan api selama 40 hari di Desa Sungai Guntung Hilir, Rengat, Riau.
“Rengat, 40 hari yang penuh cerita! Setelah perjuangan panjang memadamkan karhutla seluas 471,39 hektare, api akhirnya padam pada Jumat dini hari, 11 September 2026,” tulis keterangan video tersebut.
Andre, anggota Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut), mengenang beratnya medan yang harus mereka lalui untuk mencapai titik api. Mereka harus merintis jalan sendiri di tengah hutan dengan menggunakan parang.
“Hambatan saat kita berjalan kaki, harus merintis hutan. Pakai parang buka jalur sendiri,” ungkapnya saat bercerita kepada relawan lainnya.
Perjalanan menuju lokasi kebakaran pun tidak bisa ditempuh dengan mudah. Para petugas harus berjalan kaki sambil membawa berbagai peralatan pemadaman.
Baca juga : KPK Terus Dalami Peran Suami Bupati Pekalongan
“Jalan kaki satu kilo setengah, sambil membawa alat yang banyak. Harus berhenti tiga sampai empat kali. Napas sudah bengek ya. Istirahat, berdiri lagi, istirahat lagi hingga sampai ke lokasi apinya,” tuturnya.
Beratnya medan juga menyisakan cerita tersendiri bagi relawan lain. Seorang pria berbaju merah menyala mengaku pernah terjatuh dari motor hingga masuk ke parit saat menembus jalur yang sulit.
“Waktu itu saya jatuh dari motor, terjun ke parit. Badan semua penuh lumpur. Itu yang paling dikenang,” cerita pria bertopi hitam tersebut.
Alih-alih larut dalam kesedihan, kejadian itu justru menjadi bahan candaan di antara mereka. “Pasti lah kita bantu. Tapi kita tertawakan dulu,” canda rekannya sembari tertawa.
Video tersebut juga memperlihatkan para petugas membabat ilalang dengan parang untuk membuka jalan. Ada pula adegan sejumlah relawan bergotong royong mengangkat motor yang terperosok ke parit setelah selip saat melewati titian kayu.
Perjuangan mereka tidak berhenti di situ. Para relawan harus mengangkut konsumsi dan perbekalan, mesin pompa air, gulungan selang, serta berbagai peralatan lain menuju lokasi kebakaran.
Mereka juga harus mengerahkan tenaga untuk mengendalikan api menggunakan selang pemadam yang tidak ringan. Semua itu dilakukan demi memastikan titik-titik api bisa dipadamkan.
Baca juga : Gerindra Kawal Pemerataan Akses Kesehatan Masyarakat
Kemenhut mengapresiasi kerja keras para petugas dan relawan yang berjibaku selama berhari-hari. “Terima kasih sudah berjuang bersama. Mari teruskan ikhtiar memadamkan karhutla di daerah lainnya. Tetap sehat dan selamat, para pejuang!” demikian keterangan yang dibagikan Raja Juli.
Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini juga membagikan dokumentasi upaya pemadaman karhutla di sejumlah wilayah lain. Mulai dari Kalimantan dan Sulawesi hingga Papua.
Ribuan Hektare Masih Terbakar
Di sisi lain, penanganan karhutla di Indonesia masih terus berlangsung. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut luas lahan yang terbakar saat ini mencapai 1.410 hektare.
Papua Selatan menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 502 hektare. Berikutnya, Sulawesi Tengah seluas 295 hektare, Sulawesi Tenggara 257 hektare, Maluku 182 hektare, dan Kalimantan Timur 174 hektare.
Untuk mendukung pemadaman, BNPB mengerahkan 58 unit armada udara. Sebanyak 23 unit digunakan untuk patroli hingga operasi modifikasi cuaca (OMC), sedangkan 35 unit lainnya dikerahkan untuk pengeboman air atau water bombing.
Armada udara tersebut ditempatkan di sejumlah wilayah prioritas. Kalimantan Selatan mendapat 13 unit, Kalimantan Tengah 11 unit, Sumatera Selatan 11 unit, Kalimantan Barat 9 unit, Jambi 5 unit, dan Riau 4 unit. Sementara itu, armada di luar enam wilayah prioritas tersebut terdiri atas Lampung 2 unit, Jawa Timur 1 unit, Kalimantan Timur 1 unit, Papua Selatan 1 unit, dan Papua Barat Daya 1 unit.
Berton juga menyampaikan bahwa upaya modifikasi cuaca masih dilakukan di sejumlah lokasi untuk membantu mengatasi karhutla. Hujan ringan hingga sedang dilaporkan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, antara lain Seruyan, Lamandau, Katingan, Kotawaringin Timur, Sukamara, Gunung Mas, Murung Raya, dan Barito.
Baca juga : KDM Bertekad Beri Pelayanan Optimal Bagi Masyarakat Jabar
Di Kalimantan Selatan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan turun di wilayah yang disebut sebagai Tapian dan Hulu Sungai Selatan.
“Kemudian hujan sangat ringan hingga ekstrem dilaporkan turun di Palembang, Musi Banyuasin, OKI, hingga hampir di seluruh Sumsel,” tutur Berton.
Meski demikian, karhutla di Kalimantan Timur masih menjadi perhatian. BNPB mencatat 27 titik api di provinsi tersebut. Kebakaran terluas terjadi di Kutai Kartanegara, mencapai 76,5 hektare, dengan 11 titik api.
Kualitas udara di sejumlah lokasi juga masih perlu diwaspadai. Menurut Berton, secara umum kualitas udara berada dalam kategori sedang. Namun, kondisi tidak sehat terpantau di Sendawar dan tiga titik pemantauan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kualitas udara secara umum berada di kategori sedang, namun di Sendawar dan tiga titik pemantauan kami di IKN ada kualitas udara yang tidak sehat,” ungkapnya.
BNPB mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah yang kualitas udaranya memburuk.
“Meski titik api sudah berkurang, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat sumber air yang masih kering, karakteristik lahan gambut, angin bisa mempengaruhi kecepatan pembakaran serta akses yang sulit dijangkau,” imbaunya. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya