Dark/Light Mode

Kota, Garda Terdepan Hadapi Krisis Iklim Global

Minggu, 1 November 2026 17:40 WIB
The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026 digelar oleh Program Studi Magister Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sabtu (31/10/2026). [Foto: Dok]
The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026 digelar oleh Program Studi Magister Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sabtu (31/10/2026). [Foto: Dok]

RM.id  Rakyat Merdeka - Kota memiliki peran strategis dalam menghadapi perubahan iklim. Konsumsi energi yang tinggi, peningkatan volume sampah, pencemaran udara, hingga tekanan terhadap sumber daya air menjadikan kawasan perkotaan sebagai salah satu medan utama penanganan krisis lingkungan.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mencatat, kawasan perkotaan menyumbang sekitar 70 persen emisi karbon dioksida (CO2) global. Besarnya kontribusi tersebut membuat kebijakan pembangunan kota menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Di sisi lain, persoalan lingkungan perkotaan terus berkembang. Produksi sampah padat global mencapai sekitar 2,1 miliar ton pada 2023 dan diperkirakan meningkat menjadi 3,8 miliar ton pada 2050 apabila tidak ada intervensi yang signifikan.

Baca juga : Menteri Jumhur Ajak Serikat Pekerja PLN Selamatkan Ekosistem Hijau Danau Toba

Persoalan air bersih dan pencemaran udara juga membutuhkan perhatian serius. Hampir seluruh penduduk dunia masih terpapar udara dengan tingkat polusi yang melampaui pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tantangan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026 yang diselenggarakan Program Studi Magister Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sabtu (31/10/2026).

Konferensi yang berlangsung secara hibrida itu mengangkat tema Shaping Resilient and Sustainable Societies: Holistic Approaches to Environmental Management in the Digital Era.

Baca juga : Menteri Jumhur Dorong Aksi Lingkungan Berdampak Nyata

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan praktisi dari dalam maupun luar negeri untuk membahas pengelolaan lingkungan melalui pendekatan multidisiplin, termasuk pemanfaatan teknologi digital.

Ketua Pelaksana ICE3SHT 2026 sekaligus Koordinator Program Studi Magister Manajemen Lingkungan Pascasarjana UNJ, Prof. Eliana Sari, mengatakan, pengelolaan lingkungan di tengah pesatnya urbanisasi tidak bisa dilakukan secara sektoral.

Menurutnya, persoalan lingkungan berkaitan erat dengan kebijakan ekonomi, pendidikan, kehidupan sosial, serta perkembangan teknologi.

Baca juga : KSPSI Imbau Demo Mahasiswa Besok Berlangsung Damai

"Pengelolaan lingkungan perkotaan membutuhkan pendekatan terpadu. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, penguatan pendidikan, dan pemanfaatan teknologi digital," ujar Eliana.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.