Dark/Light Mode

Kisah Ultah Penuh Haru di Balik Tugas Berat Berantas Covid-19

Minggu, 10 Mei 2020 22:03 WIB
Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo menerima tart ultah kejutan dari putra bungsunya, Adelwin Azel Monardo di Kantor BNPB Jakarta, Minggu (10/5). Disaksikan istri tercinta, Santi Monardo. (Foto: Istimewa)
Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo menerima tart ultah kejutan dari putra bungsunya, Adelwin Azel Monardo di Kantor BNPB Jakarta, Minggu (10/5). Disaksikan istri tercinta, Santi Monardo. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Ada yang menarik dari “hadiah” persembahan Kolonel Budi kepada Letjen Doni Monardo. Ia mempersembahkan kue tart yang didesain khusus.

Topping tart persegi empat itu, dihiasi buttercream berbentuk baju PDH (Pakaian Dinas Harian) dalam lipatan. Sekilas, persis lipatan baju dinas warna hijau, lengkap dengan tiga bintang di kanan-kiri bagian pundak, badge nama DONI dan brevet-brevet/tanda kualifikasi TNI di bagian kiri.

Di bagian bawah “lipatan baju PDH” bertuliskan kalimat sederhana “Yaumil Milad, Barrakallah fi Umriik, Bpk. Doni Monardo”. 

Baca juga : Sinergi Pertamina Group Turun Tangan Berantas Covid-19 di Jawa Timur

Sementara dari Egy, Doni menerima kado istimewa berupa dua buku sekaligus. Buku kesatu berjudul “Secangkir Kopi di Bawah Pohon” dan buku kedua berjudul “Sepiring Sukun di Pinggir Kali”. Kedua buku dilengkapi sub-judul yang sama: “Kiprah Doni Monardo Menjaga Alam”.

Tak pelak, secercah aura kebahagiaan menyelimuti lantai 10 Graha BNPB. Doni bersama istri, anak-anak dan cucu kesayangan, pun menyantap hidangan istimewa. Para staf dan kerabat ikut larut dalam kebahagiaan hari itu. Menjadi spesial, karena Santi memasakkan menu kesukaan Doni Monardo.

Saat berbicara agak serius memaknai perjalanan hidup hingga memaski usia ke-57, Doni pertama-tama mengucap syukur. Ia bahkan mensyukuri tugas negara yang dibebankan di pundaknya, sebagai Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Baca juga : Urgensi Tata Kelola Distribusi Pangan di Tengah Wabah Covid-19

Bukan persoalan ia harus jauh dari keluarga. Bukan persoalan ia harus bekerja ekstra keras hingga tidak pulang ke rumah berbulan-bulan. Bukan karena jam tidurnya yang hanya tiga-empat jam per hari. Ia bersyukur, karena Tuhan melalui tangan pemerintah, memposisikan dirinya menjadi bagian sentral dari sejarah.

Peristiwa wabah skala besar hingga menjadi catatan “sejarah dunia” umumnya berulang setiap satu abad. Pada tahun 1720, dunia dilanda wabah The Great Plague of Marseille yang membunuh kira-kira 100 ribu orang di Marseille, Perancis.

Penyakit ini disebarkan melalui lalat yang membawa bakteria penyebab penyakit ini. Pada tahun 1820, dunia dilanda wabah kolera. Wabah ini menyebabkan kira-kira 100 ribu orang terpapar.

Baca juga : Alumni UII Yogyakarta Bantu Guru Ngaji dan Marbot di Zona Merah Covid-19

Kemudian tahun 1920 dunia dilanda penularan wabah Spanish Flu. Penyakit ini dicatatkan sebagai penyakit yang paling berbahaya dan menewaskan 100 juta orang.

Kini di tahun 2020, dunia sekali lagi dikejutkan dengan penyebaran wabah Coronavirus yang bermula di wilayah Wuhan, China. Hampir semua permukaan bumi terpapar wabah ini, termasuk Indonesia.

"Jadi, saya harus syukuri tugas ini dengan bekerja keras dan bekerja sungguh-sungguh. Soal hasil, saya tidak terlalu risau. Yang pasti, saya terus berusaha agar kita terus bersemangat menancapkan semangat melawan Covid-19," ungkapnya. [HES]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.