Dark/Light Mode

Ditemukan, Kotak Hitam Sriwijaya Air Dibawa ke JICT

Selasa, 12 Januari 2021 17:53 WIB
Tim gabungan berhasil menemukan black box alias kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Selasa (12/1) sekitar pukul 16.20 WIB.
Tim gabungan berhasil menemukan black box alias kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Selasa (12/1) sekitar pukul 16.20 WIB.

RM.id  Rakyat Merdeka - Tim penyelam TNI Angkatan Laut (AL) berhasil menemukan black box alias kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Selasa (12/1) sekitar pukul 16.20 WIB.

Petugas gabungan TNI AL membawa black box ke Dermaga JICT II Tanjung Priok. Kotak hitam itu dimasukkan ke dalam boks dan berisi air berwarna kecokelatan. Kotak ini dibawa menggunakan Sea Rider oleh beberapa penyelam di antaranya Kopaska dan Dislambair.

Berita Terkait : Besok, Sriwijaya Air Berangkatkan 13 Keluarga Korban Ke Jakarta

Kotak hitam itu dibawa oleh Dansatgasla Operasi SAR Sriwijaya Air Laksamana Pertama Yayan Sofyan dan Direktur Operasional Puskopaska Kolonel Laut (P) Johan Wahyudi.

Kotak hitam adalah sekumpulan perangkat yang dipakai pada transportasi, merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang. Fungsi kotak hitam merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Meskipun namanya kotak hitam, namun kotak tersebut berwarna oranye. Ini untuk memudahkan pencarian jika pesawat mengalami kecelakaan.

Berita Terkait : Pencarian Black Box Sriwijaya Air Mengerucut Di Lima Titik Perairan Pulau Laki

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB dan jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Berdasarkan manifest, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra. [FAQ]