Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Hal senada dikatakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu. Dia optimis perbaikan itu berlanjut tahun ini. Cerminannya, dapat dilihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang terus naik. Desember sebesar 51,3, dan Januari 52,2.
Dia memandang, kinerja perekonomian terus menunjukkan perbaikan. Bahkan lebih cepat karena program vaksinasi berjalan dengan baik. Di samping, dukungan fiskal dari Kemenkeu yang akan tetap berlanjut tahun ini. Program PEN juga terus dilakukan terhadap sektor rumah tangga dan usaha, khususnya UMKM.
“Program PEN terus dilanjutkan untuk memastikan penanganan Covid-19 terus berjalan efektif, menjaga daya beli masyarakat, serta menstimulasi pemulihan dunia usaha,” cetus Febrio.
Baca juga : Barcelona Masih Ngutang Sama Messi
Tak hanya itu Kemenkeu bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) turut berkoordinasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan proses pemulihan ekonomi nasional didukung oleh kebijakan yang kondusif, terpadu, dan efektif.
Staf Khusus Presiden Jokowi Bidang Ekonomi, Arif Budimanta, pun berpikiran serupa. Kata dia, perekonomian Indonesia mengarah ke pemulihan kendati sepanjang 2020 minus 2,07 persen. Arif menyebut, pemerintah terus mendorong sisi permintaan dan penawaran. “Itu artinya, pemerintah terus mendorong agar ekonomi kita pulih dalam waktu yang cepat baik dari sisi supply maupun demand,” ujar Arif.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengakui, ada perbaikan ekonomi pada kuartal IV-2020. Perbaikan ini merupakan buah dari pelonggaran Pembatadan Sosial Berskala Besar (PSBB). Padahal, jika PSBB terus dilonggarkan, dia memprediksi, ekonomi bakal membaik hingga minus 1 persen. Namun, pada November-Desember, PSBB justru diperketat. Alhasil, pertumbuhan kuartal IV tertekan.
Baca juga : Ekonomi Mulai Siuman, Rupiah Menguat Tipis
Piter mengatakan, gambaran ekonomi tahun ini tidak akan berbeda jauh jika pandemi belum berakhir. Sayangnya, penambahan kasus masih tinggi, sehingga mendorong pemerintah mengetatkan PSBB.
“Konsumsi dan investasi masih akan sangat rendah. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun ini masih akan negatif. Perkiraan saya di kisaran minus 1 sampai minus 2 persen,” ujar Piter kepada Rakyat Merdeka, semalam.
Berbeda jika pemerintah berhasil menangani pandemi. Misalnya, pada kuartal II tidak ada lagi penularan Covid-19. Piter yakin, peluang ekonomi untuk dapat tumbuh sesuai target pemerintah terbuka lebar.
Baca juga : Lebih Ekonomis, Tantri Kotak Rajin Belanja Ke Pasar Tradisional
Bagaimana tanggapan pegusaha? Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjadja Kamdani mengatakan, pemerintah masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah apabila ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen sampai 5,5 persen di 2021. Pemerintah harus mampu mengendalikan pandemi dan menghilangkan kebijakan-kebijakan penanganan pandemi yang mengekang kegiatan ekonomi. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya