Click Here

Dark/Light Mode

Mengasuh Anak Penuh Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2020 04:23 WIB
Ngopi - Mengasuh Anak Penuh Tantangan
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Mengasuh anak saya yang baru 4 tahun sungguh penuh tantangan. Apalagi di tengah pandemi sekarang ini. Satu hari penuh, dipotong jam tidur, selalu bersama. Kadang kesel walau banyak senangnya. 

Untuk bagian yang bikin kesel ini contohnya. Dia seringkali memotong kalimat. Misalnya yah, saat bilang gini. “Ka, jangan makan sebelum cuci tangan!” 

Tapi karena dia kadang malas mencuci makan, terus dia mengadu begini ke ibunya. “Kaka nggak boleh makan!” Untung masih kecil, memenggal kalimat seperti itu masih dianggap lucu. 

Berita Terkait : Usaha Sepi, Medsos Rame

Saya dan istri pun kompak. Memberi tahu bahwa mendengar omongan harus utuh. Jangan sepotong-sepotong. Kalau di lingkungan rumah saya tidak bakal menimbulkan masalah. Sebab, setiap omongan terdengar ke seluruh ruangan. Maklum, rumahnya kecil. 

Mungkin saja anak pertama saya ini berbakat meneruskan profesi saya menjadi jurnalis. Yang dia lakukan memotong kalimat tidak salah. Memang benar saya melarangnya makan.... sebelum cuci tangan. 

Kalau di istilah kami, kalangan jurnalis, yang dilakukan anak saya ini namanya framing. Definisi kuliahannya, menyeleksi fakta pendapat atau peristiwa dalam penulisan berita. Ini juga tidak salah, karena di dunia jurnalis diatur oleh kode etik. Salah satunya harus berimbang. Jadi yakinlah, bahwa berita yang kami sajikan bukan hoaks. hehehe... Kalaupun berita itu salah, maka terkena pasal di Undang-Undang Pers. 

Berita Terkait : Dulu Kecewa, Sekarang Ketagihan Belanja Online

Balik lagi ke persoalan balita saya itu. Saya bilang, “Kak, kalau mendengar omongan jangan sepotong-sepotong.” Saya tambahin lagi. Untung di rumah, jadi gak bikin masalah. Kalau lingkungan yang lebih besar, kaya RT misalnya bisa bikin ribut. 

Mungkin omongan saya ke anak umur 4 tahun agak lebay. Tapi nggak apa-apa. Dari kecil dia harus tahu bahwa memahami itu harus utuh. Saya juga kasih tahu, jangan telan mentah-mentah omongan orang. Supaya kalau nanti dia besar tidak main klaim paling tahu. Merasa paling benar. 

Jujur sih, saya takut kalau dari kecil gak dikasih pemahaman kaya gini nanti besar bisa sembarangan. Misalnya yah, cuma tahu lewat medsos main turun ke jalan dan bakar-bakar. Padahal, infonya cuma sepotong dan belum tentu benar. Amit-amit jabang bayi deh.
 
Marula Sardi, Wartawan Rakyat Merdeka