Dark/Light Mode

MPR-LDII Kerja Sama Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Sekolah Virtual Kebangsaan

Selasa, 3 September 2024 16:31 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (berkemeja putih) bersama Ketua LDII KH Chriswanto Santoso menandatangani MoU Sekolah Virtual Kebangsaan. (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (berkemeja putih) bersama Ketua LDII KH Chriswanto Santoso menandatangani MoU Sekolah Virtual Kebangsaan. (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) bersama Ketua Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) KH Chriswanto Santoso menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara MPR dengan LDII untuk penguatan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan melalui Sekolah Virtual Kebangsaan. Kerja sama ini diharapkan dapat memasifkan kegiatan internalisasi program Empat Pilar MPR di lingkungan warga LDII, khususnya bagi para pengurus, generasi muda dan ustaz/ustazah LDII melalui kegiatan Sekolah Virtual Kebangsaan.

Bamsoet menerangkan, selain melalui penyelenggaraan Sekolah Virtual Kebangsaan, MPR dan LDII juga akan menyelenggarakan berbagai kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR di pondok pesantren, sekolah/madrasah, yayasan, majelis taklim, dan/atau komunitas warga LDII baik di dalam maupun di luar negeri.

“MPR juga mengajak partisipasi warga LDII dalam berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan yang diselenggarakan," ujar Bamsoet, dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/9/2024). Hadir antara lain, Ketua Umum LDII KH Chriswanto Santoso, Sekretaris Umum LDII Dody Taufiq Wijaya, Ketua LDII Singgih Trisulistyono, dan Ulama KH Aceng Karimullah.

Baca juga : UMB Gelar Pengabdian Kepada Masyarakat di PKBM Amari, Jakarta Barat

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, kerja sama Sosialisasi Empat Pilar MPR memiliki makna penting, mengingat ormas keagamaan adalah entitas sosial yang memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kehadiran ormas keagamaan pun cenderung lebih mudah diterima oleh masyarakat, dibandingkan organisasi kemasyarakatan lainnya, karena ormas keagamaan dipimpin oleh tokoh-tokoh agama yang menjadi teladan (role model) bagi masyarakat.

"Kecenderungan penghormatan masyarakat terhadap eksistensi ormas keagamaan ini selaras dengan temuan hasil survei LSI. Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap himbauan tokoh agama memiliki persentase yang cukup tinggi, mencapai 51,7 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kepatuhan terhadap seruan yang disampaikan politisi, yang hanya mencapai 11 persen," jelas Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI ini menerangkan, pada prinsipnya, hubungan kerja sama yang dibangun dengan ormas keagamaan, bersifat simbiosis mutualisme, saling menopang satu sama lain. Di satu sisi, ormas keagamaan dapat memanfaatkan kerjasama ini dalam kerangka internalisasi nilai-nilai dan wawasan kebangsaan secara lebih intensif dan mendalam.

Baca juga : Biaya Sekolah Masih Mahal

Di sisi lain, eksistensi ormas keagamaan menjadi filter untuk menetralisir hadirnya isu-isu keagamaan yang sensitif, yang jika tidak disikapi dengan arif dan bijaksana, dapat menimbulkan kesalahpahaman, memantik konflik sosial, bahkan menggerus ikatan soliditas kebangsaan kita. 

Bamsoet menambahkan, kemajuan zaman adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terelakkan. Seiring perjalanan waktu, tatanan kehidupan akan terus mengalami pergeseran dan perubahan, melahirkan paradigma baru pada berbagai aspek kehidupan.

“Rangkaian momentum kehidupan akan melahirkan ragam peradaban yang akan membentuk periodisasi zaman, di mana pada setiap periodisasi zaman tersebut akan menghadirkan tantangan yang terus berkembang secara dinamis," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.