Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komisi XI DPR, Hanif Dhakiri menyebut, kebijakan Amerika Serikat (AS) yang mengenakan total tarif 42% terhadap produk Indonesia sebagai alarm serius bagi ekonomi nasional.
“Ini bukan sekadar urusan dagang, tapi pukulan ke industri padat karya dan jutaan pekerja. Pemerintah tak bisa hanya berdiri di pinggir lapangan. Harus turun tangan penuh," kata Hanif di Jakarta, Kamis (3/4/2025).
Ia menegaskan, Pemerintah harus segera merespons cepat dengan langkah nyata dan berpihak.
Baca juga : Wamen Fahri: Kita Harus Kompak Untuk Tuntaskan Masalah Perumahan
Per 2 April 2025, AS memberlakukan tarif dasar 10% plus tambahan 32% untuk Indonesia. Ekspor Indonesia ke AS tahun lalu mencapai dolar Amerika Serikat (AS) 31 miliar atau sekitar Rp500 triliun, dengan produk utama, seperti alas kaki, tekstil, minyak nabati, dan alat listrik.
Hanif mengingatkan, dampak tarif baru AS bisa meluas kalau tidak segera direspon memadai, seperti ekspor yang turun, PHK meningkat, inflasi naik, dan daya beli melemah. Rupiah juga tertekan ke Rp 16.675 per dolar, meski Bank Indonesia (BI) sudah intervensi dengan lebih dari dolar Amerika Serikat (AS) 4,5 miliar cadangan devisa.
“Strategi moneter sangat penting. Tapi kalau strategi fiskal dan sektor riil tak diperkuat, ekonomi kita bisa limbung,” tegasnya.
Baca juga : Dunia Harap-harap Cemas
Hanif mendorong pembukaan pasar ekspor ke BRIICS dan Afrika, serta penguatan UMKM dan industri lokal berbahan baku dalam negeri.
“Tarif tinggi dari AS harus jadi momentum untuk produk lokal naik kelas. Kita butuh keberanian dan dukungan konkret,” katanya.
Hanif juga menekankan, pentingnya investasi pada SDM, termasuk tenaga kerja migran yang menyumbang devisa dolar Amerika Serikat (AS) 14 miliar tahun lalu.
Baca juga : Retreat Kepala Daerah Dapat Respons Positif
“Mereka bukan beban, tapi kekuatan. Kalau dikelola serius, lima sampai sepuluh tahun ke depan mereka bisa jadi pilar ekonomi nasional,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Hanif menegaskan, bahwa dalam situasi penuh tekanan, arah dan keberanian sebuah bangsa diuji.
"Ini saatnya melangkah dengan strategi yang berani dan keberpihakan yang nyata,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya