Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Komisi XII DPR RI menekankan pentingnya percepatan hilirisasi di sektor pertambangan. Dalam hal ini, hilirisasi saat ini tidak lagi hanya dipandang sebagai upaya meningkatkan nilai tambah saja, tetapi juga dimaknai sebagai upaya peningkatan daya saing bangsa.
Anggota Komisi XII DPR RI Alfons Manibui menyampaikan dukungan penuh terhadap kebijakan hilirisasi. Dalam rapat kerja Komisi XII DPR RI bersama Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (6/5/2025).
Alfons menegaskan, kebijakan hilirisasi ini harus maju terus dan dilanjutkan meskipun tantangannya besar terutama pada aspek infrastruktur pendukung dan Sumber Daya Manusia (SDM).
"Saya ingin menegaskan kembali terkait hilirisasi bahwa kami hadir menjadi pendukung penuh Pak Menteri ESDM,Pak Dirjen dan kawan-kawan. Tidak ada lagi cerita kita mundur-mundur," tegas Alfons.
Fraksi Golkar, lanjut Alfons, menilai langkah Kementerian ESDM RI dan Direktorat Jenderal Minerba dalam mempercepat hilirisasi sudah tepat.
Baca juga : Lewat RDP, DPR Dorong PT Timah Tingkatkan Tata Kelola Industri Nasional
Kebijakan ini bukan sekadar strategi meningkatkan nilai tambah, mengurangi tingkat ketergantungan saja, melainkan perlu dimaknai sebagai bagian dari misi besar Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada energi dan mengangkat martabat bangsa.
Upaya tersebut saat ini ditindaklanjuti secara serius dan progresif oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Jadi (hilirisasi) ini bukan semata-mata untuk menghadirkan nilai tambah, mengurangi ketergantungan impor, atau menekan subsidi. Saya melihatnya sebagai wujud kebanggaan nasional yang ingin ditunjukkan oleh Presiden dan Kabinet Merah Putih," ungkap mantan Bupati Teluk Bintuni dua periode itu.
Alfons juga menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa besar. Menurutnya, produk-produk buatan anak bangsa sudah lama dikenal di dunia internasional. Ia pun mengenang pengalamannya saat bersekolah di luar negeri, nama Indonesia begitu dihormati.
"Zaman dulu, ketika saya sekolah di luar negeri, kawan-kawan di sana langsung menyebut 'Soekarno' begitu tahu saya dari Indonesia. Banyak juga produk yang bertuliskan 'Made in Indonesia'. Ini menjadi kebanggaan tersendiri," katanya.
Baca juga : Brimob Gelar Operasi Berantas Jaya 2025, Sasar Premanisme Jakarta
Atas dasar itu, Alfons berpendapat bahwa Hilirisasi bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga sebagai upaya membangun daya saing bangsa dan rasa bangga sebagai warga negara.
"Dalam konteks daya saing masa depan, maka kita tidak bisa hanya memperbanyak aspek cost benefit saja," tegasnya.
Untuk itu, Fraksi Golkar DPR berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan hilirisasi ini. Mereka memastikan program ini dapat berjalan optimal dan berkontribusi positif terhadap APBN, baik dari sisi penerimaan negara maupun pengeluaran.
"Dengan dasar pemikiran tersebut, saya ingin sampaikan kepada Pak Dirjen: maju terus. Tantangannya pasti besar, karena semua yang baru selalu penuh tantangan," ujarnya memberi dorongan.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Soegeng Suparwoto. Ia menilai hilirisasi memang menjadi perhatian serius DPR dan Pemerintah, khususnya di sektor batu bara.
Baca juga : DKPP Terima 16 Pengaduan Dugaan Pelanggaran Etik
Dengan cadangan terbukti mencapai 38 miliar metrik ton, batu bara kalori rendah dapat diolah untuk keperluan industri, seperti Dimethyl Ether (DME) yang menjadi alternatif pengganti LPG.
"Batu bara ini bisa diolah menjadi DME, bisa juga menjadi etanol dan produk lainnya," ungkapnya.
Sementara itu, Dirjen Minerba Tri Winarno menegaskan bahwa kewajiban hilirisasi juga diberlakukan bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), yang merupakan kelanjutan dari Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).
Saat ini, sudah ada enam perusahaan pemegang PKP2B yang telah berkomitmen mendukung hilirisasi. PT Arutmin Indonesia, Kaltim Prima Coal, dan Adaro Energy berencana mengembangkan metanol dan DME.
Sementara Kideco Jaya Agung fokus pada listrik. Di sisi lain, PT Multi Harapan Utama dan PT Tanito Harum mengembangkan produksi semi kokas dan brown coal methanol.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya