Dark/Light Mode

MoU Ekspor Listrik Dan CCS Indonesia-Singapura Era Baru Pengembangan Energi Terbarukan

Senin, 16 Juni 2025 14:14 WIB
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. (Foto: Dok. MPR RI)
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. (Foto: Dok. MPR RI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno menyambut gembira pendandatanganan MOU antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Singapura antara lain untuk pengiriman listrik yang berasal dari energi tenaga surya di Kepulauan Riau (Kepri) dan Riau, serta penyimpanan karbon Singapura ke Indonesia (Carbon Capture Storage atau CCS), Jumat (13/6/2025).

Menurut Eddy, kesepakatan kedua negara ini merupakan tonggak baru dalam pengembangan Energi Terbarukan (EBT) dan ekonomi rendah karbon di Indonesia.

“Saya memberikan apresiasi kepada Pak Bahlil dan jajaran Kementerian ESDM yang secara cepat menangkap peluang untuk pengembangan sektor energi terbarukan serta low carbon business di Indonesia melalui ekspor listrik dan industri CCS," ujar Eddy dalam keterangannya, Senin (16/6/2025). 

Baca juga : Indonesia-Singapura Teken MoU Energi Hijau Senilai 10 Miliar Dolar

Selain menyerap tenaga kerja, MOU ini juga menghasilkan devisa dan membangun industri panel surya dan industri pendukung EBT lainnya, penandatanganan MOU tersebut meneguhkan Indonesia sebagai negara yang serius melakukan dekarbonisasi terhadap perekonomiannya.

“Kebutuhan listrik Singapura yang bersumber dari EBT sangat besar dan Indonesia adalah negara yang memiliki kedekatan geografis dan sumber energi surya yang diperlukan negara tetangga kita," ujar Eddy.

Menurutnya, sumber panas bumi di wilayah Sumatera Barat juga bisa dikembangkan untuk menambah pasokan listrik ke Singapura.

Baca juga : Grill Master Indonesia 2025 Siap Hadirkan Pertarungan Kuliner BBQ

"Kesediaan negara jiran ini membeli sumber listrik EBT dengan tarif yang menjanjikan, tentu menarik bagi investor domestik kita," ungkap Doktor Ilmu Politik UI ini.

Menurutnya, di lain pihak, potensi penyimpanan karbon Indonesia sebesar 600 gigaton, yang merupakan terbesar di kawasan Asia, juga membuka peluang pendapatan negara dan penyerapan tenaga kerja ketika negara-negara seperti Singapura, Korea, Taiwan dan Jepang melakukan penyimpanan karbon hasil industrinya di Indonesia.

"Teknlologi CCS saat ini sudah teruji dan aman, sehingga pengembangan industri CCS ke depannya juga akan membawa transfer teknologi kepada anak bangsa," ujar Eddy. 

Baca juga : PNM Hijaukan Indonesia Lewat Penanaman Pohon Dan Pelestarian Terumbu Karang

Menurutnya, CCS merupakan low carbon business yang calon investornya cukup banyak, yang kelak akan meningkatkan porsi investasi asing ke Indonesia.

“Saya juga meyakini bahwa ekspor listrik ke luar negeri telah memperhitungkan kebutuhan domestik kita, sehingga kegiatan pengiriman energi ke Singapura tidan akan mengganggu kebutuhan listrik dalam negeri," ujarnya.

Ia berharap bahwa sektor EBT akan semakin berkembang di Indonesia, dalam rangka mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang saat ini masih banyak diimpor, serta penguatan ketahanan energi nasional sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.