Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Hilirisasi Bauksit Serap 14.700 Tenaga Kerja, DPR Dorong Industrialisasi
Selasa, 27 Januari 2026 09:33 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan hilirisasi mineral nasional dinilai memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja baru.
Pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bauksit di dalam negeri tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga memperluas serapan tenaga kerja formal dan terampil.
Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mengapresiasi dampak positif kebijakan hilirisasi terhadap ketenagakerjaan nasional.
Menurut dia, hilirisasi sumber daya alam mineral merupakan instrumen strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Baca juga : Industri Alas Kaki Topang Padat Karya Dan Manufaktur
“Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi,” ujar Eddy.
Eddy menilai salah satu proyek hilirisasi yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembukaan lapangan kerja adalah pengembangan ekosistem pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi yang dijalankan oleh Grup MIND ID.
Berdasarkan dokumen Pra Feasibility Study (PFS) yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek strategis dengan total investasi sekitar Rp 60 triliun tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun operasional.
Ia menilai investasi berskala besar tersebut berpotensi menciptakan efek berganda terhadap perekonomian dan ketenagakerjaan nasional.
Baca juga : AGTI Apresiasi Hilirisasi Tekstil-Garmen, Dinilai Dorong Lapangan Kerja
Selain menyerap tenaga kerja langsung di sektor industri, proyek ini juga diperkirakan mendorong tumbuhnya lapangan kerja di sektor pendukung.
“Investasi seperti ini akan menggerakkan ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai dari sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal,” katanya.
Eddy menambahkan, dorongan hilirisasi menjadi semakin relevan mengingat kebutuhan aluminium nasional yang masih bergantung pada impor.
Saat ini, kebutuhan aluminium domestik mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54 persen masih dipenuhi dari luar negeri.
Baca juga : Masuki 2026, Kemenperin Kebut Penyerapan Anggaran Dan Daya Saing Industri
Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya bauksit yang besar, dengan total sumber daya sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan sekitar 2,86 miliar ton.
Potensi tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk membangun industri aluminium nasional yang berkelanjutan dan padat karya.
Eddy menegaskan, hilirisasi perlu terus didorong hingga ke tahap industrialisasi produk turunan dan barang jadi agar manfaat ekonomi dan penciptaan lapangan kerja semakin optimal.
“Ketika pemrosesan dan industrialisasi dilakukan di dalam negeri, lapangan kerja tercipta, nilai tambah tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh tenaga kerja dan masyarakat yang lebih luas,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya