Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Komisi VII DPR Minta Pemerintah Perkuat Sektor Manufaktur
Selasa, 3 Februari 2026 16:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kaisar Abu Hanifah, memimta pemerintah menggenjot sektor industri manufaktur. Hal ini dinilai penting untuk meredam risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang diprediksi meluas pada 2026.
Kaisar menegaskan pemerintah tidak boleh pasif di tengah tekanan ekonomi global yang terus menggerus sektor padat karya.
Berdasarkan data satudata.kemnaker.go.id, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 88.519 tenaga kerja mengalami PHK dan terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Baca juga : Kolaborasi BRI, BP Batam, BKPM dan Kementerian UMKM Perkuat Investasi Daerah
Sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 35 persen dari total kasus tersebut.
“Di awal tahun ini kami meminta pemerintah bertindak cepat menguatkan industri manufaktur. Jika dibiarkan, risiko PHK akan semakin meluas dan berdampak serius terhadap stabilitas sosial serta ekonomi nasional,” ujar Kaisar di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Kaisar menyoroti fenomena penurunan angka pengangguran yang lebih banyak diserap oleh sektor informal. Sementara sektor formal produktif seperti manufaktur, justru stagnan. Angka pengangguran usia muda di Indonesia sendiri, menyentuh 17 persen.
Baca juga : IHSG Masih Merah, Pemerintah Tenangkan Investor
“Ini alarm keras. Tanpa industri manufaktur yang kuat, bonus demografi kita justru bisa berubah menjadi beban. Negara harus hadir melalui insentif, kemudahan perizinan, dan perlindungan industri dalam negeri,” tegas legislator PKB tersebut.
Menurut Kaisar, industri manufaktur adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi karena kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam skala besar dan memperbaiki kinerja ekspor.
Tanpa intervensi negara, ia khawatir Indonesia akan semakin terjebak dalam jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
Baca juga : Prabowo Hadiri Rakor Pemerintah Pusat–Daerah Di Sentul
Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan energi yang terjangkau bagi industri agar memiliki daya saing global. Sektor manufaktur tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri menghadapi perlambatan permintaan dunia.
“Kehadiran negara sangat dibutuhkan agar sektor ini tetap tumbuh dan berdaya saing. Penguatan manufaktur harus menjadi agenda prioritas nasional untuk memastikan daya beli masyarakat terjaga dan angka pengangguran dapat ditekan secara nyata,” pungkas Kaisar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya