Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Manifesto Kebangkitan Nasional dan Api Trisakti Menuju Indonesia Emas 2045
Rabu, 20 Mei 2026 13:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum untuk membangkitkan kembali semangat persatuan, kemandirian, dan keberanian menghadapi krisis bangsa.
Di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan rupiah, kenaikan harga pangan, hingga tantangan energi, Indonesia dinilai membutuhkan kebangkitan baru yang berpijak pada nilai Pancasila dan ajaran Trisakti Bung Karno menuju Indonesia Emas 2045.
“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sejarah adalah kelangsungan jiwa bangsa. Hanya bangsa yang menangkap petir sejarahnya sendiri yang mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri!” — Ir. Soekarno
Lebih dari seabad lalu, di ruang-ruang kelas School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) Batavia, lahir sebuah gagasan besar yang mengubah arah sejarah bangsa.
Berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 bukan hanya menandai lahirnya organisasi modern, tetapi menjadi titik awal kesadaran nasional yang menyatukan berbagai identitas kedaerahan menuju cita-cita Indonesia merdeka.
Pergerakan itu dipicu kegelisahan dr. Wahidin Soedirohoesodo yang melihat bangsanya tertinggal akibat minimnya akses pendidikan.
Gagasannya tentang Studiefonds atau dana pendidikan kemudian menginspirasi para pemuda STOVIA seperti Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeradji untuk membangun organisasi modern sebagai alat perjuangan.
Mereka mendobrak sekat feodalisme dan etnis, lalu melahirkan Boedi Oetomo sebagai simbol kebangkitan nasional. Dari titik itulah kesadaran sebagai satu bangsa mulai tumbuh.
Bung Karno kemudian melanjutkan semangat itu menjadi gerakan politik nasional yang lebih besar. Ia melihat Kebangkitan Nasional 1908 sebagai fondasi lahirnya Nationale Geest atau jiwa nasional, yang berkembang menjadi Nationale Wil (kehendak nasional), hingga bermuara pada Nationale Daad berupa Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Bahkan, Bung Karno menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada 1948 untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah ancaman perpecahan akibat agresi Belanda dan konflik internal.
Pancasila dan Trisakti sebagai Jalan Kebangkitan
Baca juga : Sambut Hari Kebangkitan Nasional, Pemerintah Percepat PSEL Dan BBM Terbarukan
Makna Kebangkitan Nasional tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Pancasila dan ajaran Trisakti Bung Karno. Pancasila menjadi pandangan hidup bangsa sekaligus fondasi moral pembangunan nasional.
Sila Persatuan Indonesia menegaskan pentingnya persatuan sebagai syarat utama menjaga kedaulatan bangsa. Sementara sila keadilan sosial menjadi arah perjuangan untuk menciptakan kesejahteraan yang merata.
Bung Karno juga mewariskan ajaran Trisakti, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Prinsip gotong royong menjadi energi utama kebangkitan bangsa.
Semangat itulah yang dinilai relevan untuk menghadapi tantangan Indonesia saat ini. Bangsa Sedang Menghadapi Ujian Berat Indonesia kini berada dalam fase penuh tantangan.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS, tingginya inflasi pangan, naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), hingga ancaman pengangguran dan krisis iklim menjadi ujian serius bagi ketahanan nasional.
Melemahnya rupiah berdampak langsung terhadap biaya impor bahan baku industri dan pangan. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok terus naik sehingga daya beli masyarakat semakin tertekan.
Kelangkaan dan kenaikan harga BBM juga memicu lonjakan biaya transportasi dan distribusi barang, yang akhirnya membebani masyarakat.
Selain itu, tantangan struktural seperti disrupsi teknologi, kerusakan lingkungan, hingga praktik korupsi dinilai masih menjadi hambatan besar bagi pembangunan nasional.
Kebangkitan Baru untuk Indonesia Emas
Dalam menghadapi situasi tersebut, bangsa Indonesia dinilai membutuhkan kebangkitan nasional jilid baru yang bertumpu pada kekuatan sendiri. Langkah pertama adalah membangun ekonomi berdikari melalui penguatan ketahanan pangan dan energi nasional.
Ketergantungan terhadap impor harus dikurangi dengan memperkuat sektor pertanian, energi terbarukan, serta industri domestik.
Baca juga : Nestle Dancow Dorong Semangat Belajar Anak Lewat Indonesia Cerdas Season 2
Sebagai bentuk dukungan terhadap program kedaulatan pangan nasional, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menginstruksikan kader partainya menanam tanaman pangan selain beras di seluruh Indonesia.
Penulis juga mengaku telah menanam jagung di lahan miliknya di Gianyar, Bali, bersama kelompok tani setempat.
Selain itu, semangat gotong royong harus diperkuat melalui dukungan terhadap UMKM, koperasi, dan penggunaan produk dalam negeri sebagai bentuk bela negara modern.
Di sisi lain, reformasi birokrasi dan penegakan hukum dinilai harus dilakukan secara serius. Pemimpin, menurutnya, harus berani mengakui masalah rakyat secara terbuka dan siap menerima kritik demi perbaikan kebijakan.
“Kritik tidak boleh dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai vitamin penyehat demokrasi dan kompas moral kebijakan,” tulisnya.
Menjemput Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa kerja keras dan persatuan nasional.
Kebangkitan Nasional 1908, Proklamasi 1945, dan visi Indonesia Emas 2045 disebut sebagai satu garis sejarah yang saling berkaitan.
Generasi muda diharapkan menjadi manusia unggul yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kokoh secara ideologi dan berakar pada nilai-nilai Pancasila.
Tantangan ekonomi, pangan, hingga energi harus dijadikan pemicu inovasi nasional, termasuk pengembangan teknologi energi alternatif dan pertanian modern.
Hari Kebangkitan Nasional, menurut penulis, harus menjadi momentum pembalikan nasional untuk bangkit lebih kuat menghadapi tantangan zaman.
Baca juga : Menkomdigi Kecam Penahanan Jurnalis Indonesia Dalam Misi Kemanusiaan Gaza
Selama api Trisakti masih menyala di dada setiap insan Indonesia dan Pancasila tetap menjadi detak jantung kehidupan berbangsa, Indonesia akan bangkit lebih kuat menuju Indonesia Emas 2045.
Mari kita singsingkan lengan baju. Rapatkan barisan, eratkan jemari dalam ikatan gotong royong yang tidak tergoyahkan.
Biarlah badai krisis global menerpa, namun selama api Trisakti masih menyala di dalam dada setiap insan Indonesia, selama Pancasila masih menjadi detak jantung kehidupan berbangsa kita, maka kita akan bangkit lebih kuat, berlari lebih cepat, dan berdiri lebih tegak.
Di atas tanah air ini, di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih, kita proklamasikan kembali semangat 1908: Kita belum kalah, kita sedang diuji, dan kita pasti akan bangkit menang memimpin peradaban dunia menuju Indonesia Emas 2045!
Sebab Kebangkitan adalah takdir kita, dan Kejayaan adalah masa depan kita!
Oleh: Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH.
(Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan dan Ketua Umum IKA Doktor Hukum UKI)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya