Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RI-Singapura Tetangga Dekat
Azis Subekti: Indonesia Harus Jaga Nilai Tambahnya Sendiri
Sabtu, 13 Juni 2026 07:03 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Hubungan Indonesia dan Singapura dinilai sedang memasuki fase baru. Bukan sekadar hubungan dagang atau investasi, tetapi hubungan dua negara bertetangga yang sama-sama sedang menyesuaikan diri dengan perubahan besar ekonomi kawasan.
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengatakan, Indonesia dan Singapura memiliki hubungan yang sangat panjang. Kedua negara bukan hanya dekat secara geografis, tetapi juga terhubung oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan hubungan antarmasyarakat.
“Indonesia dan Singapura itu seperti tetangga yang rumahnya sangat dekat. Hubungannya panjang, saling membutuhkan, tetapi justru karena terlalu dekat, kadang ada panas dinginnya,” kata Azis dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Azis, jauh sebelum batas negara modern terbentuk, kawasan Selat Malaka sudah menjadi jalur peradaban. Pedagang dari berbagai wilayah Nusantara bergerak melalui perairan yang sama. Bahasa, budaya, dan tradisi saling memengaruhi.
Namun dalam perjalanan modern, Indonesia dan Singapura berkembang dengan karakter berbeda. Indonesia lahir dari revolusi dan kesadaran sebagai bangsa besar. Singapura tumbuh sebagai negara kecil yang harus cermat membaca perubahan dunia.
“Yang satu belajar mengelola kelimpahan, yang satu belajar mengelola keterbatasan. Dua-duanya punya kekuatan masing-masing,” ujarnya.
Baca juga : BRI Raih Penghargaan Best Private Bank di Indonesia Versi Global Private Banker
Azis menilai perbedaan itu membuat hubungan kedua negara unik. Indonesia memiliki pasar besar, sumber daya alam melimpah, dan posisi strategis. Singapura memiliki kekuatan pada jasa keuangan, perdagangan, logistik, dan akses ke jaringan global.
Namun, kata dia, hubungan yang erat tidak boleh membuat Indonesia abai terhadap pertanyaan penting: seberapa besar nilai ekonomi yang lahir dari Indonesia benar-benar kembali kepada Indonesia?
Dia menyoroti sejumlah isu yang selama ini kerap muncul di ruang publik, mulai dari banyaknya perusahaan Indonesia yang mendirikan holding di Singapura, investasi asing yang masuk ke Indonesia melalui Singapura, hingga dugaan praktik transfer pricing, profit shifting, dan under invoicing.
“Pertanyaannya sederhana, nilai yang lahir dari Indonesia itu tinggal di Indonesia atau justru berputar dulu di luar negeri? Ini yang harus dijawab dengan tata kelola yang lebih kuat,” tegas Azis.
Azis mengatakan, berbagai dugaan manipulasi nilai ekspor komoditas harus ditempatkan dalam koridor hukum. Jika terbukti, praktik semacam itu bukan hanya merugikan administrasi perpajakan, tetapi juga mengurangi nilai tambah nasional.
Menurut dia, setiap rupiah yang hilang dari potensi penerimaan negara berarti berkurangnya ruang fiskal untuk membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial.
Baca juga : Menggali Kedekatan Historis Indonesia Dan Cape Town
Karena itu, Azis mendukung langkah pemerintah memperkuat hilirisasi, memperbaiki pengawasan ekspor, menata sumber daya alam, memburu kebocoran fiskal, dan memperdalam sistem keuangan nasional.
“Ini bukan permusuhan kepada siapa pun. Ini proses alami bangsa besar yang ingin berdiri lebih tegak di atas kaki sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan, Indonesia tidak boleh selamanya hanya menjadi pemasok bahan mentah. Indonesia harus naik kelas dalam rantai nilai global.
“Indonesia tidak lagi cukup hanya menjual nikel, tetapi harus menjual baterai. Tidak cukup hanya menjual CPO, tetapi harus menjual produk turunannya. Kita tidak boleh hanya menjadi tempat produksi, tetapi harus menjadi pusat pertumbuhan,” kata Azis.
Meski demikian, Azis mengingatkan agar publik tidak mudah terjebak pada pandangan ekstrem. Menurut dia, tekanan pasar, fluktuasi rupiah, dan dinamika investasi tidak selalu dapat dibaca sebagai konspirasi.
Namun, pasar juga tidak bisa dianggap sepenuhnya netral dari kepentingan. “Realitasnya ada di tengah. Setiap perubahan besar pasti menimbulkan gesekan. Itu harga yang harus dibayar bangsa yang sedang bertransformasi,” ujarnya.
Baca juga : Kaesang Nobar Timnas Indonesia Vs Oman dengan Gubernur Sumsel
Azis menilai hubungan Indonesia dan Singapura ke depan akan ditentukan oleh kemampuan kedua negara menjaga kepercayaan. Singapura perlu memahami bahwa Indonesia yang lebih kuat bukan ancaman. Sebaliknya, Indonesia juga perlu membangun kekuatan ekonominya dengan tata kelola yang bersih dan institusi yang kuat.
Ia mengingatkan pepatah lama masyarakat Nusantara: jangan memancing di air keruh. “Tetangga yang baik bukan yang paling cepat mengambil keuntungan ketika rumah sebelah sedang direnovasi. Tetangga yang baik memahami bahwa satu kawasan hanya akan aman kalau semua rumah di dalamnya berdiri kokoh,” kata Azis.
Menurutnya, masa depan Indonesia dan Singapura tidak boleh dibangun di atas saling curiga, melainkan kejujuran dan kemauan untuk tumbuh bersama.
“Indonesia yang kuat tidak akan menjadi ancaman bagi Singapura. Justru tetangga yang makmur, percaya diri, dan berdiri tegak adalah jaminan terbaik bagi stabilitas kawasan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya