Dark/Light Mode

Cek Endra Dukung E10 untuk Kurangi Impor BBM dan Perkuat Ekonomi Rakyat

Kamis, 23 Juli 2026 13:51 WIB
Foto: Fraksi Golkar DPR.
Foto: Fraksi Golkar DPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Cek Endra, mendukung target pemerintah mengimplementasikan bahan bakar campuran bioetanol 10 persen (E10).

Menurutnya, program tersebut menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat melalui pengembangan industri bioetanol berbasis sumber daya dalam negeri.

Cek Endra mengatakan, tingginya kebutuhan BBM nasional harus diimbangi dengan peningkatan pemanfaatan energi yang diproduksi di dalam negeri. Karena itu, pengembangan bioetanol dinilai menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi energi nasional.

Baca juga : PLN Indonesia Power Dukung Streamlining untuk Perkuat Layanan O&M

Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berpotensi mengurangi tekanan terhadap impor BBM dan pengeluaran devisa negara, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian dan industri nasional.

"Kami mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang kemudian diimplementasikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam mempercepat implementasi program E10. Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui pengembangan industri bioetanol nasional," kata Cek Endra, Kamis (23/7/2026).

Ia menilai, pengembangan bioetanol akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional karena melibatkan berbagai mata rantai usaha, mulai dari sektor pertanian, industri pengolahan, transportasi, logistik, hingga perdagangan.

Baca juga : Pengamat Dukung Kritik Ke Presiden, Tapi Bukan Penghinaan

Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga petani, koperasi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat di daerah penghasil bahan baku bioetanol.

Cek Endra menyebut, sejumlah daerah sentra tebu dan penghasil molases, seperti Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, memiliki peluang besar menjadi bagian dari pengembangan industri bioetanol nasional.

Melalui investasi industri pengolahan di daerah, program E10 diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat perekonomian daerah.

Baca juga : Menhut Andalkan Drone untuk Perkuat Pengawasan Kawasan Hutan

"Program E10 bukan hanya kebijakan energi, tetapi juga strategi membangun ekonomi rakyat yang berkelanjutan. Ketika bahan baku diproduksi petani, diolah oleh industri nasional, dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, maka manfaat ekonominya akan berputar di dalam negeri dan dinikmati masyarakat," ujarnya.

Ia menegaskan, Komisi XII DPR RI akan terus mengawal implementasi program E10 agar berjalan secara bertahap dengan dukungan kepastian investasi, penguatan industri bioetanol nasional, serta sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, dan petani.

"Kami optimistis program E10 akan menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi impor BBM, menghemat devisa negara, memperkuat hilirisasi komoditas pertanian, serta mewujudkan ekonomi nasional yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan," tutup legislator dari daerah pemilihan Jambi tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.